Selama beberapa tahun ini, Ghaiska hanya dekat dengannya. Dimana pun berada cewek itu selalu pergi mengikuti Gavrill seperti ekornya. Menatap penuh puja dan cinta pada dirinya seolah tidak ada manusia lain yang berharga selain dia.
Di hadapannya, Ghaiska selalu bersikap manis dan lembut. Bibirnya selalu tersenyum saat berbicara dengan Gavrill walaupun seringkali diabaikan. Lalu akan bersikap beringas setiap kali seorang gadis mendekat pada Gavrill. Membuli mereka di belakang Gavrill, memperingati agar tidak merebut sosok yang sangat dicintainya.
Dimata Gavrill, sejujurnya Ghaiska adalah gadis yang cantik dan imut. Memiliki wajah seperti boneka dengan kulit putih, serta tinggi badan yang hanya setinggi bahunya. Membuat Ghaiska termasuk ke dalam incaran semua cowok di sekolah. Jika saja latar belakang Ghaiska biasa saja, serta tempramen cewek itu tidak meledak-ledak seperti 'anjing', Gavrill yakin sudah banyak anak cowok di sekolah ini yang mendekati Ghaiska. Mencoba mengambil hati cewek itu untuk di jadikan pacarnya.
Sayangnya, Ghaiska tidak perduli apapun. Seluruh pusat perhatiannya sudah diberikan pada Gavrill. Sejak dulu hanya Gavrill yang menjadi satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya.
Jadi, saat melihat cewek itu memeluk cowok selain dia, Gavrill tidak bisa menahan diri. Dia menarik lengan Ghaiska cukup kasar hingga cewek itu berdiri dengan ekspresi terkejut.
"Ghaiska, lo ngapain?" tanyanya dingin.
"Anjing! Nggak usah kasar sama Ghaiska!" bentak Pana marah. Dia mengulurkan tangan ingin meraih bahu Ghaiska saat gadis itu hampir terjatuh tapi Gavrill menepis tangannya kasar.
"Jangan sentuh Ghaiska." tekannya. Gavrill menatap Pana tajam. "Pulang lo sekarang."
"Lo yang pulang! Nggak usah ngusir gue, Gav!"
"Lo siapa gue tanya?" Gavrill tertawa meremehkan. Menatap wajah Pana yang memerah karena marah. "Nggak ada urusannya lo disini. Pergi sekarang."
"Brengsek ya lo, Gav." Pana menggertakan giginya. Dia melirik ke arah Erita yang berada tidak jauh dari mereka. "Di belakang lo ada Erita. Gadis yang lo cinta setengah mati. Kenapa masih ngurusin Ghaiska? Lo sekarang cinta ya sama Ghaiska?"
"Bukan urusan lo. Gue bilang pergi ya pergi!"
"Kenapa gue harus dengerin lo?" Pana menarik tangan Ghaiska. Balas menatap Gavrill sinis. "Ghaiska sama gue. Mendingan lo pula–"
"Pana, aku sama Gavrill aja." potong Ghaiska. Pana menunduk, menatap Ghaiska terkejut. "Lebih baik kamu pulang aja, aku mau sama Gavrill." sambungnya sambil melepaskan genggaman Pana.
"Ghaiska?"
"Udah cukup. Jangan buat keributan lagi, aku nggak mau orang tua aku nanti tahu."
"Lo denger sendiri omongan Ghaiska, kan?" Gavrill tersenyum. Dia memeluk pinggang Ghaiska dari samping, membuat tubuh gadis itu lebih dekat dengannya. "Pulang, Pana. Lo sama sekali nggak di butuhin disini."
"Ghaiska, lo yakin sama ucapan lo?"
"Hm."
Pana terkekeh miris. Tatapannya jatuh pada Ghaiska yang hanya menunduk, membiarkan beberapa helai rambutnya menjuntai dan menutupi sebagian wajah. Dadanya terasa sesak saat pandangannya beralih pada Gavrill yang kini memeluk Ghaiska semakin erat, seakan menegaskan jika Ghaiska miliknya.
Ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam diri Pana. Amarah, kecewa, dan perasaan kalah bercampur jadi satu, ia tekan semuanya dalam-dalam. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, kukunya hampir menusuk telapak sendiri, tapi wajahnya tetap dipaksa tenang.
“Oke, gue pulang,” ucap Pana akhirnya. Ia mengangguk singkat, seolah keputusan itu tak perlu diperdebatkan lagi.
