Happy reading!
Petra POV
Dimas masih menggenggam gelas whiskey, namun ia tidak lagi meneguknya. Aku bisa melihat rahangnya yang mengeras, seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.
"Jadi, kalau kau punya pilihan lain, kau akan pergi?" ulangnya, suaranya rendah, hampir tanpa emosi, tapi justru terasa semakin menusuk.
Aku menelan ludah. "Aku... aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya," jawabku akhirnya, namun itu bukan jawaban yang Dimas inginkan.
Dimas tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam suaranya. Ia meletakkan gelas di meja dengan sedikit hentakan yang membuat cairan di dalamnya berguncang. Kemudian ia berbalik, berjalan pelan menuju jendela besar yang mengarah ke dinding kaca apartemen.
Aku bisa melihat bagaimana punggungnya menegang, bagaimana bahunya naik-turun karena tarikan napas yang lebih berat dari biasanya. Aku tahu aku telah menyakiti egonya, mungkin juga perasaannya. Tapi aku juga tidak bisa berbohong, bukan? Aku memang tidak pernah berencana tinggal di sini.
"Kau tahu, Petra?" ucapnya setelah beberapa saat, masih dengan punggung menghadapku. "Aku pikir, mungkin setelah beberapa waktu, kau akan mulai nyaman di sini. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa menjadi seseorang yang kau anggap lebih dari sekadar orang asing yang harus kau tinggali bersama."
Aku membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tapi suara itu tertahan di tenggorokan.
Dimas tertawa lagi, kali ini lebih getir. "Tapi rupanya aku salah. Kau tetap ingin pergi, meskipun aku sudah berusaha membuat semuanya lebih mudah untukmu."
Jantungku mencelos. Ada nada kekecewaan yang jelas di sana.
Aku ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ini bukan soal dirinya, tapi lebih karena keadaannya. Namun sebelum aku sempat mengutarakan apa pun, Dimas sudah berbalik, menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan.
"Jadi, kalau aku menahanmu di sini, kau akan membenciku?" tanyanya, dan kali ini ada luka dalam suaranya yang membuat dadaku terasa sesak.
Aku menatapnya, lidahku kelu. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dimas melangkah mendekat. Sorot matanya gelap, penuh dengan sesuatu yang sulit kujelaskan—kemarahan, luka, atau mungkin harapan yang perlahan runtuh. Tangannya terangkat, jari-jarinya terulur seolah hendak menyentuhku, tapi ia mengurungkan niatnya dan mengepalkan tangannya di udara sebelum akhirnya jatuh di sisi tubuhnya.
"Aku tidak akan memaksamu," katanya lirih, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Kalau kau ingin pergi, aku tidak akan menghentikanmu."
Dada dan perutku terasa melilit mendengar kata-kata itu. Kenapa rasanya malah sakit? Kenapa aku merasa bersalah?
Dimas menatapku sekali lagi, seolah ingin mengingat setiap detail wajahku, sebelum akhirnya ia melangkah pergi, meninggalkanku dalam kebisuan yang lebih menusuk dibanding kemarahannya tadi.
Dimas meletakkan gelasnya dengan hentakan pelan, tapi cukup untuk mengalihkan perhatianku. Aku bisa melihat wajahnya, dipenuhi garis-garis ketegangan yang hampir terlihat fisik. Di bawah tatapan tajamnya, rahangnya semakin mengeras. Seperti ada sesuatu yang ia tahan, sesak di dadanya, dan aku bisa merasakannya meski aku hanya berdiri di ujung ruang.
"Kenapa tidak kau katakan saja sejak awal kalau kau tidak nyaman tinggal di sini?" ucapnya, suara itu terdengar rendah, seperti sebuah bisikan yang nyaris menyentuh kulit. "Aku jadi merasa bersalah, aku seperti memaksamu agar tetap di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
