42

1.7K 172 16
                                        

RIVER'S POV

Aku duduk termenung di tepi pantai, menatap hiasan bunga putih yang tertata rapi di dekat altar. Beberapa tamu sudah duduk di kursi mereka, mengenakan pakaian terbaik. Pernikahan ini berlangsung secara sangat sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga Kiara dan keluarga Michael.

Dari kejauhan, aku memperhatikan semuanya. Udara pagi terasa lembut, menyatu dengan suara ombak yang memecah di bibir pantai. Angin laut berhembus pelan, menyapu rambutku hingga berantakan, membuat pikiranku melayang entah ke mana.

Saat aku masih terpaku pada altar yang masih kosong, seseorang datang menghampiri dan duduk di sebelahku.

"Aku gak nyangka Kiara akan menikah dengan Michael dan melupakan kamu secepat itu," katanya pelan sambil menatap altar yang sama.

Aku menoleh sejenak, lalu kembali menatap laut. Rasanya ingin tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu, sementara dulu dia pernah melakukan hal yang sama padaku? Bedanya, pernikahan Kiara dengan Michael adalah bagian dari rencana yang aku dan Kiara buat bersama. Sedangkan pernikahan Davina dengan Michael dulu... itu luka besar yang pernah aku dapatkan.

"Aku tahu aku salah," lanjutnya lirih. "Dulu aku ninggalin kamu demi Michael. Tapi sekarang aku sadar, gak ada orang yang begitu mencintai aku seperti kamu dulu."

Aku menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku kira kamu udah lupa pernah melakukan hal yang sama seperti ini."

Davina terdiam sejenak, lalu menggenggam tanganku. "Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Please, kasih aku kesempatan sekali lagi."

Aku menatapnya dalam diam. Tatapan matanya terlihat tulus, tapi di hatiku sudah tidak ada lagi ruang untuknya. Tidak ada lagi perasaan yang dulu pernah ada. Aku sadar, bahkan jika ini adalah kenyataan dan Kiara benar-benar berakhir bersama Michael, aku tidak akan pernah kembali pada Davina. Bagiku, kalau bukan dengan Kiara, aku lebih baik sendiri.

Aku mengalihkan pandangan ke altar. Di sana, Michael sudah berdiri tegak dengan jas biru yang rapi, dan tampak sangat percaya diri. Dari kejauhan, aku melihat Kiara berjalan pelan bersama Papanya. Langkahnya anggun, wajahnya tenang, seolah semuanya memang harus terjadi.

"River..." suara Davina memanggilku, membuat pandanganku teralihkan.

"Semua udah terjadi, kamu memilih untuk pergi dan ninggalin aku gitu aja. Lalu aku ketemu Kiara, orang yang lebih bisa menghargai keberadaanku dibanding kamu." jawabku.

Davina menatapku dengan mata memerah. "Tapi sekarang dia juga ninggalin kamu. Bahkan lebih tega dari aku."

Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Ya, mungkin kamu benar," kataku pelan. "Tapi kalau aku gak bisa bersama Kiara, aku gak akan bersama siapa pun. Termasuk kamu."

Aku berdiri, menepuk bahunya perlahan, lalu melangkah pergi mendekati altar. Angin kembali berhembus, membawa aroma laut yang dingin dan pahit, seolah ikut menyaksikan permainan takdir yang sedang berlangsung di depanku.

Ketika pendeta mulai memimpin janji suci dan Michael bersiap mengulangi ucapannya, suasana tiba-tiba berubah. Clarissa datang menghampiri altar, langkahnya mantap diikuti beberapa polisi berseragam. Wajah para tamu seketika berubah panik.

"Apa-apaan ini?" seru Michael dengan nada tinggi, mencoba memberontak saat dua polisi mendekat dan menahannya.

Salah satu dari mereka menunjukkan surat perintah sambil berkata, "Anda ditahan atas dugaan kasus penipuan. Mohon ikut kami ke kantor."

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Beberapa orang berdiri, mencoba melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi. Aku memperhatikan dari tempat duduk, dan ketika Michael berjalan melewatiku dalam kondisi terborgol, aku memberikan senyum kecil. Hanya sekejap, tapi cukup membuatnya sadar bahwa ini bukanlah kebetulan.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang