13

5K 383 11
                                        

RIVER'S POV

Ternyata, aku tidak sepenuhnya salah memberikan nama Walkie Talkie pada Kiara. Dia memang sangat cocok dengan nama itu. Selama satu minggu ini, dia tidak pernah absen menggangguku di proyek, dengan tingkahnya yang seperti anak kecil overdosis gula. Mulai dari membuntutiku saat aku mengecek material, sampai mengoceh tak henti-henti tentang hal-hal yang tidak penting.

Tapi hari ini, suasananya berbeda. Sudah hampir jam makan siang, tapi Kiara belum juga muncul. Biasanya, pada jam seperti ini, dia sudah berdiri di depan proyek dengan senyum jahilnya. Aku melirik keluar proyek, menengok ke sekeliling jalan, berharap melihat tanda-tanda kehadirannya. Tapi nihil.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengabaikan perasaan ganjil yang entah dari mana datangnya. Mungkin dia sibuk, pikirku. Aku berbalik dan masuk ke dalam proyek untuk kembali bekerja. Tapi baru beberapa langkah, sosok yang aku pikirkan tiba-tiba muncul di depanku, dengan senyum jahil khasnya.

"Boom," ucapnya dengan cara mengagetkanku. "Lo nyariin gue kan?"

Aku mencoba menyembunyikan raut wajahku agar tidak terlihat terlalu senang dengan kehadirannya disini, "Siapa juga yang nyariin kamu, gak usah GR jadi orang."

"Terus ngapain tadi lo celingak-celinguk di luar? Udah, ngaku aja, lo nyariin gue, kan?" katanya sambil menunjukku dengan gaya sok menang.

Aku mendengus pelan, lalu berjalan melewatinya. "Jangan mimpi," gumamku, mencoba menutupi kenyataan.

"Riv, makan siang yuk?" katanya tiba-tiba. Aku berhenti berjalan dan menoleh. Jujur saja, aku memang sedang lapar. Tapi apa aku harus menerima ajakannya dengan cepat.

"Yuk..." katanya lagi, lebih mendesak. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menarik tanganku. Aku tidak sempat menolak dan hanya menurut sambil menghela napas panjang. Kiara mengajakku ke sebuah kafe yang tidak jauh dari proyek tempatku.

"Lo mau makan apa?" tanyanya sambil menyodorkan menu.

"Bebas..."

Kiara mengangkat sebelah alisnya, senyum jahilnya muncul seketika. "Oke, kalau gitu gue pesenin cireng."

"Mana kenyang, Ki." protesku.

"Ya terus lo maunya apa? Jangan bikin Mama marah, deh." katanya sambil berkacak pinggang di depanku.

Seketika aku hampir menyemburkan tawaku saat Kiara menyebut dirinya Mama.

"Ketawa aja sih, Riv. Lo gak bakal mati kalau ketawa."

Aku tidak lagi menanggapinya dan memilih makanan yang aku inginkan "Ayam bakar aja."

"Minumnya? Lo gak mau minum? Seret loh entar. Gue gak mau bagi minuman gue."

"Es teh tawar aja." jawabku pelan sedikit frustasi.

"Oke, satu ayam bakar dan es teh tawar untuk si Es Kutub." Kiara berdiri dan berjalan ke kasir. Tapi sebelum pergi, dia menoleh dan berkata sambil menggerakkan jari telunjuknya, "River gak boleh kemana-mana ya. Mama cuma sebentar."

Aku hanya menggeleng pelan, jujur saja aku tidak bisa menahan diri dari untuk tidak tersenyum melihat tingkah lakunya yang selalu saja berlebihan tapi entah kenapa... menyenangkan.

*****

Saat makanan tiba satu per satu, Kiara tampak begitu bersemangat. Aku mengamati beberapa menu yang dia pesan, benar-benar tidak masuk akal. Jumlahnya cukup untuk tiga orang, sementara kami hanya berdua.

"Ini gak salah?" tanyaku, memandang makanan yang melimpah di meja.

"Nggak dong." Dia menatapku dengan ekspresi polos. "Kan gue laper, lo juga laper. Jadi kita harus makan yang banyak."

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang