chapter 5

22.6K 906 13
                                        

Happy Reading!

Dimas POV

Pasca ciuman panas yang terhenti di tengah jalan, atmosfer di antara kami berubah menjadi sesuatu yang tak bisa kujelaskan—canggung, tapi juga dipenuhi tegangan yang menggantung di udara. Petra terus menundukkan kepalanya setelah keluar dari mobil, rambutnya yang sedikit berantakan menutupi wajah yang masih terlihat memerah. Aku tahu apa yang ada di pikirannya, meskipun dia tak mau menunjukkan. Setiap langkah kecilnya seperti membawa rasa ragu, dan aku bisa merasakan getaran samar dari energinya yang begitu tak teratur.

Dia berhenti di tengah langkah, kedua alisnya berkerut saat matanya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru basement. Mungkin dia bertanya-tanya di mana sebenarnya aku membawanya. Sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, aku membuka suara.

"Kita sedang ada di basement," ucapku, suaraku rendah. "Di atas sana ada tempat tinggalmu nanti." Aku menunjuk ke arah atas dengan gerakan yang santai, meskipun sebenarnya kepalaku masih penuh dengan bayangan bibirnya yang sempat menyatu dengan milikku beberapa menit yang lalu.

Dia hanya menggumamkan satu kata pendek, "Oh," dengan nada datar yang hampir tak terdengar. Tapi aku bisa menangkap sekilas rasa gugup dari nada suaranya.

Aku meraih satu tangannya, membiarkan jariku membungkus jemarinya yang dingin. Sentuhannya terasa begitu lembut, begitu halus, dan sentakan kecil di tubuhnya saat aku menyentuhnya hanya membuatku semakin ingin tahu apa yang ada di kepalanya sekarang. "Sudah siap?" tanyaku, dengan nada kubuat lebih tenang, mencoba menghapus sedikit ketegangan di antara kami.

Matanya membulat, jelas terkejut dengan tindakanku, tapi dia tidak menarik tangannya. Dia hanya terdiam, dan aku tidak menunggu jawaban. Genggamanku semakin erat, dan aku menariknya dengan lembut namun tegas, membawanya menuju lift.

Di dalam lift, suasana kembali lengang, hanya dihiasi suara halus dari mesin yang bergerak. Aku memutar kepala ke arahnya, menatapnya dalam diam. Petra berdiri di sudut lift, tubuhnya yang kecil terlihat seolah mencoba melarikan diri ke dinding dingin di belakangnya. Matanya menghindari tatapanku, tapi aku tahu dia merasakan apa yang kurasakan—sesuatu yang lebih dari sekadar panas dari ciuman tadi.

"Sudah tidak sabar?" tanyaku, suaraku terdengar lebih berat.

Dia menatapku dengan ekspresi bingung, lalu tersenyum kecil—senyum yang tampak kikuk namun juga memancarkan sesuatu yang tak terdefinisi.

Angka "11" muncul di monitor lift, menandakan kami telah tiba. Pintu lift terbuka dengan suara gesekan yang terlalu keras di tengah keheningan yang mencekam.

Aku berjalan lebih dulu, menyeret koper besarnya dengan tangan kanan, langkahku mantap, meski di dalam kepala, pikiranku masih berkecamuk dengan bayangan tentang apa yang baru saja terjadi di dalam mobil.

Petra berjalan di belakangku, dan aku bisa mendengar langkah kecilnya yang tidak teratur. Aku berhenti di depan pintu bernomor 36, lalu menekan kode akses dengan gerakan yang cepat dan pasti. Pintu terbuka, dan aku menoleh ke arahnya.

"Silakan masuk, Tuan Putri," godaku, mengangkat alis sedikit sambil memiringkan kepala.

Aku melihat semburat merah yang kembali muncul di pipinya. Dia menggigit bibir bawahnya sebelum melangkah melewatiku dengan sedikit hentakan pada tumitnya, seperti ingin menunjukkan bahwa dia tidak mudah digoda. Tapi aku tahu, gerakannya itu hanya cara untuk menyembunyikan rasa malunya yang memancar begitu jelas.

Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya saat dia berhenti di tengah ruangan. Napasku berat, tubuhku masih panas dari sisa ketegangan sebelumnya. Dia membuatku gila, bahkan tanpa mencoba sekalipun.

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang