Double update, nih!
Biar malming kalian nggak kesepian wkwk
Happy Reading!
PETRA POV
Setelah keluar dari kamar mandi. Pandanganku langsung tertuju padanya, berdiri di dekat jendela dengan satu tangan terselip di saku celana.
Aku melirik meja nakas. Sandwich yang kubuat tadi masih utuh. "Kau tidak sarapan?"
"Nanti saja," jawab Dimas santai, tanpa berpaling dari pemandangan di luar jendela.
Aku mendengus, lalu berjalan mendekat. "Kau yakin bisa bekerja dengan perut kosong? Bagaimana kalau kau sakit?" tanyaku, menatapnya dengan alis terangkat.
Dimas akhirnya mengalihkan pandangannya padaku. Mata gelapnya menyapu wajahku sebelum berhenti di bibirku. Dengan gerakan santai, ia mengangkat tangan dan menyentuhkan ujung telunjuknya ke sana, sudut bibirnya melengkung nakal.
"Kalau sarapannya dengan ini, boleh?"
Aku tersentak. Panas menjalar di wajahku. Dengan cepat, aku menepis tangannya dan menatapnya tajam. "Dimas!"
Pria itu hanya tertawa kecil, sama sekali tak terpengaruh oleh tatapan tajamku. Ia justru mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telingaku hingga napas hangatnya menyapu kulitku.
"Aku sedang memikirkan malam pertama kita nanti," bisiknya, suaranya rendah dan menggoda.
Aku merasakan tubuhku menegang. Detak jantungku melonjak, tetapi aku buru-buru memutar bola mata, berpura-pura jengah. "Kau ini tidak ada yang lebih penting untuk dipikirkan?"
Dimas terkekeh. Namun, aku bisa merasakan tatapan intensnya tetap mengunci gerak-gerikku, seolah menikmati setiap reaksi yang kuberikan padanya.
•••
Aku menggigit bibir bawahku, menatap ke luar jendela dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Ini hari pertamaku kuliah di Indonesia, di negara yang dulu kusebut rumah, tapi kini terasa asing.
San Diego dan Indonesia seperti dua dunia yang berbeda. Di sana, aku sudah terbiasa dengan ritme hidup yang cepat, kebebasan yang luas, dan lingkungan yang selama ini kujadikan zona nyaman. Tapi kini, aku harus memulai dari nol lagi—beradaptasi dengan sistem yang berbeda, teman-teman baru, dan... hidup baru.
Tak kusangka, kepulanganku ke Indonesia bukan hanya untuk kuliah, tapi juga menghadapi Dimas.
Dimas yang sejak tadi diam di belakang kemudi, dengan satu tangan menggenggam setir dan tangan satunya bertumpu di sandaran. Rahangnya tampak tegas saat ia fokus pada jalanan, dan aku... tanpa sadar malah menatapnya lagi.
Di antara semua perubahan yang terjadi dalam hidupku, pria ini adalah salah satu yang paling mengacaukan segalanya.
Tapi yang lebih menggangguku adalah fakta bahwa aku tidak benar-benar keberatan dengan kekacauan ini.
"Aku tahu memandang pria tampan memang tidak pernah membuatmu bosan, bukan?"
Jantungku hampir melompat dari tempatnya.
Aku tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela. Sial! Apakah Dimas menyadarinya?
Aku berdeham, berusaha menutupi rasa malu yang perlahan menjalar ke wajahku. Namun, sebelum aku sempat mengeluarkan alasan, Dimas kembali berbicara.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Petra?"
Aku mengangguk kecil. "Tanyakan saja."
Dimas tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan menggantung beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Storie d'amore21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
