AUTHOR'S POV
Air mata mulai menggenang dan akhirnya terjun dengan deras di pipi Kiara. Isakannya tertahan seakan dia tidak ingin siapapun mengetahui kalau dia sedang hancur. Michael yang memperhatikan Kiara hanya tersenyum penuh kemenangan. Dia benar-benar merasa kalau permainan ini sudah dimenangkan olehnya.
Prang!!!
Kiara dan Michael terkejut ketika mendengar suara pecahan kaca mobil mereka. Dengan emosi yang tidak tertahan, Michael mengumpat lalu turun dari mobilnya.
"Anak sialan!" ucapnya sambil menutup kasar pintu mobilnya.
Seolah mendapat kesempatan ketika Michael meninggalkan mobil, Kiara segera mencari sesuatu yang harus ia temukan di dalam kendaraan itu. Ia meraba kantong belakang jok, membuka setiap kompartemen, menelusuri laci dasbor, hingga memeriksa tas yang selalu dibawa Michael ke mana pun. Namun hasilnya nihil. Barang yang ia cari tidak juga ditemukan.
Beberapa menit kemudian, Michael kembali setelah memarahi anak-anak yang memecahkan kaca mobilnya. Wajah Kiara tampak menegang, tetapi Michael sama sekali tidak menaruh curiga.
Kiara berpikir sejenak. Jika barang itu tidak ada di dalam mobil, berarti Michael selalu membawanya. Ia segera teringat pada jas yang dikenakan pria itu. Seketika pikirannya bekerja keras mencari cara agar bisa menggeledah jas tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan.
Kiara menarik napas sejenak lalu mulai melancarkan aksinya. Ia mendekat, mencium pipi Michael dengan lembut, gerakan yang membuat Michael bereaksi spontan, merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan.
Michael mencoba membalas, berusaha mendekat untuk mencium bibir Kiara. Namun dengan cepat, Kiara menghindar. Dengan nada lembut dan sedikit menggoda, ia berbisik, "Bagaimana kalau kita lanjut di apartemenku aja?" bisikan itu membuat wajah Michael tampak semakin terbakar gairah.
Tanpa berpikir dua kali, Michael memacu mobilnya menuju apartemen Kiara. Setibanya di sana, ia tampak terburu-buru, menarik tangan Kiara dan melangkah cepat menuju pintu. Begitu mereka masuk, Michael langsung mengapit tubuh Kiara ke dinding. Namun Kiara masih berusaha menahannya.
Ia mencoba melepaskan jas yang dikenakan Michael, tapi pria itu mundur selangkah lalu melepas jasnya sendiri dan menggantungnya di dekat pintu. Kiara menatapnya sambil tersenyum, mencoba tetap tenang.
Saat Michael hendak mencium bibirnya, Kiara segera mendorong wajahnya dan berjalan ke arah dapur. "We need some wine," ucap Kiara pelan, lalu membuka kulkas, mengambil sebotol wine, dan menuangkannya ke dua gelas. Ia menyerahkan salah satunya kepada Michael.
Tanpa ragu, Michael menerimanya dan meneguk habis isinya dalam satu kali minum. Hasrat di wajahnya kian jelas. Ia mendekat lagi, menindih tubuh Kiara hingga Kiara kewalahan melawan kekuatannya. Dalam hati, Kiara hanya bisa berdoa agar obat yang telah ia campurkan ke wine itu segera bereaksi sebelum Michael sempat menyentuhnya.
Ia mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga... hingga sepuluh.
Tepat pada hitungan kesepuluh, tubuh Michael ambruk di atasnya. Dengan susah payah, Kiara mendorong tubuh berat itu hingga terhempas ke samping. Ia melambaikan tangan di depan wajah Michael untuk memastikan pria itu benar-benar tidak sadarkan diri.
Ketika Kiara sudah yakin, tiba-tiba seorang wanita keluar dari kamar. "Sial, aku udah deg-degan aja kalau obat itu gak berfungsi," ucapnya santai sambil membawa sebilah pisau.
Kiara sontak terkejut melihat benda itu di tangan wanita yang baru saja keluar dari kamarnya. "Eh... mau ngapain lo?" tanya Kiara cepat sedikit melangkah mundur.
"Tenang aja, Ki. Aku cuma jaga-jaga tadi," jawab wanita itu sambil meletakkan pisaunya di meja. Ia lalu berjalan mendekat. "Kamu gak apa-apa, kan?"
Kiara mengangguk pelan. "Sekarang kita harus ngapain, Clarissa?" tanyanya.
Yep, wanita itu adalah Clarissa. Orang yang merencanakan semuanya, dan juga orang yang sempat ditemui Kiara beberapa waktu lalu di Hotel Lunar.
