"Bagaimana jika aku gagal?"
Helaan nafas lelah keluar dari bibir nya. Lebih baik ia berlatih lagi. Netra nya bergulir menatap jam dinding yang memang sengaja di pasang di dinding kamar mandi untuk mengingatkan nya saat berlatih. Jam menunjukkan pukul 4 pagi, terhitung empat jam lama nya setelah ia selesai berlatih dengan Tooru jam 12 malam.
Mata nya belum sedikitpun terpejam untuk istirahat. Jiwa nya terus menerus menempa sang raga untuk menjadi pedang tak terkalahkan. Ia berdiri, seluruh tubuh nya yang basah menjatuhkan bulir bulir air yang mengucur deras dari tubuh, turun ke bawah dan menetesi air di bathtub. Volume air itu memantulkan sosok nya yang begitu pucat bagai tak ada kehidupan.
Rasa hangat yang awalnya ia rasakan saat mengaliri seluruh tubuh nya dengan kekuatan, berubah menjadi rasa dingin luar biasa yang menusuk hingga ke tulang. Tangan nya buru-buru menyambar jubah mandi guna menghangat kan tubuh nya.
Ia bahkan tak sadar kapan gangguan itu datang
Telapak kaki itu secara perlahan melangkah keluar bathtub, menginjak dinginnya lantai kamar mandi di jam empat pagi. Langkah nya begitu pelan, dan penuh kehati-hatian, setiap langkah menciptakan hembus nafas yang bergetar. Telinga nya berdenging akibat teriakan teriakan yang terus berteriak di sekelilingnya. Seolah mengelilingi nya. Kepala nya berdenyut sakit saat ia terus melihat makhluk-makhluk mengerikan yang menampakkan diri di sekitarnya.
"Brengsek." Umpat nya, dengan bibir bergetar akibat kedinginan. Ia membuka lemari, mengambil jaket parasut, celana training tebal, dan topi. Dengan cekatan semua benda itu terpasang apik di tubuh ramping nya.
Setelah lama berpikir, lari sepertinya bisa membuat pikiran nya tenang sejenak. Sejak tadi entah mengapa ia merasa gelisah dan takut. Dua kelereng indah itu menatap Kiyoko dan Hitoka yang masih tertidur, mereka berdua ketiduran saat menunggu nya pulang tadi malam.
(Name) tersenyum tipis, dia membuka pintu kamar setelah membuka kunci. Langkah nya begitu ringan saat melewati koridor gedung asrama, ia memilih menuruni tangga daripada menggunakan lift. Begitu pintu masuk gedung terbuka, hawa dingin langsung menyerbu tubuh nya. Bagai ratusan jarum di udara, rasa dingin itu langsung menembus jaket parasut nya lalu menusuk tubuh nya dari bebagai arah.
Nafas nya bahkan beruap saking dingin nya
(Name) melangkah santai mengelilingi daerah akademi, termasuk taman yang biasa ia gunakan untuk belajar bersama Shinsuke. Ia merasa tidak bisa tenang, dan pikiran nya terus menyuruh nya untuk kembali berlatih.
Bukankah ia sudah cukup kuat?
(Name) yakin ia bisa, namun entah mengapa pikiran nya terus menolak hal itu. Gadis itu nyaris berteriak frustasi, ia mengubah tempo langkah nya menjadi berlari. Melawan suhu dingin yang begitu menusuk, hingga tanpa sadar ia lupa cara nya mengatur nafas saat berlari.
Lari nya kian cepat, namun (Name) tak mampu bernafas dengan baik. Ia seolah di cekik dari berbagai arah, kaki nya tak bisa berhenti berlari, suara suara itu kian membesar, berbisik kencang mengelilingi nya. Nafas itu semakin tipis dengan tempo lari makin cepat, paru-paru nya tercekik, membutuhkan pasokan oksigen segera. Keringat dingin membanjiri wajah nya, ia menggigit bibir bawah nya. Pikirannya berteriak untuk berhenti—
BRUAK!
Mata nya membulat bersamaan dengan tubuh nya yang terhempas setelah menabrak sesuatu.
BUGH!
Punggung nya menghantam sandaran kursi taman, ia mendarat telak di kursi itu. Nyaris terjungkal ke belakang bersama dengan kursi itu saking kuat nya tubuh nya menghantam, dia menunduk dan mengatur nafas. Bisa kembali bernafas begitu terduduk di kursi taman, nafas nya memburu, meraup oksigen sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan pelaku yang menjadi alasan nya tertabrak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haikyuu Academia
Fantasy⋆˚࿔ ʰᵃᶦᵏʸᵘᵘ academia 𝜗𝜚˚⋆ • • • "Selamat datang di akademi Haikyuu! Nyaman kan dirimu dan nikmati perjalanan ini!" ∘₊✧─────✧₊∘ Disclaimer seluruh character bukan milik saya, saya hanya menambahkan tokoh serta alur cerita. Saya hanya meminjam char...
