"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Saat segalanya terlalu sempurna, pulang bukan lagi pilihan"
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin membawa aroma bunga yang tak pernah Jenia kenal—manis, sedikit rempah, seperti embusan napas dari dunia yang tak nyata. Sejauh mata memandang, tanah di bawah kaki mereka dipenuhi cahaya-cahaya kecil yang melayang perlahan, seperti kunang-kunang yang menari bersama angin.
Di kejauhan, bukit hijau terbentang luas, diselimuti padang bunga yang seakan bersinar dalam gelap. Setiap kelopak berpendar, menciptakan cahaya lembut yang menjalari rerumputan seperti denyut jantung bumi yang berbisik.
Jenia membeku dalam keterpesonaan. "Ini... bukan dunia nyata, kan?"
Noan tertawa kecil, suaranya sehalus gelombang yang menyentuh pantai. "Apa kamu ingin dunia ini nyata?"
Jenia tak segera menjawab. Matanya menjelajahi cakrawala yang kini penuh bintang berwarna keemasan, menggantung rendah seolah bisa diraih dengan ujung jari. Ombak bersinar dalam cahaya bulan, seperti kristal cair yang bergerak mengikuti irama malam.
Di langit, rasi bintang membentuk pola yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Seolah semesta telah melukiskan kisahnya sendiri, kisah yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang ada di sini.
Jenia menggenggam tangan Noan, jemarinya terasa begitu hangat, begitu nyata.
"Kamu bahagia di sini, kan?" suara Rania tiba-tiba terdengar, begitu lembut seperti bisikan angin.
Jenia menoleh. Sang ibu berdiri di ambang pintu rumah kayu kecil yang tak pernah ia lihat sebelumnya, tapi terasa begitu familiar. Cahaya dari dalamnya hangat, menyebarkan aroma vanilla dan kayu manis yang menguar di udara.
Jenia mengangguk. "Aku bahagia."
Rania tersenyum, dan dalam senyum itu, Jenia melihat dunia yang lebih dari sekadar indah—ia melihat rumah. Rumah yang tak pernah ia tahu selama ini ia cari.
Noan menariknya lebih dekat, lalu berbisik, "Kalau begitu, tetaplah di sini."
Dan malam pun terus bernafas, menyelimuti mereka dalam kehangatan yang tak terjamah waktu.
***
Di balik kaca jendela, Jenia mengamati hujan yang jatuh perlahan, membasahi dunia luar yang terasa asing baginya. Setiap tetes yang menghantam kaca menciptakan irama, tapi ada sesuatu yang tak bisa ia pahami, seperti bayangan yang mengikutinya. Setiap kali matanya menyoroti sudut-sudut ruangan ini, ada perasaan asing, rasa yang tidak bisa ia tangkap sepenuhnya. Tempat ini begitu indah, namun mengapa ia merasa sepi? Di mana ia pernah mengenalnya? Jenia berusaha mengingat, menggerakkan otaknya untuk menyambung potongan-potongan kenangan yang hilang, tapi semuanya tetap kabur.
Lamunan Jenia buyar ketika suara lembut Rania memanggilnya, mengalir seperti angin hangat yang mendekatkan keduanya.