KIARA'S POV
Sudah seharian ini Gia tidak berhenti memuji tindakan River. Ia benar-benar terkesan dengan keputusan River yang rela menjual rumahnya demi melunasi semua hutang orang tuaku.
"Tapi dia jual rumahnya, Gi. Tanpa bilang apa pun ke gue," ucapku pelan, masih belum bisa menerima sepenuhnya.
Gia menatapku sambil mengangkat alis. "Kalau ngomong sama lo dulu, yang ada sampai gue reinkarnasi tujuh kali pun, itu rumah gak bakal kejual."
Aku menghela napas panjang. "Gue beban banget ya, Gi? Dulu gue numpang hidup sama lo. Sekarang River harus..."
Gia langsung memotong ucapanku. "Ki, lo itu bukan beban. Jangan pernah mikir kayak gitu lagi. Apa yang River lakuin itu karena dia sayang sama lo, bukan karena kasihan. Dan lo pantes dapet perlakuan kayak gitu."
Aku tersenyum tipis, hatiku terasa tenang saat mendengarnya. "Thanks ya, Gi. Lo emang paling bisa nenangin hati gue."
Gia tersenyum bangga. "Ya iyalah. Gue kan gak kayak lo yang hobi banget bikin hati orang gundah gulana."
Aku langsung mendengus. "Mulai deh. Gi, gue kan udah minta maaf kemarin. Dendaman banget sih jadi orang."
Gia tertawa keras, lalu tiba-tiba menarikku dalam pelukannya. "Lo tahu gak, gue udah mencak-mencak dalam hati waktu lo jalan ke altar bareng bokap lo. Rasanya pengen gue tarik dari sana, terus gue bawa kabur sekalian."
Aku menatapnya tak percaya. "Lo serius mikir gitu?"
Gia mengangguk mantap. "Kalau lo gak percaya, tanya aja Orlando. Dia yang narik-narik tangan gue biar gue duduk diem di kursi. Kalau gak, bisa-bisa pernikahan lo udah batal sebelum Clarissa sama polisi dateng."
Aku terkekeh, lalu memeluknya dengan erat. "Aduh, Gi... gue jadi terharu."
Gia menepuk-nepuk punggungku pelan. "Ya udah, jangan bikin drama lagi ya, Ki. Gue udah cukup nonton hidup lo yang kayak sinetron." kami akhirnya tertawa bersama.
Aku masih tertawa bersama Gia ketika tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar. Tawa kami langsung terhenti. Kami saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Begitu sampai di depan, aku langsung melihat Davina berdiri di halaman, wajahnya penuh amarah. Ia berteriak memanggil namaku. Napasku tercekat, tapi yang keluar dari bibirku hanya helaan napas panjang. Entah apa lagi yang akan terjadi hari ini.
Begitu matanya menangkapku, Davina langsung berlari ke arahku seperti kehilangan kendali. Untung saja Gia lebih cepat. Ia segera menahan tubuh Davina sebelum sempat menyentuhku. Beberapa karyawan ikut membantu menahan Davina yang terus berontak dan berteriak.
"Kenapa kamu ambil River dari aku?!" teriaknya keras, wajahnya penuh dengan air mata dan amarah. "Kamu gak jauh lebih hebat dari aku! Aku punya segalanya, tapi kenapa River tetap memilih kamu?!"
Suasana hening sesaat. Semua orang terdiam, menatap adegan itu dengan canggung. Aku hanya berdiri di tempat, menatap Davina tanpa berkata apa-apa. Aku tidak marah. Anehnya, aku justru bisa memahami rasa sakitnya. Dulu, aku pernah berada di posisi yang sama, saat Michael memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Aku tahu rasanya.
Pelan-pelan aku menoleh ke arah Gia dan karyawan yang masih menahan Davina. "Lepasin dia," ucapku tenang.
Gia menatapku ragu. Tapi aku mengangguk, memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka pun perlahan melepaskan pegangan mereka pada Davina. Davina masih menatapku dengan napas terengah, wajahnya merah karena emosi.
"Kamu boleh memaki aku sampai kamu puas," ucapku sambil menatapnya. "Tapi setelah itu, boleh kita bicara? Hanya kamu dan aku."
Davina terdiam. Napasnya mulai melambat. Ia menatapku dengan tatapan yang lebih tenang, lalu mengangguk pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
