Happy reading!
Petra POV
Langkah Dimas terasa lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ingin segera ia tinggalkan di belakang. Aku berusaha mengimbanginya, tapi genggamannya di pinggulku membuatku sulit bergerak bebas.
"Dimas, pelan-pelan!" seruku, mencoba menarik tangannya agar berhenti.
Dimas mengabaikanku, terus berjalan lurus menuju pintu keluar rumah sakit. Aku bisa merasakan betapa tegangnya tubuhnya—bahunya menegang, napasnya berat, dan langkahnya seperti diatur oleh emosi yang mendidih dalam dirinya.
Begitu kami sampai di area parkir, ia membuka pintu mobil dengan sedikit kasar. "Masuk," perintahnya, suaranya rendah dan tak terbantahkan.
Aku mendesah, tetapi tetap menuruti perintahnya. Setelah aku duduk di kursi penumpang, Dimas menutup pintunya dan bergegas masuk ke sisi kemudi. Ia memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin, lalu langsung menginjak pedal gas tanpa sepatah kata pun.
Suasana dalam mobil begitu hening, hanya suara AC yang berhembus lembut mengisi udara. Aku melirik ke arahnya—rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke jalan, dan jemarinya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Aku menggigit bibir, mencoba menahan diri untuk tidak langsung bertanya.
Namun, keheningan ini terlalu menyesakkan.
"Dimas..." panggilku pelan.
Dimas tidak langsung menjawab, hanya menarik napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Aku bilang, tidak apa-apa."
Aku mendengus, menyandarkan punggung ke kursi dengan lengan menyilang di dada. "Kau pikir aku sebodoh itu? Wajahmu jelas menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres."
Dimas menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobil melaju sedikit lebih kencang. "Aku tidak ingin membahasnya sekarang."
Aku menghela napas, memilih untuk diam sejenak. Kalau ia sedang dalam mode seperti ini, memaksanya bicara hanya akan memperkeruh suasana.
Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mencoba menenangkan pikiranku sendiri. Langit sore mulai gelap, lampu-lampu kota menyala satu per satu, menerangi jalanan yang semakin padat oleh kendaraan.
Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan hangat di pahaku.
Aku menoleh cepat.
Dimas, tanpa melepaskan tatapannya dari jalan, telah meletakkan satu tangannya di atas pahaku, ibu jarinya mengusap lembut kulitku. Sentuhan itu begitu familiar—halus, tapi juga memiliki dominasi yang membuatku sulit untuk tidak bereaksi.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku menelan ludah, mencoba menepis kesan yang mulai merayapi tubuhku. "Dimas..." suaraku terdengar seperti bisikan.
"Hm?" gumamnya, masih dengan nada rendah.
"Tanganmu."
"Apa?"
Aku melirik ke bawah, ke tangannya yang kini semakin naik, menelusuri bagian atas pahaku dengan perlahan. Sentuhannya santai, seolah-olah ini adalah hal yang biasa baginya, tetapi bagi tubuhku—itu seperti sengatan listrik halus yang menjalari saraf-sarafku.
"Jangan di sini..." bisikku dengan napas yang mulai tidak beraturan.
Dimas, masih dengan ekspresi kerasnya. Tidak ada kata-kata. Hanya sentuhan yang begitu dalam, seolah sedang mencari sesuatu untuk meredakan gejolak dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Roman d'amour21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
