Happy reading!
Aku menutup mata erat, bersiap menerima apapun yang akan ia katakan. Tapi yang kudengar justru helaan napas panjang. Tidak ada bentakan.
Pelan, aku membuka mata.
"Aku hanya ingin kau menghargaiku, Petra." Bisiknya, suaranya terdengar rendah, aku tahu ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Aku menelan ludah, menatapnya yang kini duduk di tepi tempat tidur, membelakangiku. Punggungnya naik-turun, menandakan ia masih mencoba mengendalikan emosinya. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahku kelu.
Aku menatap punggungnya yang kokoh. Sebelum aku bisa mengatakan apapun, ia kembali berbicara.
"Seharusnya aku tidak berharap banyak padamu, Petra."
Setelah mengucapkan itu, Dimas bangkit. Tubuhnya menegang, tangannya mengepal, lalu tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat menuju pintu apartemen.
"Dimas, tunggu!" Aku hampir tersandung ketika berlari mengejarnya, tubuhku masih hanya tertutup bra dan celana dalam. Aku tidak peduli. Aku harus menghentikannya.
Tanganku terulur, ingin meraih pergelangan tangannya, tapi dengan kasar, ia menepisnya.
"Apa lagi yang harus aku dengar, Petra?" suaranya, matanya berkilat marah. "Obrolan kalian yang menjijikkan itu?"
Aku berdiri di hadapannya, mencoba menghalangi jalannya. Tapi ia tidak mundur. Sebaliknya, napasnya semakin berat. Aku bisa melihat rahangnya mengencang, urat di lehernya menegang.
"Kau mau pergi ke mana?"
"Ke mana saja asal tidak di sini!" matanya berkilat tajam. "Kau ingin kebebasan, bukan? Kau ingin melakukan semuanya sesukamu tanpa perlu mengingatku, kan? Silakan! Aku tidak akan menahanmu lagi!!Aku juga tidak akan memaksamu tetap tinggal di sini!"
Dengan mudahnya ia berjalan melewatiku, meninggalkan jejak dingin yang menusuk tulangku. Aku memanggil namanya lagi, mencoba menggapainya, tapi ia terus berjalan ke arah pintu keluar apartemen.
Saat tangannya meraih kenop pintu, ia berhenti sejenak. Berbalik menatapku, tatapan itu begitu dingin hingga membuat dadaku mencelos.
"I love you with all my heart, but you hurt me whenever you please, Petra."
Detik berikutnya, suara pintu dibanting memenuhi apartemen.
Tangisku pecah.
Aku jatuh terduduk di atas sofa, tubuhku bergetar hebat, isakanku terdengar jelas di ruangan yang kini terasa begitu sepi. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu, berharap ia akan kembali.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu...
Ini salahku. Tidak ada yang bisa aku gunakan sebagai dalih.
Ini memang salahku.
•••
Dimas POV
"Then let me be your boyfriend."
Enam kata itu masih terngiang-ngiang di kepalaku sejak mendengarnya beberapa jam yang lalu.
Baru beberapa langkah aku memasuki apartemen setelah seharian bekerja, kedatanganku disambut oleh seorang pria yang mengajak istriku m menjadi kekasihnya.
Apalagi ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut pria itu kalau Petra mengakuiku hanya sebagai kakaknya, emosiku seketika memuncak sampai tidak sadar saat aku sudah melayangkan pukulan kepada bocah itu berkali-kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Storie d'amore21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
