55

3.8K 383 75
                                        

"Hyung!?"

Matanya terbelalak, begitu berbalik nyaris menabrak dada bidang si Alpha Desember yang bersedekap dada, bersandar pada kusen pintu toilet dengan mata menyipit.

"Sejak kapan?"

Ni-Ki terdiam, tampak gelisah, maniknya berlari dari kejaran tatapan Sunghoon yang menuntut jawaban dari pertanyaannya.

"Apanya Hyung?"

Ni-Ki memberi tatapan polos, tapi aroma feromon nya yang gelisah jelas tak mampu bohongi si Alpha.

"Sejak kapan Nishimura Riki?"

Ulang Sunghoon sekali lagi, dengan suara Alphanya, berhasil akhirnya buat Ni-Ki makin ketakutan.

"Habis—" Ni-Ki sengaja menggantung ucapannya, melirik Sunghoon yang masih bergeming di tempatnya berdiri, menunggu dengan sabar.

"Habis cecella?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar bila diinterupsi suara berisik sekecil apa pun.

Sunghoon menghembuskan napas kasar, memijat keningnya yang tiba-tiba pening, jika dihitung dari hari ini, jelas sudah sebulan lebih.

"Sebulan lebih? Kayaknya udah mau dua bulan. Kenapa nggak ada ngomong apapun?"

"Itu juga kalau Feromon kamu nggak tiba-tiba berubah nggak ada yang nyadar," alis tebal si Alpha berkerut tak senang. Semua orang setuju bila marahnya Sunghoon jauh lebih menyeramkan, bukan amarah yang meledak berteriak, melainkan Feromonnya yang tiba-tiba berbau lebih pahit dan tatapan mata tajamnya, juga ucapannya yang jadi terdengar lebih dingin.

Manik yang lebih muda berkaca-kaca, jemarinya saling meremas satu sama lain, atmosfer di sekeliling Alphanya buat sisi Omeganya menciut takut.

Sunghoon menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya supaya tak lepas kendali.

"Sini," panggilnya selembut mungkin, meraih Ni-Ki supaya berjalan mendekatinya.

"Ngomong sama Hyung, kenapa Ni-Ki nggak bilang apapun? Hm?" Sunghoon sehati-hati mungkin mengangkat tubuh Ni-Ki yang terasa lebih ringan dari biasanya, seolah si Omega telah hilang massa tubuhnya selama beberapa waktu terakhir.

"Kamu tahu habis ini comeback? Kalau tiba-tiba ada apa-apa, yang khawatir nggak cuman aku loh, yang lainnya juga. Apa lagi Jungwon nanti, mau Alphamu satu itu dipanggil atasan karena nggak jagain Omeganya yang lagi bawa-bawa dedek bayi?"

Ni-Ki menggeleng kecil, "Hyung, minta maaf..."

"Terus kenapa nggak ngomong apa-apa?" Sunghoon masih berbicara dengan nada lembutnya, tangannya sesekali membenarkan selimut yang menutupi tubuh si Omega.

"Dedeknya udah segede ini, takut Alpha marah? Yang mana yang marah? Biar aku pukulin," telapak tangan besar Sunghoon pelan sentuh perut yang lebih muda, rasakan di bawah jarinya bahwa jelas perut si Omega tampak membulat— tanda hadirnya nyawa lain di sana.

"Takut nanti— kalau nggak siap—" Ni-Ki membalas dengan suara berbisik, jemarinya mencengkeram ujung piyama Alphanya dengan gelisah.

"Kalu nggak siap, kamu nggak bakal ditandain gini," Sunghoon cium bekas gigitan mate pada tengkuk si Omega, sedikit menahannya lebih lama, sengaja menikmati aroma feromon si Omega yang tercium makin manis.

"Kalau Ni-Ki nggak berani ngomongnya biar nanti Hyung yang bicara ke yang lain."

Ni-Ki mengangguk lembut, makin merapatkan dirinya pada tubuh si Alpha, mencari kehangatan.

"Sekarang tidur dulu, nggak ada yang bakal marahin Ni-Ki, nanti Hyung marahin balik kalau berani."
















Udah? Nyengir kalian sampek gigi kering :0

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Udah? Nyengir kalian sampek gigi kering :0

➮𝑶𝒖𝒓𝒔 : ɴɪᴋʀᴇᴜɴ√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang