38

1.6K 165 18
                                        

AUTHOR'S POV

Setelah malam pertemuan itu di Hotel Lunar, Kiara seakan menjauh dari River. Tidak ada yang tahu alasan Kiara menjauh, yang pasti sudah satu minggu ini Kiara meminta waktu untuk tetap sendiri. River hanya bisa menuruti kemauan Kiara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Tentu saja River tidak tinggal diam dengan tingkah Kiara yang seperti menjauhinya. Hanya satu yang bisa dirinya lakukan, yaitu menghubungi Gia dan bertanya apa yang telah terjadi. Karena menurut River, Gia mungkin mengetahui sesuatu. River mengambil ponselnya dan menghubungi Gia. Tidak menunggu lama, Gia sudah menjawab panggilan itu.

"Halo kenapa, Riv?" tanya Gia dari ujung telepon.

River diam sejenak, seolah ragu untuk bertanya, namun akhirnya dia kembali memberanikan diri. "Hai Gi, sori aku ganggu. Kamu ada waktu sebentar? Aku perlu bicara."

Gia mengerutkan alisnya, karena tidak biasanya River menghubunginya. Gia yakin kalau ini semua pasti menyangkut Kiara yang bersikap aneh belakangan ini. "Lo mau ketemu? Atau mau bicara di telepon aja?"

"Mungkin ketemu langsung lebih baik." ucap River cepat.

Tanpa berpikir panjang, Gia menyetujui ajakan River untuk bertemu. "Okay, kebetulan gue juga lagi di luar. Lo kirimin lokasinya aja ya, nanti gue kesana."

"Thanks Gi." balas River sambil menutup teleponnya.

River menghembuskan napas perlahan lalu pergi menuju sebuah kafe yang berada tidak jauh dari lokasi proyeknya.

Sekitar lima menit River menunggu, Gia sudah datang dengan wajah yang begitu penasaran.

"Apa ini tentang Kiara?" tebaknya langsung. River sedikit terkejut lalu hanya bisa mengangguk, Gia kembali melanjutkan perkataannya. "Lo mau bilang apa?"

"Apa akhir-akhir ini ada hal yang mengganggu Kiara?" tanya River yang membuat Gia mengerutkan wajahnya.

Gia tidak langsung menjawab, tapi dia sepertinya mengetahui sesuatu yang membuat Kiara berbeda beberapa hari ini. "Maksud lo? Kenapa lo nanya gitu?"

River pun lantas menceritakan apa yang terjadi selama satu minggu belakangan ini. Bagaimana Kiara meminta agar diberikan ruang untuk sendiri, dan tidak mengatakan apapun lagi selain kata "Break".

"Udah satu minggu ini Kiara ngejauhin aku tanpa sebab." ucap River pelan seakan menahan rasa sesak di dadanya. "All she said was that she needed space. I gave her that, but somehow, I lost her anyway."

Gia menatap River yang tampak putus asa. Bagi Gia, ini adalah pertama kalinya dia melihat kerapuhan River di depan matanya. Mereka memang berteman, tapi River tidak pernah menunjukkan sisi rapuhnya kepada orang lain selain Kiara.

Air mata River jatuh tidak terbendung. Ya, dia menangis. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh manusia bernama River. Manusia yang dikenal memiliki ekspresi sedingin es kutub, kini harus menangis di samping sahabat kekasihnya itu.

"Aku benar-benar gak tahu apa yang terjadi." River mengusap air matanya lalu menatap Gia seolah-olah dia adalah orang yang tahu penyebab Kiara berubah. "Apa Kiara pernah cerita sesuatu ke kamu?"

Gia diam sejenak, matanya menatap lekat ke arah River. Dia tahu, tidak seharusnya dia mengatakan ini. Tapi melihat River hancur di hadapannya, dia merasa tidak bisa menyembunyikan ini lagi.

"Gue gak tahu Kiara bakal semarah apa sama gue kalau gue bilang ini ke elo. Tapi please, jangan pernah lo bahas ini di depan dia." ucap Gia yang membuat River menatapnya.

"Apa?" tanya River tidak sabar.

Gia mengambil napas sejenak lalu menghembuskannya pelan. Seolah apa yang dia ketahui ini tidak seharusnya diketahui River. "Lo tahu masalah hutang orang tua Kiara ke Mike?"

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang