65

3.2K 369 30
                                        

Ni-Ki sejak tadi curi-curi pandang, melirik Jungwon yang duduk di sebelahnya dengan raut tak bersahabat, alis si Alpha Februari itu berkerut, feromonnya berbau pahit sebagai tanda bahwa Alpha itu sedang dalam emosi buruk.

"Udah Won, jangan tegang begitu," ucap Jay yang sejak tadi juga gusar duduk di sebelahnya, feromon kuat si Leader sedikit banyak mengganggunya.

Di mobil yang berbeda, empat yang lainnya duduk tanpa suara, masing-masing terkuras energinya karena perjalanan keluar bandara terasa seperti perang, melewati lautan manusia dan kamera yang dengan terang-terangan tertuju pada mereka.

Heeseung yang tampak paling tak senang diantaranya, ia nyaris tertinggal rombongan karena ulah sasaeng.

"Alpha," panggil Ni-Ki, pelan-pelan sentuh tangan Jungwon yang mengepal, mencoba melepaskan feromonnya untuk meredakan kekesalan Alphanya.

"Udah keterlaluan, seenaknya mau foto-foto passport segala, nggak tau yang namanya privasi apa gimana sih?"

Jay menghela napas panjang, menjadi idol berarti banyak resiko yang harus ditanggung.

"Udahlah, jangan emosi sekarang. Nanti di diskusiin lagi sama pihak agensi," ujarnya dengan tenang, kakinya sedikit menendang betis Jungwon yang menoleh dengan pandangan kesal.

"Feromon lo nakutin Omega kita bro," Jay membalas tatapan kesal Jungwon dengan kening berkerut, mengode supaya si Februari menoleh ke kursi di sebelahnya.

"Jangan marah, Alpha," cicit Ni-Ki pelan, benar-benar dibuat mengecil karena feromon pahit Alpha nya, terlebih dengan kondisi hormonnya yang tidak stabil, Omega itu menjadi lebih sensitif.

Padahal bukan ia yang dimarahi.

Jungwon mengubah tatapannya, menatap Ni-Ki penuh rasa bersalah, "maaf ya, Alpha gak bermaksud bikin takut."

Ni-Ki mengangguk lembut, "jangan gitu lagi, serem."

✥✥✥

Jake baru saja keluar dari toilet ketika melihat cahaya remang yang muncul dari dapur yang lampunya tak dinyalakan.

Kening Alpha itu berkerut sebagai bentuk keheranannya, seingatnya ini masih tengah malam.

Menuruti rasa ingin tahunya, kakinya ia bawa melangkah memasuki area dapur, seseorang duduk di depan pintu kulkas yang terbuka.

"Astaga, kamu ngapain jam segini di depan kulkas?" ucap Jake begitu ia tahu orang tersebut adalah Ni-Ki. Omega itu tampak membeku, melirik ke atas dengan gerakan lambat.

"Nggak ada... Hyung mau?" tanya yang lebih muda dengan cengiran kecil, mengangkat mangkuk berisi buah Strawberry di tangannya, mulutnya sesekali tampak mengunyah.

"Pencuri kecil," cibir Jake menahan senyuman, namun tangannya terulur menerima buah yang disodorkan padanya.

"Kenapa harus duduk di depan kulkas begitu? Dingin, kamu bukan Sunghoon," Jake bertanya dengan raut heran. Makin hari tingkah Omeganya makin tidak bisa ditebak dan diprediksi.

"Hmm?" Ni-Ki hanya menggumam, melanjutkan kegiatan melahap buah strawberry nya sesekali mencelupkannya ke dalam cokelat cair yang juga ada di dalam kulkas.

"Bayinya yang mau," balasnya dengan pipi menggembung penuh, tangannya mengusap-usap perutnya yang besar. Jake jadi kehilangan kata-kata.

"Ya iya, tapi jangan di depan kulkas begitu, duduk di lantai," Jake menghembuskan napas penuh kepasrahan, menarik Ni-Ki berdiri kemudian menutup pintu kulkas.

"Sini aja," Jake duduk di kursi meja makan, menarik Ni-Ki untuk duduk di atas pangkuannya.

Jake terkekeh kecil, ibu jarinya mengusap pipi si Omega yang sibuk terus mengunyah, sebelah tangannya yang bebas mengelus perutnya dengan lembut, merasakan sedikit balasan dari bayi-bayi di dalam sana.

"Hyung, kurang. Mau lagi," Ni-Ki mendongak, menatap Jake dengan tatapan yang tak mampu si November tolak.

"Oke oke, hyung cuciin dulu," Jake pasrah, beranjak berdiri untuk mengambil strawberry lain yang masih berada di dalam kotaknya, membawanya menuju wastafel.

Ni-Ki selama itu tidak duduk diam, Omega itu membuka pintu kulkas, memiringkan kepalanya sedikit sambil memindai isinya, sebelum matanya berhenti pada kue tiramisu sisa milik Sunghoon semalam, menariknya keluar dari dalam rak dan membawanya menuju meja makan.

Jake yang baru saja berbalik dibuat menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

"Hyung, strawberry nya di kasih di atas sini!" Ni-Ki berucap dengan antusias, menatapnya dengan manik berbinar, sedangkan tangannya menunjuk kue tiramisu yang sisa separuh. Entah esok siapa yang akan jadi sasaran tuduhan dari Sunghoon dan Jungwon, karena kue tiramisu dan strawberry mereka raib dalam waktu semalam.

"Tapi mau dicelup cokelat dulu!"

Jake mengangguk, menuruti segala kemauan Omeganya malam itu, "jangan banyak-banyak, makanannya manis semua."

Ni-ki hanya menggumam acuh.

➮𝑶𝒖𝒓𝒔 : ɴɪᴋʀᴇᴜɴ√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang