Author's Note
Hi semuanyaa~
Maaf banget baru bisa update cerita Dimas dan Petra sekarang. Sebulan terakhir lumayan chaos, jadi baru sempat lanjut nulis. Dan yes... ini bab terakhir mereka yang panas-panasnya, karena kalau panas terus, judulnya bukan romance, tapi corn wkwkwk
Btw, kalian apa kabar? Aku baca kok semua komen kalian, satu-satu, dan serius deh... hangat banget rasanya dicariin.
Makasih banyak ya udah sabar nungguin dan masih stay di cerita ini. Kalian teh manis pake es di siang bolong, bikin adem hati 🥹❤️
Lopp sekebon, sampe kebon tetangga juga! 🌻🌷
Happy reading!
Petra POV
"I haven't even finished yet, Petra."
Aku ingin menjawab, tapi tubuhku lebih dulu bereaksi. Berkedut. Tersentak. Meresponsnya.
Dimas menggertakkan giginya, lalu menggigit kecil bahuku sambil menarik napas panjang, brutal dan haus.
"Aku belum selesai denganmu, Petra. Not even close."
Dimas tak langsung menekannya. Ia hanya menggesekkan dirinya pada milikku yang basah dan masih sensitif. Rasanya sangat menyiksa ketika ia melakukannya, sekadar menunjukkan bahwa ia masih memegang kendali sepenuhnya—dan aku? Aku hanya bisa menggeliat seperti budak yang sudah kehilangan akal.
Aku menutup mata, tubuhku melemas. Pasrah.
Aku pikir ia akan masuk lagi. Aku pikir ia akan melanjutkan, menyelesaikan yang sudah ia mulai. Aku bahkan mengangkat pinggulku sedikit, tanpa sadar memberi ruang, memberi izin.
Aku menunggu. Dalam diam.
Namun, yang justru terjadi berikutnya bukan dorongan yang kutunggu, melainkan keheningan. Hening yang mendadak menyelimuti kami, menggantikan suara napas berat dan erangan yang sempat memenuhi ruangan.
Tubuh Dimas tiba-tiba menegang di atas tubuhku. Bukan karena gairah, tapi sesuatu yang lain. Tegangannya berbeda. Otot-ototnya membatu, tangannya mencengkeram pinggulku lebih kuat dari sebelumnya, seolah menahan sesuatu—entah dorongan atau rasa sakit.
Sampai akhirnya...
"Fuck!"
Dimas tiba-tiba mengerang, tubuhnya beringsut mundur.
Dan saat itu juga, aku merasakan tubuhnya keluar dariku—miliknya yang masih mengeras, yang sedari tadi mengisi ruang terdalam dalam diriku, akhirnya terlepas.
Aku tersentak, napasku tersengal, butuh beberapa detik untuk menyadari apa yang terjadi.
Mataku langsung turun ke bawah.
Dan saat aku melihatnya...
Kakinya.
Darahnya semakin banyak.
Luka di telapak kakinya—yang sejak tadi ia abaikan, sepertinya benar-benar mulai terasa. Tadi tubuhnya terlalu panas, terlalu sibuk membakar milikku. Sekarang, ketika gairah mulai surut, rasa sakit itu datang seperti arus dingin yang menyapu habis sisa panas di tubuhnya.
Dimas melangkah mundur sepenuhnya, memisahkan kami. Aku masih terengah saat ia menurunkanku pelan, dan ketika kakiku menyentuh lantai, aku melihatnya menatap ke bawah, rahangnya mengencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Roman d'amour21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