Beberapa langkah sebelum benar-benar pergi, Pana berhenti. Tanpa menoleh, suaranya terdengar lebih rendah saat dia berkata, “Kalo ada apa-apa… tolong hubungin gue. Gue bakal dateng. Buat lo.”
Lalu ia berbalik, melangkah menjauh tanpa menunggu jawaban meninggalkan mereka.
"Hm."
Melihat Pana sudah pergi, Gavrill melepaskan pelukannya. Dia mengulurkan tangannya, merapikan rambut Ghaiska agar tidak menutupi wajahnya. "Jangan deket-deket Pana lagi selama lo masih jadi tunangan gue, paham?"
Ghaiska mendongak balas menatap Gavrill. Dia mengangguk-angguk.
"Bagus." Gavrill menepuk rambut Ghaiska lembut. Amarahnya tiba-tiba mereda saat Ghaiska lebih memilih bersamanya. "Gue liat lo jatuh. Mana yang sakit?" tanyanya lembut.
Ghaiska mengangkat sikunya yang terluka karena jatuh mengejar Alve. "Ini sakit." keluhnya lirih. Lalu menunjuk kedua lututnya yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah. "Ini sakit juga..."
Gavrill berbalik memunggungi Ghaiska, lalu berjongkok. "Naik, gue gendong masuk ke dalem."
Ghaiska terdiam. Dia meluruskan pandangan menatap Erita yang hanya terdiam tidak jauh dari mereka. "Gavrill, aku bisa jalan sendiri." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ghaiska, naik ke punggung gue." perintahnya. Gavrill mengikuti arah tatapan Ghaiska, seolah mengerti kekhawatirannya, dia mengimbuhkan. "Erita nggak bakal marah. Gue cuma bantu lo."
Gavrill menghela napas melihat Ghaiska terdiam. "Erita, kamu nggak apa-apa kan aku gendong Ghaiska?" tanyanya.
Erita balas menatap Gavrill, lalu menoleh ke arah Ghaiska. Dia mengangguk sambil tersenyum. "Iya, nggak apa-apa."
"Liat Erita nggak masalah. Jadi cepet naik sekarang, Ghaiska."
Ghaiska ragu sesaat sebelum akhirnya menurut. Dengan hati-hati dia naik ke punggung Gavrill, tangannya melingkar di leher cowok itu, mencengkeram pelan. Tubuhnya sedikit menegang saat Gavrill berdiri, mulai melangkah memasuki rumah. Ghaiska menunduk, wajahnya dekat dengan bahu Gavrill. Ada rasa hangat yang membuatnya dia nyaman.
"Ghaiska," panggil Gavrill.
"Em?"
"Lo berat juga ternyata." ucapnya lalu tertawa saat cewek itu menggigit bahunya kesal.
"Gavrill, aku nggak gendut!"
"Hahaha!"
Di belakang mereka, Erita berjalan pelan, langkahnya nyaris tanpa suara. Matanya tak lepas memperhatikan interaksi Gavrill dan Ghaiska di depan sana.
Kedua tangan Erita terkepal di sisi tubuhnya. Ada rasa panas yang menjalar pelan di dadanya, bercampur dengan ketakutan yang tak ingin ia akui. Bibirnya bergetar tipis sebelum akhirnya suara lirih itu lolos begitu saja.
“Mereka… mulai dekat lagi…”
***
Haloo!
Kembali lagi di cerita saya yang gak kelar-kelar ini hehe. Dari saya masih kelas 3 SMP nulis nih cerita, sampai saya udah kerja sekarang, ceritanya belum tamat juga.
Sejujurnya saya sempet mikir mau hapus aja, tapi sayang. Saya juga udah lupa alurnya, jujur agak merinding pas baca ulang liat tulisan saya haha.
Semenjak kerja, saya sibuk banget. Pas pulang udah capek juga. Tapi insyaallah saya bakal mulai update lagii...
Terimakasih untuk kalian yang udah baca dan vote cerita saya.
See youuu!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekalantha
Roman pour AdolescentsSeka Alantha tak pernah menyangka bahwa jatuh dari tangga akan mengubah hidupnya selamanya. Saat membuka mata, dia tidak lagi berada di dunianya sendiri melainkan terbangun di dalam novel yang pernah dia baca. Masalahnya, dia bukan tokoh utama. Dia...
