Teriakan itu membuat semuanya mematung.
Cullen terhenti.
Dia melepaskan cekikkannya membuat Seka terbatuk. Jatuh berlutut di lantai roftoop. Nafas Seka tersengal, dadanya naik turun cepat. Seka menyentuh lehernya sendiri. “Aku bukan Ghaiska…” ulangnya lirih.
Pana yang pertama kali tersadar, melangkah maju satu langkah, ragu-ragu. Tatapannya menyapu wajah Seka yang pucat, bibirnya pecah, dan tubuhnya yang gemetar hebat. "Maksudnya lo alter ego?" tanyanya ragu.
“Aku enggak tahu.” Seka menggeleng lemah. Suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri yang masih tersengal.
“Setiap aku marah… aku nggak bisa ngendaliin tubuh aku sendiri.”
Cullen menatapnya tajam, rahangnya mengeras. “Lo mau nyalahin emosi lo sekarang?”
“Enggak,” Seka cepat menyahut. Matanya berkaca-kaca. “Aku tau itu salah. Tapi rasanya kayak… aku ada di dalam tubuh aku sendiri, tapi bukan aku yang pegang kendali.”
Kalimat itu membuat Pana menegang.
“Kayak lo cuma… ngeliat?” tanyanya pelan.
Seka mengangguk ragu. “Iya. Kayak ada bagian dari diri aku yang muncul. Marah, dendam, penuh benci. Dan aku… ketarik.”
Gavrill melangkah mendekat, masih menggendong Erita. Tatapannya tak lagi sepenuhnya dingin, tapi juga belum lunak. “Sejak kapan?” tanyanya.
“Aku… nggak tau pastinya,” ucapnya pelan. Matanya turun, menghindari tatapan siapa pun. "Tapi akhir-akhir ini setiap aku ngerasa tenang, setiap aku ngerasa nyaman, perasaan itu muncul.”
Gavrill mengernyit. “Perasaan apa?”
Seka menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Takut kehilangan."
Ia mengangkat wajahnya sedikit, tatapannya goyah. "Aku seneng kalo ada di deket kamu,” katanya jujur pada Gavrill.
“Dan waktu Erita nyuruh aku buat menjauh… rasanya kayak ada sesuatu di dalam diri aku yang marah banget.” lanjutnya.
"Lo cemburu?" tanya Pana.
Seka balas menatapnya. Dia berkata pelan, "Iya, Pana. Aku ngerasa semua rasa sakit lama numpuk jadi satu. Dikhianatin. Ditinggal. Ngerasa nggak dianggap.”
"Terus nama lo siapa?"
Seka menatap mereka satu persatu. Dia berkata, "Aku Seka. Nama aku Seka."
"Jadi selama ini yang bareng sama kita itu Seka?" tanyanya. "Karakter lo yang cengeng, penakut, pemalu itu Seka?"
Seka mengangguk.
"Kamu bukan Iska?" Erita mengangkat suara. Dia menatap Seka sedih. Seka mengangguk bersalah.
"Maaf, Erita. Aku nggak maksud bohongin kamu sama yang lain." Seka menunduk.
Gavrill menatap Seka lama. "Ghaiska." panggilnya. Seka menoleh. “Gue nggak bisa langsung percaya sepenuhnya."
“Aku ngerti.”
“Tapi kalo yang lo bilang itu bener,” lanjut Gavrill, “itu masalah buat kita termasuk keamanan Erita."
"Gue pikir dia jangan deket-deket kita lagi." Cullen menyahut. Tatapannya tajam. "Kita nggak boleh ambil risiko. Kita bahkan nggak tahu kapan Ghaiska muncul, jadi buat nyari aman kita nggak boleh berurusan sama dia lagi."
"Lo keterlaluan." Pana mendekat pada Seka. Dia berjongkok membantu Seka berdiri. Pana menyembunyikan tubuh Seka di belakang tubuhnya. Mau bagaimanapun selama ini gadis itu sudah dekat dengan mereka. Seka sudah berusaha berubah, meminta maaf atas kesalahan yang bukan dia lakukan.
"Gue yang bakal awasi Seka. Kalian semua nggak usah khawatir kalo dia bakal nyakitin Erita." katanya tegas.
"Gue pastiin semuanya bakal baik - baik aja."
***
Semenjak kejadian itu, Seka dan Pana berpindah duduk. Mereka duduk bersama di depan kelas jauh dari Gavrill, Cullen dan Erita. Seka menjaga jarak dengan Erita. Mereka hanya bertegur sapa saat tidak sengaja berpapasan. Senyum singkat, anggukan kecil, lalu berlalu seolah tak pernah ada apa-apa di antara mereka.
Seperti yang Pana katakan saat itu, dia selalu berada di sisi Seka. Menemani Seka pergi kemanapun.
"Pana..." panggil Seka. Pana menoleh, balas menatapnya. "Kamu kenapa percaya sama aku?"
Mereka berada di perpustakaan. Guru yang mengajar tidak masuk. Seka mengajak Pana pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu disana. Seperti biasanya Pana selalu menyetujui ketika dia meminta sesuatu tanpa protes. Meskipun cowok itu tidak menyukainya.
"Seka, gue tahu lo baik." jawab Pana. Setelah tahu cewek di hadapannya bukan Ghaiska, Pana mulai memanggil nama aslinya walaupun merasa sedikit tidak terbiasa.
"Tapi aku takut." Seka meremas ujung roknya cemas.
Takut Ghaiska kembali mengambil alih tubuhnya dan menyakiti Erita kembali.
"Jangan takut, Seka. Gue bakal selalu jagain lo oke?"
"Aku mau pindah sekolah." Seka mengulum bibirnya. "Tapi aku nggak bisa. Setiap aku mau ngomong ke orang tua Ghaiska, tenggorokan aku kaku. Suara aku tiba-tiba hilang. Aku nggak bisa ngomong apapun." lanjutnya putus asa.
Pana mengulurkan tangan. Mengusap rambut Seka dengan kaku. Berusaha menenangkan Seka. "Gue pikir Ghaiska muncul pas lo liat Erita bareng Gavrill. Jadi untuk sementara ini kita usahain jangan terlalu sering di dekat mereka."
“Tapi, Pana…” Suaranya hampir seperti bisikan. “Mau gimana pun ini bukan tubuh aku.”
Dadanya terasa sesak.
“Aku bukan Ghaiska. Suatu saat nanti, Ghaiska bakal ngambil alih tubuh ini lagi.” Mata Seka berkaca-kaca.
“Dan aku nggak bisa ngelakuin apa-apa, selain menghilang dari kalian semua.” lanjutnya.
Kalimat itu menghantam Pana lebih keras dari yang ia duga.
"Jangan ngomong gitu." Pana mengepalkan tangannya.
“Tapi itu kenyataannya—”
“Gue nggak peduli.” Pana memotong tegas. Dia menatap Seka serius.
“Selama lo masih ada di sini, selama lo masih Seka…”
“Satu langkah pun, gue nggak bakal ninggalin lo.”
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekalantha
Teen FictionSeka Alantha tak pernah menyangka bahwa jatuh dari tangga akan mengubah hidupnya selamanya. Saat membuka mata, dia tidak lagi berada di dunianya sendiri melainkan terbangun di dalam novel yang pernah dia baca. Masalahnya, dia bukan tokoh utama. Dia...
