39

217 9 3
                                        


Pana menghentikan motornya begitu tiba di depan rumah Ghaiska. Dia memerhatikan Alve yang keluar dari rumah dengan wajah emosi. Di susul Ghaiska yang berlari mengejar Alve sambil menangis.

"Anjing!" umpatnya saat melihat Alve mendorong tubuh Seka keras hingga terjatuh. Lalu pergi begitu saja mengabaikan Seka yang memanggil namanya berkali-kali. Pana turun dari motornya  berlari menghampiri Seka tergesa-gesa. "Ghaiska, lo nggak apa-apa?"

"P-pana." Seka mendongak menatap Pana dengan mata berair.

"Gue disini."  ucapnya pelan. Dia mengusap wajah Seka dengan lembut berusaha menenangkan Seka yang terlihat kacau.

"Sakit. Sakit. Sakit Pana." Seka sesenggukan. Sakit sekali. Dia kira Alve akan memaafkannya setelah dia memperlakukan Alve dengan tulus, meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah Ghaiska lakukan. Dia berusaha memperbaiki kesalahan Ghaiska dulu, berharap setidaknya Alve memaafkannya walaupun hanya sedikit. Sayangnya dia terlalu naif. Tidak ada orang yang akan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Jika orang itu memaafkan, tapi luka yang telah mereka terima tidak akan sembuh seperti awal. Mereka masih mengingatnya, menyimpan semua memori rasa sakitnya. Terutama ini bertahun-tahun. Alve pasti menyimpan dendam padanya.

"Mana yang sakit? Bilang sama gue."

"Aku nggak tahu harus gimana lagi." Seka menutup wajahnya dengan tangan. Menangis pedih. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi mendapatkan maaf dari Alve?

Semuanya terasa sia-sia. Bahkan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda Alve akan menerima maafnya. Laki-laki itu semakin membenci dirinya.

"Masih ada gue." Pana meraih wajah Seka. Mengusap wajah gadis itu lembut. Pana tersenyum manis. "Gue bakal bantu lo buat minta maaf ke Kakak lo. Jangan khawatir oke?"

"P-Pana..."

"Kalo lo butuh bantuan apapun dateng ke gue, Ghaiska. Gue nggak keberatan. Selama lo bilang gue pasti bantu lo."

"Aku nggak mau nyusahin kamu."

"Gue seneng kalo lo nyusahin gue."

"Aku jahat. Aku perempuan jahat ngga punya hati."

"Lo udah berubah jadi orang baik. Lo sama sekali nggak jahat."

"Kamu nggak benci aku?"

"Kalo gue benci lo, ngapain gue disini?"

"Tapi kenapa?" Seka bertanya parau. "Kenapa kamu ngelakuin ini?"

"Kayak yang lo ucapin waktu itu kita temen." Pana menelan ludah. Dia tersenyum pahit. "Karena gue temen lo, gue bakal selalu ada buat lo."

Seka tertegun.

"Ghaiska, gue mohon sama lo. Jangan menghilang kayak gini lagi, kalo lo dalam kesulitan atau sedih dateng ke gue." Pana berkata lirih. Jangan pergi ke orang lain. Jangan minta tolong sama orang selain gue.

Pana tersenyum sedih saat Seka tidak menjawab apapun. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Memangnya dia siapa? Berharap Seka hanya membutuhkannya saja. Pergi mencarinya saat gadis itu merasa putus asa. Mau bagaimana pun dia bukanlah siapa-siapa, mereka bahkan baru dekat dalam beberapa bulan ini.

"Kalo lo ngg–" ucapan Pana terhenti saat Seka tiba-tiba memeluknya. Pupil matanya melebar. Tubuhnya menegang. Dia membuka mulut ingin berkata sesuatu tapi bibirnya kembali terkatup saat di depan sana, dia melihat Gavrill dan Erita berdiri memerhatikan mereka dengan ekspresi terkejut.

***

Sejak kapan Ghaiska dan Pana menjadi sedekat itu?

Gavrill menatap pemandangan itu dengan ekspresi datar. Dia mengepalkan tangannya ketika melihat dengan jelas Ghaiska memeluk Pana terlebih dulu. Gadis itu... bukannya dia berkata hanya mencintainya? Selama ini hanya dia satu-satunya laki-laki yang di peluk oleh Ghaiska. Tapi sekarang apa? Dia sangat terkejut saat Ghaiska memeluk Pana dengan erat.

"Gav, kamu kenapa?"

Suara Erita membuyarkan lamunannya. Gavrill menunduk. Dia mengukir senyum. "Nggak apa-apa."

"Kamu serius? Kamu keliatan nggak baik-baik aja." Erita bertanya pelan. Dia melirik tangannya yang berada di genggaman Gavrill. Cowok itu tidak sadar jika sekarang sedang mencengkeramnya tangannya keras. Seolah akan meremukkan tulangnya saja. Tapi Erita tidak berkata apa-apa. Dia membiarkan Gavrill tetap menggenggam tangannnya.

"Aku heran aja. Kenapa mereka berdua pelukan?"

"Memangnya kenapa?"

"Er, Ghaiska masih tunangan aku." ucapnya tenang. "Mereka pelukan di depan rumah. Di dalem sana banyak pembantu, kalo mereka lihat Ghaiska pelukan sama cowo lain, bukannya mereka bisa mikir yang aneh-aneh?"

"Terus kenapa? Bukannya itu bagus?"

"Kamu nggak ngerti apapun." Gavrill
sedikit berdecak.

Erita berkedip. Dia terdiam saat Gavrill melepaskan genggaman tangan mereka lalu berjalan tergesa menghampiri mereka berdua. Erita menunduk. Memerhatikan telapak tangannya yang memerah beberapa detik sebelum mengikuti langkah Gavrill.

Hari ini dia melihat dengan jelas.

Erita tersenyum kosong. Menyorot punggung Gavrill di depan sana tanpa ekspresi.

***

SekalanthaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang