RIVER'S POV
Tinnn!
Aku menekan klakson dengan keras ketika mobil di depanku berhenti mendadak tanpa alasan jelas. Refleks, kakiku menginjak rem, tapi sudah terlambat, bumper depanku menghantam bagian belakang mobilnya.
Aku sedikit menggerutu lalu turun dari mobil, sekedar untuk mengecek kerusakan daripada peduli pada si pengemudi. Jujur saja, emosiku mulai naik. Siapa pun yang mengemudi seperti ini jelas tidak memikirkan pengendara lain.
Namun, saat aku mulai melihat kerusakan mobilku, sebuah suara memanggil namaku, membuatku tertegun.
"River?"
Aku menoleh. Mata kami bertemu, dan waktu rasanya berhenti.
"Davina..." gumamku, suara itu nyaris tak terdengar di tengah kebisingan jalan.
Aku menatapnya beberapa detik, mencoba memahami kenapa semesta begitu iseng mempertemukan kami disini. Tapi aku tidak punya energi untuk menghadapinya, apalagi sekarang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik, masuk ke dalam mobilku, dan pergi begitu saja.
Sesaat sebelum mobilku menjauh, aku melirik kaca spion. Davina masih berdiri di sana, diam memandangi mobilku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tapi aku tidak peduli dan terus melajukan mobilku.
Setelah menembus kemacetan ibu kota yang melelahkan, akhirnya aku tiba di lokasi proyek baru. Langkahku langsung tertuju pada rutinitas seperti biasanya, memeriksa material, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, dan memberi arahan kepada para tukang.
Ketika aku sedang sibuk mengatur beberapa detail, suara yang sangat familiar menyebut namaku. Aku menoleh, dan benar saja—Davina.
Untuk sesaat pikiranku penuh dengan tanda tanya. Apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia sengaja mengikutiku sampai ke tempat ini?
"Riv, aku mau bicara," katanya, suaranya terdengar goyah. Sebuah ekspresi yang jarang sekali kulihat darinya. Selama aku mengenalnya, Davina selalu tampil percaya diri, bahkan cenderung angkuh.
"Aku sibuk," jawabku singkat, berusaha untuk tidak menghiraukannya.
"Kamu bisa tinggalin sebentar, kan?"
"Gak bisa."
"Owner proyek ini temanku. Aku yakin dia gak masalah kalau aku pinjam kamu sebentar," katanya dengan nada meyakinkan.
Aku mendesah berat, menatapnya dengan tajam. Ada sesuatu yang berbeda dari Davina hari ini, tapi aku tidak tertarik untuk mencari tahu. Namun, dia tidak akan pergi jika aku terus mengabaikannya. Akhirnya, dengan enggan, aku mengikutinya ke sudut ruangan yang sepi.
"Kamu benci sama aku?" tanyanya tiba-tiba, tanpa basa-basi.
Aku mendengus kecil, memalingkan wajah. "Kamu tahu jawabannya. Jadi buat apa bertanya lagi?"
"Riv..."
"Aku lagi kerja, Davina," potongku dengan tegas. "Kalau gak ada hal penting, lebih baik kamu pergi."
Dia tampak ragu, seperti sedang mencoba menyusun kata-kata. "Ada hal yang harus kamu tahu tentang aku dan Mike."
"Gak perlu," potongku sekali lagi dengan suara lebih dingin.
"Riv, aku—"
Aku tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan. Tanpa berpaling, aku melangkah pergi, kembali ke pekerjaanku. Aku tidak punya waktu untuk drama masa lalu yang sudah kubuang jauh-jauh.
Meski begitu, aku bisa merasakan tatapannya yang masih mengikuti langkahku. Tapi aku memilih untuk tidak peduli. Aku punya hal-hal yang lebih penting untuk diurus daripada mendengarkan alasan yang sudah tidak relevan dalam hidupku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AcakSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
