"Mau ikut," Ni-Ki kali ini tampak berbeda dari biasanya, wajahnya yang cemberut jelas beri rasa tidak enak bagi para Alpha, kali ini bagi Jake yang sejak tadi terus-terusan digelendoti, Ni-Ki sudah mengekorinya setelah mendengar ia akan memiliki jadwal solo yang mengharuskannya terbang sendirian ke Indonesia.
"Mau ikut ngapain di sana?" tanya Jake sabar, telapak tangan nya dia pakai untuk mengelus punggung Ni-Ki yang duduk di atas pangkuannya, menatapnya dengan wajah memohon yang sial sekali nyaris buat Jake luluh dan menyerah.
"Gak tau, tapi mau ikut!" Ni-Ki mencebikkan bibirnya, yang berkali-kali pula mengingatkan Jake pada seekor bebek.
"Heh!" Jake praktis terjengit dari duduknya begitu tangan Ni-Ki sengaja memegang kebangaannya yang padahal sejak tadi diam saja, Ni-Ki dengan tanpa rasa bersalahnya menggerling jahil pada Jake yang kini berdecak.
"Omega," peringatnya dengan suara berat yang terdengar sedikit bergetar, akibat dari sentuhan jemari Ni-Ki yang memainkan ujung kaosnya dengan acak.
Alih-alih ketakutan, Ni-Ki sama sekali tidak merasa terganggu, "iya Alpha? " suaranya terdengar jenaka dan terkesan jahil.
"Kamu heat?" mata Jake memincing curiga, berhasil mengingat tanggal hari ini yang mana adalah minggu-minggu Omeganya menuju siklus Heatnya.
Diamnya Ni-Ki diasumsikan sebagai konfirmasi, terlebih bagaimana akhir-akhir ini si Omega tampak lebih manis— centil dan suka tiba-tiba manja.
"Alpha!" Ni-Ki sedikit tersentak begitu pipinya jadi sasaran kegemasan, digigit gemas oleh barisan gigi si Alpha.
"Udah kelihatan centil gitu berarti emang mau heat," celetuk Jake seraya menahan kedua tangan Ni-Ki yang semula memukuli bahunya, menahannya di atas kepala.
Jake— ah bukan, keenamnya hapal betul tiap mendekati siklus heat nya, si Omega akan bertingkah lebih manja yang kadang terkesan centil, suka tiba-tiba bertingkat aneh dari biasanya.
Cemberut kecil di bibir si Omega, matanya berkedip sedih yang Jake tau itu telah dibuat-buat. Dasar.
"Makannya jangan pergi, mau ikut kalau tetep pergi, " Ni-Ki tetaplah sosok keras kepala.
"Cuman sehari disana sayang, lagian Alpha mu banyak," Jake sedikit mencibir di akhir.
Kali ini bibir si Omega mencebik persis bebek, menatap tak suka pada si November.
"Tapi harus lengkap! Nggak boleh ada yang hilang!" serunya dengan manik berkilat.
Biasanya tiap mendekati siklus heat mereka, Omega membuat sarang, yang terdiri dari beberapa tumpukan baju atau benda-benda yang berbau Alphanya. Dan tiap hari itu tiba, mereka bisa melihat Ni-Ki sibuk mondar-mandir mendatangi kamar mereka satu persatu, menguras isi lemari pakaian, bahkan kadang mencuri selimut dan bantal untuk dibawanya ke kamarnya sendiri.
Biasanya si Omega akan menarik salah satu dari mereka untuk menemani, tidur di sarang. Sejujurnya mereka kadang merasa menjadi seekor burung.
"Maunya gimana?" tanya Jake sabar, mencuri satu kecup singkat pada bibir Ni-Ki.
"Mau Kakak," Ni-Ki mencondongkan tubuhnya lebih dekat, bibirnya nyaris menyentuh dagu Jake yang duduk dengan tegang. Ini jelas tidak biasa, ada yang salah dengan si Omega.
"Ayoo," rengek kecil meluncur dari celah bibir si Omega, sengaja bergerak mengundang di atas pangkuan Jake yang memejamkan kedua matanya, jakunnya bergerak seiring dengan upayanya menelan ludah dengan susah payah.
"Janji nanti boleh pergi deh," sambung Ni-Ki, jari telunjuknya menggambar abstrak pada dada bidang Jake, bibirnya masih dibuat-buat cemberut.
Jake mendesah keras, telapak tangannya mencengkeram kedua paha belakang Ni-Ki kuat-kuat sebelum bangkit dari duduknya, menuruti si Omega yang tiba-tiba banyak mau.
"Awas kalau tidur."
✥✥✥
Peringatan Jake bukan sekedar bualan.Kesadarannya sudah di ambang, tapi agaknya si Alpha November tidak punya niat untuk segera berhenti.
Si Desember dibuat lemas betulan, tenggorokannya kering akibat terlalu banyak suarakan desah juga erangan, kakinya gemetar nyaris ambruk bila kuasa Jake tidak melingkar pada pinggangnya, menahan yang lebih muda supaya tetap di posisi.
"Tadi siapa yang minta hm?" bisik Jake tepat di sebelah telinga Ni-Ki, si Omega jelas kapok, mencatat di kepala cantiknya supaya tidak menantang Jake lagi— bukan hanya Jake sebenarnya, tapi keenam Alphanya.
"A-ah—"
Ni-Ki terkesiap begitu tubuhnya dibalik, terlentang di bawah kungkungan si November, kaki kirinya di bawa ke atas, ditumpukan pada bahu kanan yang lebih tua selagi ritme rojokan semakin bertambah cepat, si Omega jelas rasakan kesadarannya melayang sejak tadi, dibawa oleh kenikmatan duniawi.
Netranya mengerjap sayu, helaian rambutnya menempel pada keningnya akibat peluh yang hiasi nyaris sekujur tubuhnya, bibirnya bengkak dan memerah, dihiasi saliva yang mengalir hingga ke leher bercampur dengan keringat.
"U-udah...," rengeknya lagi, dengan suara nyaris hilang, Ni-Ki benar-benar menyesal telah menggoda Jake.
"Dibilang nggak boleh tidur."
✥✥✥
Esoknya, raut cemberut mendung tak hilang dari wajah si Omega, merasa kesal begitu terbangun tanpa Jake.
Jake sudah terbang naik pesawat.
Langsung scroll bab selanjutnya!!

KAMU SEDANG MEMBACA
➮𝑶𝒖𝒓𝒔 : ɴɪᴋʀᴇᴜɴ
FanfictionNi-Ki tinggi- pasti alpha. Lantas feromon manis memabukkan ini milik siapa? Jika bahkan ketujuh anggota adalah Alpha. ⚠️🔞cerita ini boy's love, bxb, homo, mpreg, Omegaverse, harem, mature, tidak diperuntukkan untuk homophobic. Just left if you're...