Happy reading!
Petra's POV
Aku menatap Dimas yang memandangku dengan penuh harap bak anak kecil yang tengah menantikan keajaiban. Tatapannya, meskipun penuh dengan hasrat, menyimpan kepolosan yang mengenalkanku pada sisi lembut dirinya yang selalu ingin dimanja.
Dalam keheningan itu, ia mengajukan permintaan, "Suapi aku." Suaranya lembut namun menggoda. Aku baru tahu, di balik sikapnya yang panas dan terkadang menjengkelkan, tersembunyi sosok lain yang juga mendambakan kasih sayang.
Aku pun akhirnya mengambil sesendok nasi dari kotak bekal, lalu perlahan menyuapkannya. Dimas mengunyahnya tanpa segera memberikan respons, seakan menikmati setiap rasa yang tak hanya memuaskan lidahnya tetapi juga mengusik perasaannya.
"Rasanya enak, kau yang membuatnya?" tanyanya dengan mulut yang masih dipenuhi makanan, membuat aroma nasi goreng itu menyeruak ke seisi ruangan.
Aku tersenyum tanpa beban, menolak anggapan itu. "Bukan, aku membelinya di luar, sebelum pergi ke sini."
Tatapan Dimas kembali kosong, aku tahu pikirannya melayang jauh. Aku tak tahan ingin tahu, "ada apa?"
Setelah beberapa saat, ia berkata, "Apa, dia cantik?"
Aku menatapnya penuh tanya. "Dia? Siapa yang kau maksud?"
"Dia, yang membuat nasi goreng ini," balasnya sambil menyeringai miring.
Aku berdecak. "Ini, makanlah sendiri!" Tanpa menunggu jawaban, aku segera bangkit dan meletakkan kotak bekal kasar ke atas meja kerjanya.
Dimas mengejek, "Hei, aku bercanda, Petra." Sebelum aku sempat mengambil langkah, ia tiba-tiba menarik pinggulku kembali ke atas pangkuannya. Gerakannya cepat, membuatku tersentak sejenak. "Oh, sekarang kau sudah tidak malu untuk cemburu?"
Aku tak menanggapinya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan orang lain membuatmu cemburu. Justru, aku akan membuat mereka iri padamu," ucapnya panjang, suaranya awalnya antusias namun perlahan berubah menjadi sensual, begitu khas dari dirinya.
Senyum tipis merekah di wajahku, menghiasi hati yang mulai meresap kehangatan dari canda dan godaannya. Terbiasa dengan sikapnya yang tak bisa kutebak, seolah seperti naik rollercoaster penuh plot twist, aku merasa terombang-ambing antara keheranan dan kebahagiaan. Setiap gerakan dan kata-katanya meninggalkan jejak, membuatku semakin terpikat meski terkadang sulit untuk memahami seluruh maksudnya.
Kedua tangannya melingkari tubuhku, menarikku bersandar pada dada bidangnya yang hangat. "Ada apa, Petra? Kau tampak lebih emosional akhir-akhir ini."
Aku tak langsung menjawab, melainkan menatapnya serius, mencari-cari jawaban dalam tatapannya.
"Aku hanya takut kau berpura-pura mempertahankan pernikahan ini. Aku tak tahu betapa hancurnya aku jika itu benar terjadi," jawabku spontan, suaraku pelan namun sarat makna.
Entah apakah itu pengakuan cinta, namun kenyataannya kami belum pernah menyentuh ranjang bersama dengan sepenuh hati. Aku jujur, aku belum mencintainya—namun, kehadirannya sudah membuatku merasa nyaman, dan lambat laun aku mulai terbiasa dengan dua kehidupan yang kini disatukan, seperti mengukir jalan baru di antara ketidakpastian dan kehangatan yang perlahan tumbuh di dalam hati.
Atau mungkin... aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padanya?
Tanpa pikir panjang, aku memeluk tubuh Dimas dengan erat, merasakan setiap serat maskulinnya yang begitu memabukkan. Dalam keheningan yang menelan kami, aku berkata lirih, "Aku lebih memilih disakiti dengan kejujuran, jadi jangan pernah membuatku nyaman dengan kebohongan. Jujurlah padaku sekarang, sebelum aku jatuh lebih dalam."
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Dragoste21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
