Chapter 37

2.3K 75 26
                                        

Happy reading!

Kring!

Suara alarm menggema nyaring di seluruh kampus, menandakan bahwa mata kuliah terakhir telah berakhir. Aku segera keluar, tidak sabar untuk pulang ke apartemen sambil berharap Dimas sudah menungguku di luar. Aku berjalan dengan langkah cepat, ingin segera kembali ke ruang pribadiku—ruang di mana aku bisa kembali menjadi Petra yang bisa bermalas-malasan, jauh dari keramaian, meskipun harus menghadapi Dimas, suamiku yang sulit ditebak. Aku tak pernah tahu, apakah hari ini ia akan menunjukkan sisi dirinya yang panas, manja, atau bahkan menyebalkan.

Di koridor, aku berpapasan dengan seorang gadis yang sebelumnya pernah berangkat kuliah bersama Tara. Gadis itu menyematkan senyum sinis ketika tatapan kami bertemu, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak kunjung terucap. Namun, aku memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Aku meneruskan langkahku hingga ke tepi jalan, sambil mengirim pesan kepada Dimas dan menunggu kedatangannya dengan sabar. Kelas baru saja usai, aku masih berusaha memahami bahwa ia mungkin akan sedikit terlambat menjemputku.

Aku menunggunya di halte bus di depan kampus. Tak lama kemudian, sebuah motor sport berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat di hadapanku. Dari balik helm yang baru saja dilepaskan, tampak wajah tampan Tara, ia tersenyum padaku. Aku seketika merasa sudah bisa menebak kalimat yang akan keluar dari mulutnya.

"Need a ride?"

Aku menjawab, menolak ajakannya. "No, thanks. Sudah ada orang yang akan menjemputku,"

Tatapan Tara sejenak menjadi kosong, kemudian ia menatapku lagi dengan senyum tipis yang penuh misteri—ekspresi yang membuatku heran, ia juga tampak diam, hanya duduk santai di atas motor, meski aku telah menolak tawarannya..

"Ada apa?" tanyaku, penuh rasa ingin tahu.

"Sedang menemanimu sampai kau dijemput."

Aku kembali menolak dengan lembut, "Tidak perlu, dia sebentar lagi akan datang." Namun, Tara tampak kukuh pada pendiriannya.

"Tidak apa-apa, aku ingin bertemu kakakmu dan berkenalan. Apa boleh?" tanyanya dengan nada yang menggelitik, membuatku seketika terdiam. Aku merasa bingung dan terkejut, menyesal mengakui Dimas sebagai kakakku. Bagaimana nantinya? Jika nanti Tara mengetahui bahwa aku yang mengakui Dimaa sebagai kakakku—padahal sebenarnya ia adalah suamiku—tentu akan menimbulkan kebingungan yang luar biasa, belum lagi reaksi Dimas.

Tara menjentikan jarinya di depan wajahku, membawa aku kembali ke realitas. "Are you okay?"

Aku terkesiap dan akhirnya berkata dengan nada berat, "Lebih baik kau pulang. Kakakku, orang yang galak. Dia pasti tidak akan menerimamu semudah itu." Aku berharap dengan sepenuh hati agar Tara menyerah pada keinginannya itu.

Namun, ternyata, Tara masih betah oada pendiriannya, ia menegakkan badan dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak apa-apa, aku suka tantangan."

Sial. Pria satu ini keras kepala.

Aku tak menanggapinya, membiarkan momen itu berlalu dengan keheningan.

Suasana di sekelilingku—suara langkah, riuh canda mahasiswa, dan aroma kopi yang menggoda dari kafe kampus—semuanya seakan menyatu, menciptakan harmoni yang penuh dengan pertanyaan yang menggantung di udara.

"Jadi, bagaimana pertanyaanku kemarin? Kau belum menjawabnya."

Aku menatapnya, mencoba mengingat pertanyaan yang Tara maksud, namun seolah-olah semuanya menguap dari ingatanku. "Pertanyaanmu yang mana?"

Tara berdeham perlahan, sambil merapikan pakaiannya, seperti sedang mempersiapkan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang penting. "Kau mau berkencan denganku, Petra?"

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang