Beberapa minggu berlalu, hubungan Gavrill dan Seka perlahan membaik. Seka pun sudah mulai kembali berangkat ke sekolah. Sikap Pana padanya tidak berubah. Dia masih baik dan ramah pada Seka. Terutama Cullen bersikap lebih baik padanya. Tak ada lagi tatapan dingin atau kata-kata yang menyakitkan. Dia memperlakukan Seka seolah memang pantas berada di sana sejak awal.
Meski hubungan Gavrill dan Pana masih terasa sedikit kaku, mereka tetap menjaga batas sebagai teman. Tak ada pertengkaran atau perselisihan lagi.
Di setiap jam istirahat atau saat kelas kosong, Seka hampir selalu bersama mereka. Erita juga ikut bergabung. Ia tetap bersama mereka, meski akhir-akhir ini wajahnya sering tampak murung dan terlihat sedih.
"Iska, kamu akhirnya datang."
Seka mengangguk pelan lalu melangkah mendekat. Dia berdiri di hadapan Erita.
Mereka berada di atap sekolah, tempat yang jarang di datangi oleh murid. Beberapa menit sebelumnya, Erita mengirim pesan singkat memintanya datang ke sana.
Seka menoleh.
“Kamu mau bilang apa?” tanyanya pelan, sorot matanya menyiratkan kebingungan.
Erita menarik napas dalam. Pandangannya jatuh ke depan sana sebelum akhirnya kembali menatap Seka. Tangannya bergerak gelisah, menyelipkan anak rambut ke sisi telinga.
“Iska…” suaranya terdengar lirih. “aku minta maaf sebelumnya.”
Ia berhenti sejenak, seolah mencari keberanian. “Tolong… kamu jangan terlalu dekat sama Gavrill, ya?” mohonnya.
Seka terdiam.
“Akhir-akhir ini kamu makin dekat sama Gavrill. Aku ngerasa cemburu dan nggak suka liat kalian."
Jika saja sikap Gavrill masih seperti dulu dingin, acuh, dan tak peduli pada Ghaiska, Erita tak akan merasa setakut ini. Namun kini semuanya berbeda. Cara Gavrill memandang Ghaiska, nada suaranya yang lebih lembut, semua itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Erita merasakannya. Gavrill mulai menyukai Ghaiska. Dia tidak mau Gavrill akan berubah lebih memilih Ghaiska dari pada dirinya.
“Apa? Cemburu?” Seka memiringkan kepalanya. Dia tersenyum tipis dan berkata menusuk, “Lo sadar sama yang lo ucapin sekarang, Er?”
Nada suara itu…
Erita tertegun.
Nada yang sama seperti dulu. Dingin, tajam, dan penuh tekanan. Nada yang tak pernah bisa Erita lupakan saat dia mulai mengkhianati Ghaiska. Jantung Erita berdegup lebih cepat. Tenggorokannya terasa kering.
“Lo sadar sama ucapan lo sekarang?!” Suaranya tiba-tiba meninggi. Tangannya bergerak cepat—menarik rambut Erita dengan kasar. Erita meringis, refleks memegangi pergelangan tangan Seka, napasnya tercekat oleh rasa kaget.
"Iska... Maaf..." Erita gemetar. "Aku cuma.. aku cuma nggak mau kehilangan Gavrill."
"Lo yang rebut Gavrill dari gue." desis Seka. Matanya memerah penuh amarah yang bertahan bertahun-tahun. "Lo yang bikin gue kehilangan dan ngerasa nggak punya apa-apa. Dan sekarang... lo bilang takut kehilangan?!"
"Iska, aku minta maaf..."
"MAAF. MAAF. MAAF." Seka berteriak di depan Erita. Tangannya mencengkeram bahu Erita, mendorongnya keras hingga tubuh Erita terhuyung mundur beberapa langkah.
"LO SADAR SEMUA MAAF LO ITU NGGAK BERGUNA BERENGSEK!!"
Erita menelan ludah. Punggungnya hampir menyentuh pagar pembatas. Angin berhembus kencang, membuat tubuhnya gemetar karena ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekalantha
Roman pour AdolescentsSeka Alantha tak pernah menyangka bahwa jatuh dari tangga akan mengubah hidupnya selamanya. Saat membuka mata, dia tidak lagi berada di dunianya sendiri melainkan terbangun di dalam novel yang pernah dia baca. Masalahnya, dia bukan tokoh utama. Dia...
