"Andai semua berjalan seperti yang kami harapkan."
______________________
"Happy Valentine, (Name). Kami menyayangi mu."
_____________________
_________
12 February 2xxx
"Morning sweetie, gimana tidur nya? Nyenyak?"
Kedua sudut bibir itu tertarik ke atas, membentuk senyum lembut yang menawan. Tatapan nya teduh, paras nya begitu ayu dan menenangkan jika dipandang, aura di sekitarnya penuh kelembutan, sosok nya terlihat ringkih dan lemah, terbaring di atas ranjang rumah sakit sejak satu Minggu yang lalu.
Hangat sinar matahari menyinari tubuh nya dari balik kaca jendela yang tak ditutupi gorden, tak ada gerak-gerik rasa risih yang gadis itu keluarkan, justru ia terlihat sangat nyaman.
"Pagi kak. Tidur nya nyenyak kok, disini nyaman." Sang gadis memberikan anggukan lemah.
Sang kakak—Tooru yang sudah berdiri di samping kasur sang adik—(Name) ikut tersenyum lembut, dia menaruh beberapa tungkai bunga matahari di dalam vas berisi sedikit air.
"Ada yang dirasa? Sakit? Mual? Pusing? Nyeri? Linu?" Tanya nya lagi bertubi-tubi.
(Name) menggeleng dengan kekehan geli. "Enggaak, gak adaa kak. Adek udah enakan kok dari yang kemarin." Balas nya dengan cengiran tak terlalu lebar.
Tooru mengangguk. "Mau jemur pagi?"
"Mauu,"
Tooru tersenyum menyambut keantusiasan (Name), hati nya menghangat melihat senyum sang adik yang selalu terukir. Waktu masih mempertahankan nya, mempertahankan salah satu harta berharga yang ia miliki. Adik nya masih bertahan di dunia ini, memperjuangkan hidup nya dengan selang infus yang senantiasa tertancap di punggung tangannya yang kurus. Senyum nya tak pernah pudar, walau tahu bahwa hidupnya tak lagi sepanjang tarikan nafas nya.
Alam masih ingin melihat senyum nya, senyum sang pecinta bunga matahari.
Dinding rumah sakit menjadi saksi bisu perjuangan nya untuk tetap hidup, dari matahari terbit hingga kembali terbit, ranjang yang ia tiduri menjadi pendengar tiap bait doa yang selalu ia lontarkan. Doa yang sama di setiap waktu, diiringi rintihan rasa sakit yang selalu menyiksa tubuh. Tiap detik rasa sakit bagai tanda bahwa waktunya kian singkat.
Dengan lembut Tooru mengangkat tubuh ringkih sang adik untuk duduk di atas kursi roda, cairan infus nya ia gantung di tiang infus kursi roda. Telinga nya dengan baik mendengar tiap kata yang di lontarkan (Name) dengan ceria, suara nya begitu ia resapi, menyimpannya dalam dalam kedalam memori, seolah itu hal berharga yang harus ia simpan.
"Kucing nya kawin kemarin! Terus sama anak kecil malah dipisahin." Tooru tersenyum tipis begitu mendapati (Name) yang tiba-tiba murung perkara kucing gagal kawin.
"Pagi suster Allisa!" Sapa (Name) ceria pada sang suster yang biasa merawat nya.
Allisa tersenyum, si pemilik marga Haiba itu mengusap puncuk kepala (Name). "Pagi (Name), mau berjemur ya?"
"Iyaa,"
"Okay, jangan lama lama yaa. Cepet sembuh cantik."
(Name) mengangguk semangat, dia melambai saat suster Allisa berpamitan pada nya. Setelah itu tak ada lagi perbincangan antara kedua adik kakak itu, (Name) sibuk menyapa penghuni rumah sakit. Dari yang lansia hingga anak anak, para suster, perawat, dan dokter. Bahkan pekerja kebersihan ia sapa.
Angin pagi menerpa kedua nya begitu mereka sampai di taman rumah sakit, (Name) memejamkan mata menikmati terpaan angin di wajah nya, hingga senyum nya merekah manis saking senangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haikyuu Academia
Fantastik⋆˚࿔ ʰᵃᶦᵏʸᵘᵘ academia 𝜗𝜚˚⋆ • • • "Selamat datang di akademi Haikyuu! Nyaman kan dirimu dan nikmati perjalanan ini!" ∘₊✧─────✧₊∘ Disclaimer seluruh character bukan milik saya, saya hanya menambahkan tokoh serta alur cerita. Saya hanya meminjam char...
