Selamat datang di cerita Dimas dan Petra! Semoga kalian betah ngikutin kisah mereka, ya!
Selamat membaca!
Rintik hujan terus turun perlahan, seolah bernyanyi di atas genting dan membasahi pekarangan rumah besar bergaya klasik. Rumah itu berdiri megah, dihiasi air mancur berukir angsa di tengah halamannya yang luas. Aroma tanah basah menguar di udara, bercampur dengan wangi mawar dari taman kecil di samping rumah.
Sebuah mobil hitam mengkilap perlahan memasuki pekarangan, berhenti di bawah kanopi yang kokoh. Di balik kemudi, Andrew menatap jalanan dengan penuh konsentrasi. Begitu mobil berhenti, suara ringkih anak perempuannya di kursi belakang langsung memecah keheningan.
"Kak Dimas!" seru Petra dengan suara lantangnya.
Andrew menghela napas, merasa tak bisa berbuat banyak. Petra memang selalu penuh semangat, apalagi jika berkaitan dengan Dimas. Dengan pelan, ia menurunkan kaca mobil sambil memandang anaknya yang sudah berlari ke dalam rumah.
"Sabar, Petra! Jangan berlari! Kalau kau jatuh, Ayah juga yang akan repot mengurusmu nanti," ujar Andrew, suaranya terdengar lembut tapi penuh peringatan.
"Iya!" jawab Petra, tapi tentu saja ia tak memperlambat langkahnya sedikit pun. Ia tetap berlari dengan cepat menuju pintu rumah yang terbuka lebar, siap bertemu Dimas.
Setelah melepas sepatu dan melemparnya asal ke tempat yang seharusnya, Petra berjalan menyusuri setiap sudut rumah besar milik ayahnya itu, sambil tersenyum lebar. Ia tak sabar bertemu dengan Dimas. Rambutnya yang diikat dua bergoyang mengikuti langkah kecilnya yang tergesa-gesa.
Beberapa waktu yang lalu, saat ia baru saja naik ke dalam mobil ketika Andrew menjemputnya pulang sekolah, Andrew memberi kabar bahwa Dimas, anak dari rekan kerja sekaligus teman karibnya, sedang berada di rumah. Kabarnya, Dimas akan tinggal beberapa hari di rumah mereka.
Petra bisa merasakan kegembiraannya yang membuncah. Bahkan beberapa kali ia memberi perintah kepada Andrew agar mengemudi lebih cepat dari biasanya. Sayangnya, kebahagiaan itu langsung pudar ketika Petra sampai di kamar dan tidak melihat Dimas di sana.
Tatapan mata Petra berubah kosong sejenak, dan sebelum ia sempat bertanya-tanya, isak tangis mulai terdengar. Ia mengusap kedua matanya kasar, berusaha menghapus cairan bening yang membasahi pipinya yang tembam.
"Kak Dimas!" serunya dalam hati, seakan panggilan itu bisa membawanya ke tempat di mana Dimas berada.
Namun, sebelum kesedihan itu semakin dalam. Telinganya menangkap suara seorang laki-laki yang sedang berbicara di balkon kamar. Petra mengangkat wajahnya, matanya memicing, mencoba memastikan. Sebuah suara tawa pelan membuat tubuhnya bergerak spontan. Dengan cepat, ia berlari menuju balkon.
Sesampainya di balkon, Petra mendapati pemandangan yang membuat alisnya bertaut. Dimas, sosok yang ia cari-cari sejak tadi, sedang berbicara dengan seorang gadis remaja yang tampak seusia dengannya. Keduanya tampak akrab, berbicara dan tertawa seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Petra yang masih kecil ini merasa tak senang melihat Dimas bersama seorang gadis lain. Api cemburu membakar dalam dadanya.
Beberapa menit berlalu, Dimas tampak belum menyadari kehadiran Petra. Laki-laki itu masih berbicara dengan gadis yang berdiri di sebelahnya, saling tertawa dan berbagi cerita. Mereka seolah berada dalam dunia mereka sendiri.
Sementara itu, Petra berdiri diam beberapa detik, bibirnya mengerucut, dan matanya menatap tajam ke arah gadis itu. Tanpa banyak berpikir, ia mendekat dengan langkah cepat, lalu langsung memeluk kaki Dimas dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
