chapter 35

2.7K 74 7
                                        

Happy reading!

Petra's POV

Esok harinya. Sarapan berlangsung dalam keheningan. Hanya suara gesekan sendok di atas piring dan desiran AC yang terdengar di apartemen. Aku melirik sekilas ke arah Dimas yang duduk di seberang, masih dengan wajah serius dan pandangan yang tajam.

Setelah menyelesaikan omelet terakhirku, aku beranjak membawa piring kotor ke wastafel. Tanganku cekatan mencuci, lalu beralih mengambil kotak bekal hitam dari atas pantry.

Dimas yang sejak tadi diam, tiba-tiba bangkit dan berjalan mendekat. Kemeja lengan panjangnya sudah digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang kuat. Ia menyandarkan tubuh ke meja dapur dengan tangan terlipat di depan dada.

"Kenapa kau membuat bekal?" suaranya terdengar lebih berat di pagi hari. "Memangnya uangku masih belum cukup untuk membiayai makanmu?"

Aku menahan senyum sebelum melirik sekilas ke arahnya. "Memangnya tidak boleh?" tanyaku, tetap melanjutkan aktivitas memasukkan nasi dan ayam panggang ke dalam kotak makan.

Dimas tidak langsung menjawab, tapi matanya mengikuti setiap gerakanku. Begitu aku selesai, aku meraih tangannya, menariknya menuju pintu apartemen untuk keluar.

"Hari ini kau tak perlu menjemputku. Fokus saja bekerja, aku bisa naik taksi."

Langkahnya terhenti. "Kenapa tiba-tiba?"

"Karena kalau menunggu akan terlalu lama."

Dimas mendengus pendek. "Pulang dengannya lagi?" nada suaranya menajam.

Aku mengembuskan napas, berusaha tak terpancing. "Aku tidak akan pulang dengannya lagi."

"Lagi pula," lanjutku, menatap lurus ke matanya, "cinta itu bukan soal saling mencurigai, tapi saling percaya."

Sebuah tawa sarkastik lolos dari bibir Dimas. Ia tiba-tiba bergerak lebih dekat, mencondongkan tubuhnya ke arahku hingga aku bisa merasakan napasnya yang hangat menyapu kulit leherku.

"Cinta? Memangnya aku sudah mencintaimu?" bisiknya di tepi telingaku, membuatku otomatis menegang.

Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi sebelum sempat berkata apa pun, Dimas tiba-tiba menggigit kecil cuping telingaku, cukup untuk membuat tubuhku merespons dengan getaran halus.

"Atau jangan-jangan justru kau yang sudah jatuh cinta padaku, Petra?"

Aku seketika berbalik, menatapnya dengan dagu terangkat tinggi, berusaha tak terlihat terpengaruh meski jantungku berdetak lebih cepat.

"Aku benar-benar jatuh padamu, Dimas." ucapku sengaja dibuat dramatis.

Dimas menatapku lama, seperti menahan sesuatu yang tak terucapkan. Bahkan saat kami tiba di basement apartemen, ekspresinya masih sulit ditebak. Aku mencuri pandang, memperhatikan profil wajahnya dalam keheningan.

Saat aku akhirnya akan turun dari mobil, aku mendengar Dimas mengembuskan napas panjang.

"Kau masih tidak mempercayaiku?" tanyaku, mencoba memahami pikirannya.

Ia tetap diam, tapi kemudian aku mendengar suaranya, pelan namun dalam, "Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap di sampingku setiap waktu, tapi aku hanya ingin memastikan kalau kau melakukan ini dengan sungguh-sungguh, Petra."

Aku menggigit bibir bawahku.

"Cemburu sejelas ini saja kau belum membacanya, apa kau perlu kacamata supaya bisa melihatnya?" lanjutnya, kali ini dengan nada lebih rendah.

Aku tersenyum kecil. "Maaf, aku membuatmu ragu. Kita sama-sama belum terbiasa dengan ini, Dimas," ucapku jujur. "Aku masih belum bisa menurunkan egoku."

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang