Aku terkejut ketika mendapati diriku sudah berada di dalam kamar apartemenku dengan pakaian yang sudah berganti. Tunggu... siapa orang yang dengan lancangnya berani menggantikan pakaianku.
Sial...
Kepalaku berdenyut, dan aku tak bisa sepenuhnya mengingat apa yang terjadi. Seingatku, kemarin aku pergi ke acara pertunangan Michael dan... mengacaukannya?
Tunggu... aku bilang apa barusan? Aku mengacaukannya? Apa benar aku mengacaukannya? Dengan kecepatan setara The Flash, aku mencari ponselku yang ternyata ada di atas meja. Mataku mulai melebar ketika melihat beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari sahabatku.
Saat aku membaca pesan itu, tiba-tiba saja dia menghubungiku. Sudah pasti dia menungguku sejak tadi untuk membaca semua pesannya.
"KIARAAAA ANGKASAAAA!!!" aku refleks menjauhkan ponsel dari telinga. Teriakannya yang nyaring dan melengking hampir membuat gendang telingaku pecah. "Apa lo udah gila?! Lo gak mikir perbuatan lo kemarin itu kelewatan."
Aku yang masih bingung mencerna maksudnya hanya diam saja tanpa bersuara.
"Gue di depan apartemen lo, bukain pintu sekarang!" perintahnya lagi.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang mulai terkumpul, aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tepat di depanku kini berdiri seorang perempuan yang seumuran denganku. Dia adalah Gia, sahabatku. Hampir seumur hidupku, aku sudah mengenalnya.
Perkenalkan, namaku Kiara Angkasa, aku baru memasuki quarter life crisis tahun ini. Yup benar, aku baru menginjak usia 25 tahun. Aku bekerja sebagai Event Organizer bersama Gia yang menjadi partner bisnisku.
"Ki, lo dengerin gue ngomong gak sih?" Gia mengguncang kedua bahuku dan seketika membuatku tersadar.
"Hah?"
"Lo minum berapa botol sih semalam? Malah jadi linglung begini."
"Dikit doang, Gi. Lagian lo ngapain sih? Masih pagi udah ribut aja di depan muka gue."
"Nih lo lihat," Gia menunjukkan sebuah video dimana aku sedang mengamuk tidak karuan. Mataku membesar ketika melihat itu, jadi aku benar-benar mengacaukan acara itu.
Namun sesaat yang menjadi perhatianku adalah seseorang yang menuntunku keluar, entah kenapa aku terlihat menurut saat dia menarik tanganku. Berbeda ketika dua penjaga berbadan besar itu yang melakukannya.
Dia berjalan begitu tenang ketika meninggalkan acara pertunangan yang sudah aku kacaukan itu. Video pun berhenti setelah aku dan perempuan misterius itu terhalang oleh pintu besar.
Kepalaku kini menjadi lebih pening. Apa yang mengantarku pulang adalah orang itu? Apa dia juga yang menggantikan pakaianku. Tapi bagaimana mungkin dia tahu tempat tinggalku. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali.
"Ki! Hello!" Gia kembali menyadarkan lamunanku.
"Gue beneran ngelakuin itu?" tanyaku memastikan.
"Ya menurut lo? Di video ini udah jelas. Lagian ngapain sih Ki?"
"Bagus deh, tuh cewek emang pantes dibikin malu karena udah berani berurusan sama gue." ucapku enteng seakan aku tidak bersalah sama sekali. Ya memang aku tidak bersalah.
"Lo serius cuma nyalahin ceweknya doang? Gimana kalau emang Mike yang mulai duluan? Lo gak usah munafik di depan gue, selama lima tahun lo pacaran sama Mike, udah tujuh kali lo nangis di depan muka gue sambil ngomong kalau Mike selingkuh sama modelnya."
Apa yang dikatakan Gia tidak sepenuhnya salah, bahkan dia memang benar. Selama lima tahun aku menjalin hubungan dengan Michael, dia memang sudah sangat sering berselingkuh. Tapi entah kenapa aku benar-benar mencintainya dan selalu memaafkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AcakSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
