song:
Cross Your Mind - Sabrina Claudio
Selamat membaca!
10 tahun kemudian
Langit sore merona keemasan menyapu halaman rumah megah itu, namun di dalam, suasananya justru semakin kelam. Petra berdiri mematung, tubuhnya kaku dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya. Gadis itu menatap Andrew, pria di hadapannya, dengan sorot mata penuh amarah yang begitu menyala. Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah terisi oleh ketegangan yang tak kunjung surut.
Petra, yang dulu hanyalah seorang gadis kecil yang gemar merengek, kini menjelma menjadi remaja yang berani melawan. Hidungnya yang mancung, bibir tipisnya, dan mata cokelatnya yang biasanya menyiratkan kelembutan kini dipenuhi rasa terluka. Wajah cantik itu berkerut, terbakar emosi yang sejak tadi bergejolak di dadanya.
"Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak mau pergi ke sana, Ayah?!" suaranya lantang, penuh ketegasan. Petra mengacuhkan fakta bahwa nada suaranya yang meninggi pasti membuat pria di hadapannya semakin kehilangan kesabaran. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya ingin suaranya didengar.
Andrew berdiri tegap di depannya, kedua tangannya kini terlipat di dada. Sorot matanya tajam, penuh otoritas. Ia berusaha menahan emosi, tetapi keberanian Petra yang terus menyerangnya membuatnya seperti sedang melawan badai. Napas Andrew terdengar berat saat ia menjawab dengan suara yang tak kalah tegas.
"Ayah tidak peduli, Petra! Kau akan pergi ke sana. Semua sudah Ayah urus. Sekolahmu, tempat tinggalmu, semuanya sudah siap. Tiket pesawatmu pun sudah dipesan. Kau akan berangkat satu minggu lagi!" Nada suaranya bagai gemuruh, menutup semua celah untuk diskusi lebih lanjut. Andrew jarang meninggikan suara, tetapi saat ini, ia merasa itu satu-satunya cara agar Petra berhenti.
Petra terdiam beberapa detik, seperti sedang mencerna kata-kata ayahnya. Tapi keheningan itu tidak berlangsung lama. Dadanya naik turun, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menyeruak, membasahi pipinya yang merah karena emosi. "Kenapa Ayah melakukan ini padaku?" ucapnya dengan suara yang bergetar, hampir tidak terdengar. Isaknya mulai terdengar, menggema di tengah ruang tamu yang kini sepi dari suara lain.
Andrew terdiam, hatinya bergetar mendengar tangisan putrinya. Namun, ia memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ada alasan di balik semua ini. Alasan yang tak bisa ia jelaskan sekarang. Ketika ia membuka matanya lagi, suaranya terdengar lebih rendah, lebih lembut, meski tetap mengandung ketegasan yang tak bisa ditawar.
"Karena Ayah menyayangimu, Petra," ujarnya.
Petra tersentak, lalu tertawa kecil—tawa yang getir dan penuh luka. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Andrew dengan sorot yang penuh kekecewaan. "Begini cara Ayah menyayangiku?" tanyanya, nadanya begitu tajam. "Membuang anaknya ke orang asing, seperti barang yang tidak diinginkan?"
Andrew menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Namun, bibirnya terlalu berat untuk mengucapkannya. Kata-kata itu terjebak di tenggorokannya, tertahan oleh kebingungan dan kemarahannya sendiri.
Namun, Petra tidak membiarkan kesunyian itu bertahan lama. Ia melangkah mendekat, menantang Andrew dengan keberanian yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Semua emosi yang bergejolak di dadanya kini keluar tanpa kendali.
"Apa Ayah berniat mendekati perempuan murahan yang ingin mendekatimu selama ini dan membuangku supaya kalian bisa bersama?!" serunya, nyaris histeris. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, penuh amarah dan rasa terluka.
Andrew membatu. Kata-kata itu seperti cambuk yang menyayat seluruh dirinya. Napasnya terhenti sejenak, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Mata pria itu menatap Petra, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
