Maaf ya baru update sekarang!
Aku tahu kalian pasti udah nungguin kelanjutan cerita ini, dan aku beneran appreciate kesabaran kalian. <3
Update kali ini bakal bawa kalian ke bab yang cukup emosional—dan panas juga wkwk. Jadi, siapin mental, siapin hati, dan yang paling penting... jangan baca pas puasa BUAHAHAHAH.
Happy reading!
Petra POV
Suasana berubah tegang. Tubuhku membeku di tempat.
Dimas? Kenapa pria itu ada di sini? Bukankah ia sedang rapat di kantornya?
Aku melirik Tara, aku bisa melihat ekspresi terkejut yang sama di wajahnya, meski aku yakin cara kami memandang situasi ini berbeda. Tara mungkin berpikir bahwa Dimas marah karena ia mendekatiku sebagai adik Dimas, bukan sebagai istrinya.
Namun, dalam sekejap, Tara terlihat kembali tenang. Ia bahkan bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Dimas dengan sikap santai—meski mata kami bergantian saling menatap.
"Selamat sore, kau pasti Kakak Petra, kan? Maaf, aku datang tanpa izin," ujar Tara dengan nada yang terasa ringan, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mencoba mencairkan suasana.
Dimas tetap diam, tetap menatap kami tanpa ekspresi. Aku menurunkan pandangan, memperhatikan kepalan tangannya yang terlihat seperti siap meledak.
"Aku hanya ingin berteduh sebentar karena di luar sedang huj—" Tara belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dimas langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Tara.
Tara jatuh tersungkur ke lantai, pukulan itu tak berhenti begitu saja. Aku bisa mendengar suara Tara yang merintih kesakitan ketika Dimas menghujaninya dengan pukulan, menahan rasa sakit yang terdengar di setiap helaan napasnya.
"You dumbass boy! How can you confess your love to a girl who already has a husband?!" teriak Dimas, amarahnya meluap.
Dimas mencengkeram kerah Tara dengan brutal, menariknya begitu dekat hingga wajah mereka nyaris bertemu. Aku bisa melihat urat di lehernya yang menegang, wajahnya merah padam.
Aku berusaha menarik tubuh Tara menjauh dari pukulan Dimas. Tapi Dimas tidak mengalah. Ia terus mendekat, dan aku akhirnya mendorong dada Dimas, berusaha menahan tubuhnya agar mundur.
"Dimas! Berhenti!" teriakku, mendorong tubuhnya mundur beberapa langkah. Pandanganku beralih pada Tara yang kini terkulai lemah di lantai, wajahnya memprihatinkan. Hatinya pun jelas terluka.
Dimas menatapku tajam, sambil berkacak pinggang. "Kenapa, Petra? Kau menerima pernyataan cintanya? Oh, aku tak menyangka kau bisa seperti ini," katanya dengan nada yang penuh kekecewaan. Sisi dominannya penuh kontrol, menuntutku untuk menjawab.
Aku mundur selangkah, mencoba menghindarinya.
"Kenapa, hm? Kau terkejut melihatku di sini? Apa mungkin kalau aku datang terlambat, kau akan menerima pernyataan cintanya dan... making love in front of me?"
Aku tetap diam, menutup mulut, tidak mau menambah ketegangan yang sudah memuncak.
"Apa kau malu memiliki suami sepertiku, Petra?!" Dimas bertanya, suaranya penuh dengan luka yang tersembunyi di balik amarahnya.
Aku bisa merasakan kata-katanya seperti jarum yang menembus jantungku. Aku tak langsung menjawab, hanya menatap lantai, merasa seperti semuanya mulai runtuh di sekitarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romansa21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
