44

4.5K 376 45
                                        

Setelah merecoki live Sunghoon dan Sunoo, begitu akhirnya kembali ke dorm Jungwon lekas melesat ke kamar Ni-ki, melemparkan tubuhnya menimpa si maknae yang tengah menggulir layar ponselnya.

"Hyung!" Pekiknya kesal, ponsel merosot dari genggaman tangannya dan mendarat pada tulang hidungnya.

Telah cemberut wajah cantik itu, dan Jungwon merespon dengan kekehan kecil sebelum tangannya terulur mengelus kulit si Omega yang memerah sebelum meninggalkan kecupan-kecupan berulang kali.

"Kenapa sih?" heran Ni-Ki begitu Jungwon menduselkan kepala pada perutnya, seperti seekor kucing betulan.

Jungwon menggeleng, tiba-tiba memasukkan kepalanya kedalam sweater yang lebih muda, menciumi perutnya berulang kali.

"Aaahh gak mau," Ni-Ki berusaha mendorong Jungwon menjauh, tapi pinggangnya malah dipeluk lebih erat, si Omega akhirnya mengalah, menghembuskan napas pasrah kemudian kembali menggulir layar ponselnya, mengabaikan Jungwon yang entah melakukan apa di dalam sweater nya.

Ni-Ki merotasikan matanya jengah begitu tangannya yang bebas diraih, di letakkan pada puncak kepala Jungwon yang kini berhasil menyingkap sweater yang menutupi perutnya, menempelkan pipi pada perutnya.

Meski begitu dengan otomatis Ni-Ki langsung memberikan elusan lembut pada rambut blonde milik si Alpha, bergumam lembut menyanyikan sesuatu yang tak terlalu jelas.

Jungwon memejamkan matanya, mmenikmati elusan pada puncak kepalanya, menikmati pula senandung kecil dari si Omega.

"Kamu kok cantik sih?" tanya Jungwon tiba-tiba, setelah lebih dulu memperhatikan wajah si Desember, Ni-Ki yang tiba-tiba dapat pertanyaan mengandung pujian semacam itu tampak terdiam sejenak.

"Halah, ada maunya ya?" cibirnya, kembali sibuk menggulir layar ponselnya.

"Yak! Hyung!!"

Matanya terbelalak terkejut begitu Jungwon "menerkam" dirinya, benar-benar gestur seperti itu sebelum kalian berpikir yang iya iya.

Suara tawa keduanya menggema begitu Jungwon dengan jari-jari jahilnya memicu rangsang geli pada tubuh si Omega, mengingat kebiasaannya yang gampang tertawa dan fakta bahwa si Desember bukan orang yang pintar menahan geli, maka jelas saja Ni-Ki gagal menjauhkan Jungwon yang terus menarik pergelangan kakinya tiap ia nyaris berhasil membebaskan diri.

"Hyu—ng udah! Udah!"

"Haha, gelian," ucap Jungwon yang akhirnya berhenti menjahili si Omega, dari sela-sela rambutnya yang menghalangi pandangan, Jungwon bisa lihat wajah memerah Ni-Ki, Omega itu mengatur napasnya yang terengah akibat tawanya tadi, sudut matanya tampak sedikit berair.

Jungwon tinggalkan kecupan gemas pada ujung hidung Ni-Ki sebelum tiba-tiba menduselkan wajahnya pada sisi leher si Omega seperti seekor anjing, hal itu tentunya berhasil membuat rengekan si Desember kembali lolos.

"Jungwon Hyung...," Ni-Ki mengernyit kesal, tapi diam saja begitu Jungwon berguling ke samping, memeluknya seperti guling, giginya gemas gigiti kulit pundak Ni-Ki yang terbuka.

Di pukulnya kepala yang lebih tua, Ni-Ki kepalang sebal.

"Jangan gigit gigit kayak kucing ih."

"Kamu kenapa sih Hyung? Dari tadi kok aneh," tanya Riki kebingungan.

"Gemes, Kamu gemes,"bisik Jungwon, suaranya tenggelam karena si Februari sembunyikan wajahnya pada ceruk leher si Desember.

"Happy birthday," Ni-Ki menepuk-nepuk kecil kepala Jungwon.

"Emang udah? Jam berapa sih?" tanya Jungwon bingung, melirik pada jam di atas nakas yang tunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit.

"Sakit!"

Ni-Ki pukul lengan Jungwon yang tiba-tiba mencubit kedua pipinya, makin brutal pukulannya ketika Jungwon beralih menggigit pipi kanannya.

"Haish!"

Jungwon terkekeh tanpa rasa bersalah, mencuri kecupan pada bibir cemberut Omeganya.

"Jadi Omega ku terus ya?" celetuknya tiba-tiba, buat Ni-Ki berkedip bingung.

"Apa?"

Jungwon menghela napas, kembali duselkan wajahnya pada ceruk leher Ni-Ki, menghirup wangi manis Feromon Omeganya.

"Udah berapa kali ulang tahunku yang dirayain bareng-bareng sama member?"

Ni-Ki diam, mendengarkan apa yang hendak Jungwon bicarakan. Ia tahu datangnya Jungwon ke kamarnya bukan hanya sekedar ingin menghabiskan malam bersamanya.

"Kita... Bisa gini terus 'kan? Aku nggak bisa mikirin gimana kalau nanti akhirnya kita punya kehidupan masing-masing, sibuk sendiri-sendiri."

"Ya bisa lah gini terus, bisa," senandung si Omega, matanya melirik pada kaca jendela yang belum tertutup tirai sepenuhnya, bulan bersinar di langit, cahayanya menembus ke dalam kamar membentuk bayang samar di lantai.

Mengingat janji antara mereka, janji yang tak pernah terucap, namun dengan hadirnya Ni-Ki sebagai satu-satunya Omega di dalam kelompok mereka, jelas telah menyatukan benang takdir di jari mereka masing-masing, mengikatnya menjadi satu, dengan Ni-Ki sebagai poros.

Ni-Ki, hanya Ni-Ki.











Tbc.

Ini sebenernya yang bucin Ni-Ki tuh aku😭😭

➮𝑶𝒖𝒓𝒔 : ɴɪᴋʀᴇᴜɴ√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang