The Chance and The Invitation

3 0 0
                                        

Like it was a private show, I know you never saw meWhen the lights come on and I'm on my ownWill you be there to sing it again?Could I be the one you talk about in all your storiesCan I be him?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Like it was a private show, I know you never saw me
When the lights come on and I'm on my own
Will you be there to sing it again?
Could I be the one you talk about in all your stories
Can I be him?

- Can I be Him, James Arthur

***

Apa Hael Ivalo memang masuk ke dalam cerita hidupnya selama ini?

Apa ini memang ending yang paling tepat untuk keduanya?

Juni teringat, William Thacker di Film Notting Hill pernah berkata, "To find someone you actually love, who'll love you .... The chances are always minuscule."

Dan Juni tidak pernah benar-benar mengira bahwa kata-kata itu akan memiliki makna sedalam ini dalam hidupnya.

Selama ini, hidup Juni berjalan datar, tanpa kejutan berarti. Namun, kemunculan Ha mengubah semuanya. Sosok lelaki yang mengklaim dirinya sebagai anggota boyband tiba-tiba hadir dalam hidupnya dengan cara yang sama sekali tak terduga. Dari suasana mencekam saat pertama kali melihat Ha berdiri di ruang tamunya dengan wajah penuh kecemasan, hingga momen-momen kecil di mana mereka mulai berbagi cerita, Juni mulai merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Juni mengingat percakapan mereka, saat Ha dengan santainya menggoreng telur sambil bercerita tentang kehidupannya sebagai musisi. "You know, being in a boyband is not always glamorous. It's tiring and sometimes you just want to disappear," kata Hael saat itu, suaranya terdengar jujur dan lelah.

Juni hanya tertawa kecil, "Well, you did disappear, right into my living room."

Mereka tertawa bersama dan di saat-saat seperti itu, Juni merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan. Apakah ini yang disebut takdir? Ataukah hanya kebetulan semata yang membawa mereka pada jalur yang sama?

Karena pada akhirnya mereka berpisah. Apa perpisahan juga termasuk takdir?

Tok tok tok

Pintu diketuk. Kakinya yang masih dibalut kaos kaki kelinci menapak ke ubin dingin, Juni berjalan malas.

Waktu pintu terbuka, bola matanya membulat. Perasaan gugup dan heran melebur jadi satu dalam ekspresinya.

"Kian Asher," gumam Juni begitu melihat sosok itu berdiri di depan rumahnya.

Ki menunduk sopan. "Juni, kan?"

"I-iya."

"Maaf mengganggu."

Juni meneguk saliva, mengangguk gagap. "Y-ya."

Tangan Ki menggenggam sebuah kertas coklat, semacam undangan dengan fitur-fitur vintage. Kelihatan mewah dengan stiker timbul berwarna beige.

"Ini." Undangan itu diulurkan pada Juni begitu saja.

"Apa ini?"

Ki tak menjawab, membiarkan Juni membaca dan menangkap isinya sendirian.

FateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang