chapter 23

9.6K 344 5
                                        

Happy reading!

Petra POV

Sepanjang perjalanan pulang, tak ada suara yang mengisi ruang sempit di antara kami selain dengungan halus mesin mobil. Keheningan ini terasa lebih menekan dibandingkan suara Dimas beberapa menit lalu. Aku meliriknya sekilas dari sudut mata—rahangnya mengeras, jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Aku masih tak terima dengan perlakuannya pada Hans. Anak sekecil itu tak pantas menerima sikap dingin hanya karena dosa orang tuanya.

"Dimas," panggilku, mencoba meredakan emosi yang masih menggantung di antara kami.

"Hm," gumamnya, tanpa menoleh sedikit pun.

"Kau boleh marah dengan ibunya, tapi aku mohon, jangan lakukan itu pada Hans. Dia hanya anak kecil, Dimas. Dia tidak bersalah." Aku menggigit bibir, menahan emosi yang mulai merayapi suaraku. "Aku merasa kasihan melihat kau memperlakukannya seperti itu."

Aku mengira Dimas akan merespons dengan tenang. Namun, dugaanku salah besar. Dalam hitungan detik, ia menginjak pedal rem begitu mendadak hingga tubuhku terdorong ke depan. Jika bukan karena sabuk pengaman, aku pasti sudah terhentak lebih jauh.

"Dim—"

"Berhenti bersikap seolah-olah kau tahu segalanya!" suaranya meledak, memenuhi ruang mobil dengan kemarahan yang tajam. "Aku kehilangan calon adikku karena mereka! Aku kehilangan keluargaku yang utuh karenanya! Kau tahu bagaimana rasanya melihat ibuku berjuang mati-matian membesarkan aku dan Daisy sendirian?! Aku yakin tidak!"

Nada suaranya menghantamku seperti tamparan tak kasat mata. Tatapan matanya gelap, dipenuhi api yang tak bisa dipadamkan.

Aku membeku. Seketika, dadaku terasa sesak. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya seakan menghujam jantungku tanpa ampun. Aku menunduk, berusaha menelan emosi yang tiba-tiba meledak dalam diriku sendiri. Tapi air mata sialan ini lebih dulu jatuh, menghangatkan pipiku yang terasa dingin.

Tak ingin kelemahanku terlihat, aku segera memalingkan wajah, membiarkan rambut panjangku menutupi ekspresi rapuh yang tak ingin kutunjukkan padanya.

Keheningan kembali memenuhi ruang di antara kami. Suara napas Dimas terdengar berat, seperti seseorang yang menahan luka terlalu lama hingga tak lagi mampu menahannya sendiri.

Tiba-tiba, jemari hangatnya menyentuh pipiku, menyusuri kulitku dengan sentuhan yang jauh berbeda dari suaranya yang menggelegar tadi. Lembut. Penuh penyesalan. Ibu jarinya menghapus jejak air mata yang masih membekas di bawah mataku.

"Maafkan aku, Petra," suaranya lebih lirih kali ini, seperti bisikan yang mengalir langsung ke dalam relung hatiku.

Aku tetap diam, membiarkan sentuhannya mengalirkan kehangatan yang bertentangan dengan amarahnya sebelumnya.

"Aku tahu kau pasti kecewa, marah, atau bahkan benci melihatku seperti ini." Dimas berusaha membalik tubuhku agar menghadapnya, tapi aku menepis tangannya. Kasar.

Aku menahan napas, bibir bawahku kugigit dalam-dalam untuk menahan isakan yang mengancam lolos.

"Aku selalu berusaha memaafkan mereka, atau setidaknya tidak mengungkit semua ini lagi. Tapi setiap kali melihat wajah mereka, aku langsung teringat akan semuanya," lanjutnya dengan suara berat. "Itulah kenapa aku memilih tinggal sendiri daripada membuat hubungan ini semakin rusak."

Aku memejamkan mata. Dimas yang selama ini kupikir hanya pria pervert yang gemar menggodaku ternyata menyimpan lebih banyak luka dari yang bisa kubayangkan. Selama ini, ia menggunakan kesibukannya—pekerjaannya—sebagai tameng untuk melupakan rasa sakit yang tak kunjung pudar.

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang