Happy reading!
Petra POV
Pelayan itu melangkah mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk agar sejajar denganku. Aroma lembut parfum yang ia kenakan samar-samar tercium, bercampur dengan wangi rempah dari dapur yang sibuk di belakangnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" suaranya halus, nyaris berbisik.
"Saya ingin menambahkan masing-masing satu dry aged beef carpaccio dan lemon tea lagi, ya?" ucapku santai.
Dimas yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia menyimpan perangkat itu kembali ke dalam saku celana, lalu menatapku dengan satu alis yang terangkat tajam.
"Kau sedang apa?" nada suaranya terdengar setengah curiga.
Aku hanya tersenyum tipis. "Tidak melihatnya? Aku juga memesan makanan untukmu."
Dimas menyandarkan punggung ke kursi, tatapannya belum lepas dariku. "Kenapa aku?"
"Karena kau juga belum makan."
Sudut bibirnya sedikit melengkung, nada bicaranya berubah menggoda. "Kenapa kau jadi perhatian sekarang? Mulai menyukaiku?"
Aku tertawa geli, melipat tangan di depan dada sambil menatapnya dengan ekspresi meremehkan. "Apa aku tidak salah dengar? Siapa yang menyukai pria tua sepertimu!"
Dimas berdecak pelan, matanya menyipit penuh perhitungan. "Baiklah, kalau kau terus begitu, terpaksa aku melakukan ini padamu."
Belum sempat aku merespons, Dimas bangkit dari duduknya, tangannya menyentuh daguku dengan gerakan cepat sebelum bibirnya menempel di bibirku dalam hitungan detik. Hangat. Sederhana, tapi cukup untuk membungkamku seketika.
Aku terpaku, bisa merasakan hembusan napasnya yang tenang dan percaya diri. Sekilas, aroma maskulin dari tubuhnya semakin kuat menusuk penciumanku, bercampur dengan kehangatan bibirnya yang terasa begitu familiar.
Hanya beberapa detik, namun cukup lama untuk membuat darahku berdesir.
Dimas menarik diri dengan ekspresi puas, kembali duduk santai di kursinya, seolah yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Senyum menyebalkannya terukir jelas di wajahnya yang tampan.
"Kau...!" Aku meraba bibirku sendiri, masih merasakan sensasi dari ciuman singkat itu.
"Kenapa, hmm?" Dimas menatapku dengan mata gelapnya yang penuh tantangan.
Aku mendengus, membuang muka ke arah lain, mencoba mengabaikan panas yang mulai menjalari pipiku.
"Kau takut orang-orang di sini melihatnya, Petra?" tanyanya, suaranya terdengar lebih rendah dan dalam.
"Pikirkan saja sendiri bagaimana rasanya mendapat ciuman di tempat umum, itu memalukan!" sahutku tajam, meski suaraku sedikit bergetar.
Dimas hanya mengedikkan pundak tanpa beban. Tatapannya kembali mengamati sekeliling, sama sepertiku. Aku menghela napas lega saat mendapati restoran ini tidak terlalu ramai. Beberapa meja bahkan kosong, hanya ada sepasang kekasih di sudut ruangan yang sedang menikmati makan siangnya tanpa peduli pada dunia di sekitar mereka.
"Tunggu sebentar."
Aku mengerutkan kening saat Dimas tiba-tiba bersuara. "Apa lagi?"
"Kau tidak terima karena aku menciummu di tempat umum?"
Aku menegang, tapi belum sempat menjawab, Dimas sudah menyela dengan nada menggoda. "Jadi, aku boleh melakukannya di tempat yang sepi?"
Refleks, tanganku mencubit perutnya keras. Aku berharap ia akan mengerang kesakitan, tapi alih-alih begitu, yang kudengar justru tawa renyahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romansa21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