Clarissa mulai menggeledah jas Michael dengan hati-hati. Dari saku bagian dalam, ia menemukan sebuah flashdisk, benda yang selama ini dicari oleh Kiara. Tanpa membuang waktu, Clarissa menyalin seluruh isi file di dalamnya, lalu mengembalikan flashdisk itu ke tempat semula.
"Risa, ini Face ID-nya gak bisa. Matanya gak mau melek," keluh Kiara kesal sambil menggoyang-goyangkan ponsel Michael yang terkunci. "Apasih pin hapenya," gumamnya dengan nada jengkel.
Clarissa menahan tawa melihat Kiara yang tampak gelisah dan lucu di saat bersamaan. "Cowok alay kayak Mike gak bakal bikin pin yang susah," ujarnya ringan. "Coba aja tanggal lahir kamu. Dia kan obsesi banget sama kamu."
Kiara mencoba memasukkan tanggal lahirnya, namun hasilnya tetap gagal. Ia mengembuskan napas keras dan memutar bola matanya. "Salah," ucapnya pendek.
Clarissa hanya terkekeh kecil, seolah menikmati kekesalan Kiara. "Kalau begitu, coba tanggal jadian kalian berdua," katanya dengan nada menggoda.
Kiara langsung menoleh dengan ekspresi tidak suka. Ingatan itu bukan sesuatu yang ingin ia kenang. Baginya, pernah menjalin hubungan dengan Michael adalah aib besar yang seharusnya sudah dikubur dan dilupakan.
Namun pada akhirnya, Kiara harus mengakui bahwa tebakan Clarissa benar. Ternyata, pin ponsel Michael adalah tanggal jadian mereka dulu.
"Ternyata masih diingat. Aku kira udah lupa," ujar Clarissa sambil tertawa kecil.
Kiara hanya menunduk, wajahnya memerah karena malu mengingat masa lalu yang sebenarnya ingin ia hapus dari ingatannya.
Setelah ponsel berhasil terbuka, mereka mulai menelusuri seluruh isi ponsel itu. Di dalamnya, mereka menemukan beberapa file dan pesan penting yang bisa menjadi bukti untuk rencana mereka selanjutnya.
Tak ingin kehilangan waktu, Kiara dan Clarissa segera menyusun siasat. Mereka mengangkat tubuh Michael yang tak sadarkan diri ke kamar Kiara dengan sangat susah payah, mengingat postur tubuh Michael yang lumayan besar, lalu menanggalkan kemeja dan celananya hingga hanya tersisa celana pendek. Semuanya dilakukan agar seolah-olah Michael dan Kiara benar-benar telah melakukan sesuatu di kamar itu.
Setelah memastikan semuanya terlihat meyakinkan, Clarissa bersiap pergi. Ia mengambil tasnya lalu menyerahkan sebuah semprotan cabai kepada Kiara.
"Buat jaga-jaga, kalau dia macam-macam," katanya sambil menatap Kiara dengan serius.
Kiara menerima semprotan itu tanpa banyak bicara. Sesaat kemudian, Clarissa keluar dari apartemen, meninggalkan Kiara sendirian bersama Michael yang masih terbaring tak sadarkan diri.
*****
Di sisi lain, Gia baru saja meninggalkan rumah River. Ia masih terlihat begitu prihatin dengan keadaannya yang malang. Dalam hatinya, Gia kembali menyayangkan sikap sahabatnya, Kiara, yang menurutnya telah membuat keadaan menjadi serumit ini.
Setelah Gia pergi, River duduk sendirian di ruang tamu. Ia menghapus sisa air mata di pipinya, mengusap wajah pelan, lalu menyalakan televisi di depannya. Dari layar, terdengar lagu lembut yang membuat suasana malam terasa lebih sunyi. River mulai bersiul pelan, mengikuti irama lagu yang terdengar, seolah apa yang baru saja terjadi tidak meninggalkan luka apa pun.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Davina muncul di layar. River menatapnya sebentar sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
"Ya?" suaranya dibuat pelan dan lemah, seolah menahan banyak hal.
"Aku tadi lihat semuanya. Wanna drink?" suara Davina terdengar percaya diri dari seberang.
River terdiam beberapa saat, lalu akhirnya mengiyakan ajakan itu. Tak disangka, Davina ternyata sudah berada di depan rumahnya sejak tadi.
Malam itu, mereka pergi bersama ke sebuah bar di pusat kota. Di sana, Davina mulai menceritakan penyesalannya karena pernah meninggalkan River. Sementara itu, River hanya mendengarkan tanpa banyak bicara.
"Aku nyesel, Riv. Apa aku masih punya kesempatan?" tanya Davina lirih sambil menggenggam tangan River.
River tetap diam. Ia menatap Davina dengan mata yang sulit terbaca, kemudian perlahan membalas genggaman itu. "Aku butuh waktu untuk mikirin ini," ucapnya akhirnya dengan suara tenang.
.
.
.
Tunggu beberapa menit lagi ya
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
De TodoSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
