chapter 27

7.2K 224 15
                                        

Petra POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Petra POV

Aku duduk di samping Dimas di dalam pesawat, mencoba menenangkan debaran jantungku yang masih belum stabil sejak pria itu menyeretku begitu saja ke bandara. Aku bahkan tidak tahu tujuan kami. Semua terasa terlalu mendadak, seperti Dimas sengaja menutup rapat rencana ini dariku.

Tadi, saat kami tiba di bandara, aku sempat mengira ini hanya perjalanan domestik. Mungkin ia ingin membawaku ke Bali atau tempat lain yang masih masuk akal dalam kepalaku. Tapi semua mulai terasa aneh saat Dimas menarikku melewati antrean keberangkatan internasional.

Aku ingat bagaimana jari-jarinya menggenggam erat pergelangan tanganku, tidak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Tatapannya tetap lurus ke depan, tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya saat ia menyerahkan dokumen ke petugas.

Dokumen yang bahkan aku tidak tahu kapan ia mengurusnya.

Aku sempat menatap namaku di tiket dan paspor yang ia berikan, tetapi sebelum sempat membacanya dengan saksama, Dimas sudah menarikku lagi, membawaku melewati pemeriksaan imigrasi tanpa menjelaskan apa pun.

Jantungku berdebar lebih cepat.

Ini bukan perjalanan dekat.

Aku bisa merasakannya saat kami melewati jalur pemeriksaan, saat petugas bandara berbicara dalam bahasa Inggris yang terdengar fasih di telingaku, dan saat Dimas mengulurkan paspor baruku seolah ini bukan pertama kalinya ia mengurus hal seperti ini.

Aku ingin bertanya, tapi sesuatu dalam diri Dimas membuatku menahan diri.

Tatapannya terlalu tenang. Terlalu yakin.

Seakan ia sudah merencanakan ini jauh sebelum aku sempat menyadarinya.

Aku hanya bisa mengikuti langkahnya, jari-jariku mengepal erat tali tas pundakku saat kami melewati gerbang keberangkatan. Aku tidak tahu apa yang lebih membuatku takut—fakta bahwa aku tidak tahu akan dibawa ke mana, atau fakta bahwa aku tidak bisa menemukan alasan untuk menolak.

•••

Sekarang, setelah duduk berdampingan di kursi pesawat, pikiranku masih berusaha mencerna semua yang terjadi.

Aku melirik sekeliling. Kabin kelas bisnis ini terasa lebih lega dibanding yang pernah kulihat sebelumnya, dengan pencahayaan temaram yang menciptakan atmosfer hangat. Kursinya besar, lebih nyaman dari yang kubayangkan, dan suara rendah para pramugari yang melayani penumpang menambah kesan mewah yang entah kenapa terasa asing bagiku.

Aku menoleh ke luar jendela. Landasan pacu sudah terlihat dari sini, dengan lampu-lampu yang berbaris rapi di sepanjang jalur pesawat. Aku menelan ludah, firasatku semakin kuat.

Ini bukan perjalanan dekat.

Aku merapatkan tubuh ke sandaran kursi, berusaha menemukan kenyamanan di tengah ketidakpastian ini. Tapi bagaimana bisa aku merasa nyaman, jika pria di sampingku masih tetap bungkam, membiarkanku menebak-nebak ke mana ia akan membawaku?

His touch, Her desireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang