KIARA'S POV
Aku tidak pernah menyangka kalau River akan menjadi temanku setelah apa yang terjadi kemarin. Bisa aku katakan, dia adalah salah satu pendengar terbaik setelah Gia. Entah kenapa, sejak kami menghabiskan waktu di taman hiburan kemarin, bayangan River malah terus berlarian di kepalaku.
Aku duduk di meja kerjaku sambil mengecek beberapa berkas, menikmati suasana pagi yang tenang sambil menatap keluar jendela. Tanpa sadar, bibirku melengkung membentuk senyuman kecil.
"Woy, kenapa lo senyum-senyum. Ngelamun jorok ya, lo?" Suara Gia tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku mendongak, melihatnya berdiri di depanku lalu duduk dengan santai sambil meletakkan segelas kopi di meja, "Lo kenapa, Ki? Dari tadi senyum-senyum aja. Jangan bilang lo udah punya gebetan baru."
Aku terkekeh pelan sambil menggeleng. "Gue bahkan belum kepikiran buat nyari pacar baru."
Gia menatapku dengan tatapan menyelidik. "Jangan bilang lo masih berharap sama Mike?"
"Ya nggak lah," balasku cepat, "mending gue jomblo seumur hidup."
Gia tertawa sambil menepuk meja. "Omongan adalah doa, Ki. Hati-hati loh."
"Eh, pait-pait, gue cuma bercanda kali. Lagian ya, Gi, gue udah move on seratus persen dari Mike. Amit-amit gue masih berharap sama cowok modelan begitu. Big no."
"Bagus deh kalau gitu. Terus kenapa lo senyum-senyum dari tadi?"
Aku mengerutkan dahi, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Emang nggak boleh gue senyum-senyum? Ada undang-undangnya, gitu?"
Gia menyipitkan mata, jelas tidak puas dengan jawabanku. "Boleh sih, tapi pasti ada alasannya. Jangan bikin gue penasaran dong."
"Kepo lo," jawabku singkat sambil berdiri dan meninggalkan Gia yang masih duduk di ruang kerjaku.
Aku keluar dari kantor dengan perasaan gusar lalu memutuskan untuk masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk fokus pada rencana kerjaku hari ini. Tapi... entah kenapa, pikiranku malah melayang lagi.
Bayangan River muncul, dengan wajah datarnya yang selalu dingin tapi entah kenapa membuatku selalu tersenyum ketika membayangkannya. Aku menghela napas panjang, mencoba mengabaikan semuanya. Namun, tanpa sadar, tanganku justru mengarahkan setir ke kantor baru yang masih dalam proses pembangunan.
Ketika aku sampai, aku menatap gedung setengah jadi itu dari dalam mobil.
"Kenapa malah ke sini?" gumamku pelan ketika aku kembali tersadar dari pikiranku yang melayang. Ini bukan tempat yang masuk dalam rencanaku hari ini. Tapi anehnya, aku tetap memarkir mobil dan berjalan ke arah gedung setengah jadi itu.
Begitu aku melangkah masuk, suara-suara pekerja konstruksi dan denting alat berat menyambutku. Rasanya begitu familiar. Lalu, di antara keramaian itu, aku melihatnya.
River berdiri di tengah, mengenakan kemeja kerja yang dilipat sampai siku. Tangannya sibuk memegang papan clipboard, sesekali melambaikan tangan memberi instruksi kepada para pekerja. Dia tampak serius, fokus, dan tanpa kusadari, senyuman kecil muncul lagi di bibirku.
Astaga, kenapa aku malah tersenyum ketika melihatnya dari kejauhan.
Seakan sadar ada seseorang yang memperhatikannya, River menoleh. Mata kami saling bertemu. Dia menaikkan sebelah alisnya, terlihat sedikit bingung, lalu kemudian berjalan mendekat.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan nada datar, tapi bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tipis.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Ehh... cuma mau lihat progres aja," jawabku gugup, mencoba terdengar santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AléatoireSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
