Sengaja aku bagi biar gak terlalu panjang
Biar kalian gak bosen bacanya wkwk
Happy reading!
Petra POV
Aku menggigit bibirku dalam ketika Dimas merendahkan tubuhnya, satu tangannya menahan pinggangku erat, sementara yang lain menggenggam miliknya yang kini semakin mengeras. Ia menurunkannya, mengarahkannya perlahan ke bibir paling sensitifku. Mengusap, menggoda, membuatku hampir menangis karena terlalu ingin.
"Dimas..." gumamku nyaris tak terdengar.
"Kalau kau ingin aku melakukannya," bisiknya sambil menekan sedikit ke arahku, "katakan padaku, Petra."
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terasa kering, lidahku kelu. Tapi tubuhku sudah bicara lebih dulu—bergetar, menggeliat, meminta.
"Please..." bisikku akhirnya, hampir tak terdengar.
Dimas menyeringai, penuh dosa. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Say it louder," gumamnya, suara dalamnya membuat tubuhku bergetar.
Dimas tersenyum puas. Ia semakin menekan kejantanannya ke atas milikku, menimbulkan gesekan hangat dan menegangkan yang membuatku menggeliat tak terkendali. Pinggulku refleks bergerak menyambutnya, tubuhku menjerit menginginkannya.
"Just do it."
"Aku tidak mendengarnya." Senyuman itu muncul lagi. "Say it properly, Petra. Beg for it like you mean it."
Aku akhirnya mengangguk cepat, napasku terengah. "Please, Dimas. I want you—inside me. Now. I'm begging you."
Tatapan mata Dimas meredup. "That's what I wanted to hear." Dimas menyeringai, sorot matanya menggelap.
Tangannya menyapu pahaku, mendorongnya terbuka lebih lebar. "Now spread those legs for me, sweetheart." Suara itu seperti desahan yang ditahan terlalu lama.
"I'm going to fill you up tonight." Ia menunduk, membisikkan kata-katanya tepat di telingaku, suaranya beratnya yang membuatku merinding, bibirnya kemudian turun, mengulum putingku yang sudah mengeras.
Dimas menegakkan tubuhnya, satu tangannya menuntun kejantanan itu tepat ke arah milikku. Ujungnya menggesek pelan, lalu menamparnya ringan—cukup untuk membuatku menggeliat dan tubuhku bereaksi spontan. "I'm gonna make you pregnant. I'm gonna plant my seed so deep inside that pretty little womb of yours."
Aku hanya bisa terdiam, tubuhku tegang menanti miliknya.
Setelah mengarahkan kejantanannya ke arah milikku, Dimas akhirnya mendorong pinggulnya, desahan pelan pun keluar dari bibir kami, bersamaan. Gerakan pertamanya membuatku menggigit bibir, aku mencengkeram bahunya dengan kuat.
"Kau merasakannya?" gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar, namun menggetarkan. "Itu milikku."
Dimas menunduk, jemarinya menyelip di bawah daguku, mengangkat wajahku hingga mata kami bertemu. Pandangannya berubah lembut, namun juga ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan—seolah ia ingin menghancurkan tembokku dengan perlakuan manisnya.
Dimas memulainya perlahan, memainkan pinggulnya dengan gerakan lambat yang membuatku menahan napas. Miliknya merayap masuk dan keluar, membelah kehangatan tubuhku sedikit demi sedikit—menyiksa dengan kenikmatan yang menjalar pelan.
Aku nyaris terbuai—nyaris percaya bahwa malam ini akan berjalan pelan, penuh kelembutan. Tubuhku relaks saat ia mulai melakukannya perlahan, membuatku menahan napas, merasa hangat dan penuh. Ia mencium bibirku, lembut, dalam... membuatku tenggelam.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romansa21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
