Happy reading!
Petra POV
Dimas yang tadinya duduk di tepi kasur, membelakangiku, kini perlahan memutar tubuhnya ke belakang. Mata gelapnya bertemu dengan mataku. Pandangannya begitu tajam, intensitasnya terlalu berbahaya, napasku tercekat di tenggorokan.
Aku melihat senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang selalu membuatku waspada.
Keningku mengernyit. Ada apa?
Aku mengikuti arah tatapannya yang turun perlahan, memperhatikan tubuhku dengan sorot mata yang begitu kentara. Aku refleks menunduk dan barulah aku menyadari sesuatu—handuk ini terlalu pendek, terlalu tipis, dan terlalu berisiko.
Dimas mengangkat sebelah alisnya, senyuman di wajahnya semakin lebar, seolah ia bisa membaca dengan jelas apa yang ada di dalam kepalaku. "You look tempting with that towel, Petra."
Aku menghela napas panjang, berusaha mengendalikan debaran liar di dadaku. "Aku baru selesai mandi."
Langkahnya maju mendekat, lambat, santai, tapi penuh intensi tersembunyi. Aura maskulin yang dipancarkannya begitu kuat, begitu mendominasi, hingga udara di sekitarku terasa lebih panas.
"That's not an excuse to not look tempting," gumamnya.
Aku mundur setengah langkah, tapi ia sudah lebih dulu berada di hadapanku. Keberadaannya terlalu dekat, terlalu akrab dengan batas-batas pribadiku. Kehangatan tubuhnya merembes masuk, menembus serat handuk yang membungkus tubuhku.
Tangannya terangkat, menyentuh lenganku dengan gerakan yang nyaris seperti belaian. Jari-jarinya bergerak perlahan, naik hingga ke bahuku, membuat bulu kudukku meremang karena sensasi yang ia tinggalkan.
"Kau wangi," bisiknya, suaranya rendah, serak, dan menggetarkan.
Aku menahan napas sejenak, merasa semakin terjebak dalam atmosfer yang diciptakannya.
"Apa yang kau pakai?"
"Tidak ada... hanya sabun beraroma tuberose dan white floral," jawabku dengan suara hampir berbisik.
Dimas mengangguk pelan sebelum menundukkan wajahnya, mendekat hingga hidungnya hampir menyentuh kulitku. Aku bisa merasakan napasnya menyapu lembut di sepanjang leherku, mengirimkan sensasi panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuhku.
Kemudian, ia menghirup aroma di sana, tarikan napasnya lambat, dalam, seakan sedang menghafalkan setiap detil wangiku.
"Ini wangi yang sama saat di supermarket," gumamnya di dekat telingaku. "Tapi lebih enak ketika kucium langsung dari kulitmu."
Jantungku berdebar keras, nyaris kehilangan irama.
"Dimas..." Aku mencoba memperingatkannya, tapi suaraku justru terdengar seperti rintihan pelan, lebih seperti seseorang yang sedang haus akan sesuatu yang tidak seharusnya ia inginkan.
Ia menarik wajahnya sedikit, cukup untuk menatapku dalam jarak yang terlalu berbahaya. Bibirnya hanya beberapa inci dari milikku, terlalu dekat, terlalu mengundang.
"Hmm?" gumamnya, nada suaranya seperti tantangan terselubung.
Aku membuka mulut untuk berbicara, tapi tak ada satu pun kata yang keluar.
Dimas tersenyum kecil, senyum khasnya yang berbahaya. Tangannya yang tadi bertengger di bahuku kini bergerak turun, menyusuri lekuk pinggangku yang masih terbungkus handuk tipis. Jemari besarnya melingkar di sana, menarikku lebih dekat, membuat dadaku menempel pada tubuhnya yang hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
