# 2 . 19

291 46 10
                                        

Happy reading ❤️

Wakatoshi menatap sobekan kertas yang hinggap di telapak tangan nya yang sedang terbuka. Kertas itu berisi tulisan jelek bertuliskan "terimakasih! ><", Apa apaan itu. Tendou melirik, seringai menyebalkan nya mulai terlihat. "Surat cinta, huh?" Celetuk nya di akhiri siulan menggoda.

Wakatoshi berdecak kecil, kepo banget sih setan merah ini. Berbanding terbalik, Shirabu tengah mengamati sekitar tanpa menyembunyikan rasa takjub nya. Menurut nya apa yang (Name) lakukan itu adalah sulap luar biasa, dia tak pernah bertemu dengan orang yang memiliki ruang tanpa batas se indah itu. Yang selalu ia temui hanyalah warna flat, kusam, seram, nyentrik, gelap. Ragam budaya lah, aneh lagi.

"Ku kira isi nya bakal air semua," celetuk pemuda itu. "Kayak punya Tendou aja, mentang-mentang naga api, ruangan tak terbatas isi nya udah kayak neraka. Panas, api semua."

Tendou mendelik sinis. "Berisik."

Wakatoshi diam diam memasukkan tangannya ke dalam kantung celana, menyentuh satu tangkai bunga yang tak sengaja Ter petik di ladang bunga (Name).

"Bunga itu seindah rupa nya."

________________________
_____________

Suasana kelas Karasuno sedang di landa kecemasan. Kei mengalami pendarahan hebat, kekuatan Koushi hanya mampu menutup beberapa bagian luka, kekuatannya tak cukup apabila harus menyembuhkan seluruh nya. Peringatan dari Grace Zoe juga sudah berulang kali terdengar, untuk menyuruh Kei menyerah dan di obati di gedung kesehatan.

Namun Kei menolak, dia masih ingin tetap bertahan.

"Ayo lah Kei, kau mau mati kah?" Gereget Ryosuke yang nyaris menangis di pundak Kiyoko.

"Gakpapa kok berkurang lagi satu, kamu gak salah, kamu bukan beban." Bujuk Shoyou.

"Aku juga tak bisa menyembuhkan mu lebih jauh dari ini. Ini sudah parah,"

"Lagian setan merah itu kenapa sih? Orang gila." Sungut Noya.

(Name) berdiri tegap di samping Daichi, kepala nya tertunduk lesu. Sementara Daichi, tampak menatap kosong ke depan.

Ini semua salah nya.

Seharusnya ia tak mengatakan itu.

Sekarang lihat, teman temannya terluka parah akibat ucapannya.

"Maaf." Gumam (Name) lirih, tanpa sadar tangan kanannya mengusap lengan kiri nya.

Mereka menoleh, menatap (Name) yang tampak frustasi. "Aku salah, ini semua karena aku. Seharusnya aku tak berbicara bodoh seperti itu, aku salah. Maaf."

Mereka diam.

"Ini memang salah mu." Sahut Tobio, dengan tatapan tajam. Ryosuke hendak protes, namun di tahan Kiyoko.

"Ini salah mu, membuat kami terpengaruh ingin terus tetap bertahan. Ini salah mu, membuat kami sadar betapa penting nya kerja sama tim. Dan ini salah mu, karena semua perkataan mu terbukti benar. Bagaimana fatal nya jika tak mempercayai rekan tim sendiri. Kita nyaris kehilangan setengah pasukan karena perkataan mu. Ini semua salah mu, (Name). Salah mu karena baru datang sekarang, bukan di awal tahun ajaran. Kami membutuhkan mu, kamu bukan lah penghalang kami."

(Name) menggenggam tangannya yang gemetaran, perkataan Tobio terasa menusuk sekaligus menghangatkan.

Dia niat muji apa gimana sih?

"Sudahlah, jangan nangis. Bukan kamu banget." Ledek Kei lirih.

(Name) menautkan alis. "Siapa yang nangis?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 11 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Haikyuu Academia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang