chapter 34

2.4K 78 8
                                        

Happy reading!

Petra POV

Setibanya di kampus, aku mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan debaran di dadaku. Tanganku terangkat, merapikan pakaian sebelum melirik ke cermin kecil di bagian atas mobil. Riasan tipis di wajahku masih rapi, tapi pipiku... entah kenapa terasa panas.

Baru saja jemariku menyentuh gagang pintu, tiba-tiba cengkeraman kuat menahan lenganku. Hangat, tegas, dan tanpa kompromi.

"Tunggu."

Suara Dimas terdengar dalam, sedikit serak—memiliki getaran yang selalu berhasil menghentikanku. Aku menoleh, menatapnya. Matanya gelap, penuh intensitas yang sulit kuartikan, lalu dengan satu gerakan, ia menyodorkan sebuah kartu ke arahku.

"Ini, untuk kau gunakan." Nada suaranya tegas, tidak membuka ruang untuk diskusi.

Aku menatap kartu itu sesaat sebelum menggeleng pelan. Mengambil bantuan dari orang lain, apalagi dalam bentuk uang, terasa seperti berhutang budi—dan aku benci perasaan itu. "Tidak perlu, Dimas. Ayahku masih mengirimku uang, dan aku juga tidak mau bergantung pada orang lain."

Ekspresinya mengeras seketika. Rahangnya menegang, matanya yang tajam mengunci mataku, membuatku menelan ludah.

"Kau sudah jadi tanggung jawabku, Petra. Kau adalah istriku, seberapa besar pun kau membantahnya."

Aku menahan napas. Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan itu, pernyataan kepemilikan yang bergema dalam ruangan sempit mobil ini.

"Dan karena kau suamiku, bukan berarti kau bisa mengaturku." Aku membalas santai, meskipun detak jantungku tidak sejalan dengan nada suara yang kupertahankan.

Dimas tidak menjawab. Tatapannya masih menancap di wajahku, terlalu menusuk, terlalu dalam, hingga aku merasa seperti sedang ditelanjangi tanpa disentuh. Dengan enggan, aku mengambil kartu itu, lalu menyelipkannya ke dalam card holder.

Senyumnya terangkat miring. Kemenangan tergambar jelas dalam sorot matanya.

Aku mendengus, mencondongkan tubuh ke arahnya dan mengecup pipinya cepat, sekadar membalas dengan godaan kecil. "Terima kasih," bisikku lembut, sengaja menggoda.

Namun, sebelum aku sempat menarik diri, jemarinya melesat cepat, meraih tengkukku dan menahanku di tempat.

"Aku tidak suka ciuman singkat seperti itu," suaranya rendah, hampir seperti gumaman yang mengalir begitu dekat di kulitku.

Aku menegang, bisa merasakan panas napasnya menyapu wajahku, menciptakan riak gelombang di dalam perutku. Bibirnya bergerak lebih dekat—terlalu dekat—dan saat aku hampir kehilangan kendali, aku buru-buru mendorong dadanya.

"Dimas, kita di kampus." Aku berbisik tajam, tapi suaraku sendiri terdengar tidak stabil.

Dimas terkekeh, tapi genggamannya tetap erat. Justru jemarinya bergerak lebih nakal, mengusap tengkukku perlahan, menciptakan sensasi membakar di sepanjang kulitku. Ada tantangan dalam sorot matanya, sesuatu yang seolah berkata bahwa ia bisa saja menarikku lebih dekat jika ia mau.

"Gunakan kartunya, Petra. Dan jangan pakai uang dari ayahmu lagi."

Aku mendengus, masih berusaha menenangkan degup liar di dadaku. "Iya, akan kugunakan sampai hartamu habis! Begitu maksudmu?"

Tapi Dimas hanya tersenyum percaya diri, seolah yakin sekali dengan ucapannya. "Hartaku tidak akan habis."

Lalu, matanya menyipit sedikit, menatapku dengan sorot yang berbeda—lebih tajam, lebih menuntut. "Dan aku bisa memastikan kau tidak akan bisa lari dariku."

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang