chapter 25

8.4K 285 5
                                        

Maaf updatenya tengah malam :(

Ada yang masih bangun?

Ada yang masih bangun?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dimas POV

Beberapa menit berselang, hanya keheningan yang menemani kami. Dentingan garpu yang bertemu dengan piring menjadi satu-satunya suara di antara kami. Aku tetap diam, mengawasi Petra yang sibuk menyantap makanannya. Napasnya yang teratur, cara ia memiringkan kepala setiap kali mengunyah, bahkan kilau samar di bibirnya yang sedikit basah oleh saus makanan—semuanya terlihat begitu menawan di mataku.

Aku mencoba mengabaikan kegelisahan yang menguasai tubuhku. Namun, semakin lama aku menatapnya, semakin sulit bagiku untuk menahan diri. Dengan satu tarikan napas panjang, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan sesuatu yang sudah lama ingin kukatakan.

"Can I ask you something?"

Petra mengangkat pandangannya sekilas, lalu kembali ke piringnya. "Just ask."

Aku merasakan jantungku berdebar lebih cepat. "Kau masih ingat saat aku memintamu untuk tetap tinggal denganku ketika kau berencana untuk pindah?"

Gerakan tangannya sempat terhenti sesaat, namun hanya dalam hitungan detik, ia kembali melanjutkan makannya. "Masih, aku masih mengingatnya," sahutnya datar.

Aku mengepalkan jemari di atas paha, mencoba meredam kegelisahan yang kini semakin terasa mendesak dari dalam dadaku. "Sejak malam itu, aku sadar bahwa bagian kosong dalam hidupku telah terisi kembali... dan aku tidak akan pernah membiarkan orang yang mengisinya pergi dariku. Dan orang itu adalah kau, Petra."

Petra mendongak, keningnya sedikit mengernyit. Sekilas bibirnya membentuk lengkungan samar, seolah ia sedang menahan tawa. Aku tahu betul bahwa gadis itu masih setia menepis setiap pernyataan yang keluar dari mulutku, menganggap semua ini tidak lebih dari bualan semata.

Ada yang mencubit di dadaku. Aku mendesah pelan, lalu menegakkan punggungku. Aku tidak bisa menyalahkannya. Bukan Petra yang sulit percaya, tapi akulah yang sejak awal terlalu sembrono hingga membuatnya berpikir bahwa semua ini hanya permainan.

Aku akhirnya memilih untuk menyerah—setidaknya untuk malam ini. Jika ia belum siap mendengar lebih banyak, aku pun tidak akan memaksanya. "Sudah?" tanyaku, menurunkan arah pandanganku ke piringnya yang kini telah kosong.

"Sudah." Petra meraih selembar tisu, mengusap bibirnya dengan gerakan lambat. Aku memperhatikan bagaimana ujung jarinya menyapu permukaan kulitnya yang lembut, lalu dengan malas, ia meremas tisu itu sebelum melemparkannya ke atas meja.

"Sekarang cuci piringnya, lalu bersihkan dirimu di kamar mandi," titahku, suaraku terdengar otoriter.

Petra mendongak, matanya berbinar penuh harap. "Besok saja, ya? Aku ingin tidur."

Aku mengembuskan napas panjang. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya dia mencoba menghindar dari tugasnya. Tanpa menunggu persetujuanku, Petra sudah bangkit dari kursinya dan melangkah santai menuju kamar.

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang