Chapter 33

2.8K 72 6
                                        

Happy reading!

Petra POV

Pagi di Jakarta menyambut dengan kehangatan yang berbeda. Setelah perjalanan panjang dari Frankfurt, transit di Abu Dhabi, lalu melanjutkan penerbangan ke Indonesia, aku tidak terlalu ingat bagaimana akhirnya kami sampai di apartemen. Semuanya terasa seperti potongan gambar yang kabur—wajah Dimas yang selalu ada di sisiku, genggaman tangannya yang menuntunku, aroma khas tubuhnya yang samar-samar menembus kesadaranku yang dikuasai rasa lelah.

Ingatan terakhirku hanya pesawat yang membawa kami pulang. Setelah itu, gelap.

Kesadaran mulai merayap perlahan ketika aku merasakan sesuatu yang berat dan hangat melingkari tubuhku. Sentuhan familiar yang sudah terlalu sering kurasakan. Aku mendesah pelan, mataku masih berat untuk terbuka, tubuhku langsung menyadari keberadaannya.

Dimas.

Lengan kekarnya melingkari pinggangku dari belakang, mendekap erat seolah aku adalah miliknya—dan memang begitu adanya. Napasnya yang stabil berhembus hangat di tengkukku, menciptakan sensasi panas yang membuatku menggeliat kecil tanpa sadar.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Kehangatan ini terasa lebih nyata. Lebih... terbuka.

Dengan sedikit usaha, aku berbalik, dan saat itulah kesadaranku pulih sepenuhnya.

Mataku membelalak.

Dimas tidak mengenakan sehelai benang pun.

Aku sontak menegang, jantungku berdebar tak karuan. Dalam hitungan detik, pikiranku melesat ke arah yang tak seharusnya. Apa yang terjadi tadi malam? Apakah dia—kami—

"Mana pakaianmu, Dimas?!"

Dimas hanya menggeliat pelan, tidak terpengaruh oleh keterkejutanku. Mata gelapnya yang masih sedikit sayu melirik ke arah jam digital di atas nakas, lalu ia bergumam malas, "Panas."

Panas?

Aku ternganga menatapnya. Tubuhku memang sedikit berkeringat karena suhu Jakarta yang lebih hangat dibandingkan Eropa, tetapi tetap saja... tidur tanpa pakaian sama sekali?

Dimas menghela napas panjang, tampak kesal karena tidur nyenyaknya terganggu. "Aku tidak akan melakukan hal itu sampai kau sudah siap, Petra," suaranya dalam dan serak karena baru bangun tidur.

Aku mengembuskan napas lega, tetapi wajahku tetap terasa panas.

Tanpa menunggu responsku, Dimas beralih duduk di tepi ranjang. Dengan gerakan santai, ia meraih handuk yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, lalu bangkit dari tempat tidur.

"Kau mau ke mana?" tanyaku, memperhatikannya berjalan menuju kamar mandi.

"Tidur," jawabnya santai. Namun, sebelum aku sempat menanggapi, dia berbalik, menatapku dengan seringai khasnya, lalu mengangkat sebelah alis. "Kau tidak melihatnya? Aku membawa ini untuk apa?"

Aku hanya mengangguk kecil, membiarkannya pergi. Aku sendiri masih berusaha mengumpulkan kesadaranku di atas kasur, ketika tiba-tiba aku merasa kehadirannya lagi di dekatku.

Dari ekor mataku, aku menangkap seringai licik yang bertengger di bibirnya. Aku langsung bisa menebak apa yang akan dia ucapkan.

"Ah! Aku tahu! Kau sedang memberi kode karena ingin mandi bersama, kan?"

Refleks, aku meraih bantal dan melemparkannya ke arahnya. Namun, dengan gesit ia menghindar, tawanya pecah.

"Dimas—"

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang