haiiiiii
Suka nggak kalo fast update gini?
Happy reading!
Petra POV
Setelah es krimku habis, aku langsung beranjak dari kursi, melangkah cepat ke tepi jalan, membiarkan angin malam Berlin menyapu wajahku. Lampu-lampu kota berkelip dalam bias keemasan, jalanan berdenyut dengan kehidupan yang tak pernah tidur. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabadikan suasana ini dalam ingatan—sebelum aku harus kembali ke Indonesia.
Perlahan, aku merasakan kehadiran Dimas di belakangku. Hangat. Intens. Udara di sekitarku tiba-tiba berubah, seolah gravitasi tubuhnya menarik kesadaranku hanya padanya. Tanpa suara, lengannya yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku ke dalam dekapannya. Aku bisa merasakan dadanya yang keras menempel di punggungku, kehangatan tubuhnya merayap.
"Kau mau ke sana?" suara Dimas terdengar rendah di telingaku. Tangan besarnya meraih tanganku, membimbingnya ke arah sebuah menara tinggi yang menjulang di kejauhan.
"Itu namanya apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan.
"Monas," jawabnya santai.
Daisy yang berada di dekat kami langsung tertawa lepas, sedangkan aku memejamkan mata, menahan rasa malu yang membakar wajahku. Setelah menikah, aku tidak hanya harus terbiasa dengan sentuhan liarnya yang selalu mendominasi, tetapi juga dengan selera humornya yang sama sekali tidak bisa serius.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Dimas," gerutuku sambil mencubit pinggangnya.
Dimas tertawa ringan, tubuhnya bergetar di belakangku. "Fernsehturm Berlin. Mau ke sana?"
Aku mengangguk cepat dua kali, menyetujui ajakannya. Bahkan, aku yang lebih dulu menarik tangannya ke arah sana.
•••
Kota Berlin terlihat semakin indah dari atas. Kelap-kelip lampu menyelimuti kota dalam lautan cahaya, seperti bintang yang jatuh dan bertaburan di bumi. Pemandangan ini memberiku perasaan yang sama seperti saat aku berdiri di balkon rumah Paula, menikmati malam dengan segelas anggur di tangan.
"How's the view?"
Suara Dimas begitu pelan, tepat di belakang telingaku. Helaan napasnya yang hangat menyentuh kulit leherku, membuatku tanpa sadar menggigit bibir bawahku.
Aku memilih untuk tidak menjawab. Aku membiarkan pikiranku tenggelam dalam bayang-bayang percakapanku dengan Daisy. Kata-katanya terus terngiang di kepalaku, memunculkan kecemasan yang sulit untuk ditepis. Semakin aku ingin mengetahui masa lalu Dimas, semakin aku takut pada masa depan kami.
Bagaimana jika Sarah kembali? Apakah Dimas akan memilihnya dan meninggalkanku?
"Kau kenapa?"
Aku tersentak. Dimas pasti menyadari ada yang salah, karena detik berikutnya, ia sudah berhadapan denganku, kedua tangannya memutar bahuku agar aku tidak bisa menghindari tatapannya. Matanya yang tajam meneliti wajahku, mencari jawaban yang belum sempat kukatakan.
"Kau yakin dengan kata-kata manismu yang sering kau katakan itu?" tanyaku akhirnya.
Dimas mengerutkan kening. "Kau masih meragukanku?"
Aku menelan ludah, dada ini terasa sesak. "Aku tahu kita sudah berjanji untuk memulai semuanya bersama, tapi... aku tidak tahu. Kau memperlakukanku seperti teman tidurmu. Entahlah, kata-katamu terdengar seolah kau sudah mengatakan hal itu berkali-kali kepada wanita lain."
Aku berbalik, menghindari sorot matanya, menatap pemandangan kota yang seketika terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tapi Dimas tak memberiku ruang. Dalam hitungan detik, kedua lengannya kembali melingkari tubuhku dari belakang, menahanku dalam dekapannya yang begitu erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romansa21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
