chapter 21

9.7K 334 7
                                        

Happy reading!

Petra POV

"Petra," panggil Dimas.

Aku berdeham, berusaha menenangkan diri. "Hmm?"

"Can I kiss your lips?"

Darahku seolah berhenti mengalir sesaat. Refleks, aku kembali menatap Dimas, memastikan apakah aku tidak salah dengar. Namun, yang kutemukan hanyalah sorot mata gelapnya—terlalu dalam, seakan menghisap seluruh kesadaranku.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada polos, seakan itu hanyalah pertanyaan biasa.

Aku menelan ludah, jantungku berdebar tidak karuan. "Selama ini, kau tidak pernah melakukannya padaku dengan meminta izin lebih dulu," gumamku.

Dimas mengangkat sebelah alisnya. "And?"

"Rasanya... aneh," lirihku, lebih kepada diri sendiri.

Dimas berdecak pelan. "Baiklah."

Sebelum aku bisa merespons, tubuhnya sudah bergerak. Napasku tertahan ketika ia tiba-tiba menarik wajahku mendekat, lalu tanpa peringatan, bibirnya menempel di bibirku. Tidak ada jeda, tidak ada ruang bagi otakku untuk memproses.

Bibirnya bergerak, melumat bibirku perlahan, seakan mencicipi sesuatu yang manis dan menggoda. Awalnya lembut, tapi dengan cepat berubah menjadi dalam dan menuntut. Saat bibirku terbuka karena terkejut, lidahnya menyelinap masuk, mengekspolarasi setiap sudut mulutku tanpa ragu.

Aku tersentak. Seharusnya aku menolak. Seharusnya aku mendorongnya. Tapi Dimas tidak memberiku pilihan.

Tanganku memukul dadanya, mencoba meronta, tapi tubuhnya terlalu kokoh. Tangan besarnya menekan punggungku, menjagaku tetap dalam dekapannya, memastikan aku tidak bisa pergi ke mana pun.

Desahan samar keluar dari tenggorokanku ketika ia memperdalam ciumannya, seakan ingin menandai setiap inci dariku sebagai miliknya.

Aku akhirnya berhasil menarik wajahku ke belakang, napasku memburu. "Kau ingin membunuhku?" protesku dengan suara terengah-engah.

Dimas hanya tertawa, tawa rendah yang mengguncang dadanya, membuat getarannya terasa di kulitku. "Bibirmu membuatku mabuk, Petra."

Aku mengepalkan tangan, berusaha mengabaikan sensasi aneh yang masih berdenyut dalam tubuhku. "Aku tidak peduli! Sekarang lanjutkan pekerjaanmu!" bentakku, wajahku masih terasa panas.

Dimas tersenyum miring. Sebelum melepasku, ibu jarinya mengusap sudut bibirku yang basah, menyeka jejak ciumannya sendiri.

"Aku akan lanjut bekerja," bisiknya dengan suara serak. "Tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku ingin mencicipimu lagi."

Aku langsung berdiri, berbalik, dan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.

Aku bisa merasakan tatapan Dimas masih membakar punggungku hingga aku menghilang dari pandangannya.

•••

Selama Dimas kembali fokus pada pekerjaannya, aku kembalu bersandar di dada bidangnya. Aroma khasnya menguar lembut, bercampur dengan wangi maskulin yang familiar. Sesekali aku meliriknya yang serius mengamati sederet angka dan kata di monitor, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.

Tiba-tiba, suara beratnya memecah keheningan.

"Sekarang aku berpikir kalau menghabiskan sisa usiaku denganmu sepertinya bukan ide yang buruk."

Aku menoleh. "Apa maksudmu?"

Dimas mengusap punggung tanganku dengan lembut. "Aku masih belum percaya kita benar-benar akan menikah," gumamnya.

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang