Happy reading!
Dimas POV
"Apakah dia masih mengingatmu?"
Suara Harry menelusup ke dalam pikiranku. Aku mengerjap, mencoba menarik kembali kesadaranku yang mengapung di antara masa lalu dan kenyataan.
"Sepertinya tidak," aku akhirnya menjawab. Aku menatap rak-rak toko dengan kosong, meski pikiranku jelas tak berada di sini. "Apa yang bisa diingat oleh seorang gadis delapan tahun selain nama mainan dan tokoh kartun yang ia suka?"
Aku mencoba meredam dentuman halus di dadaku. Satu pertanyaan dari Harry saja cukup untuk mengguncang ketenanganku.
Paman Andrew.
Petra.
Pernikahan.
Tidak, aku tidak ingin berpikir ke arah itu. Aku menekan perasaan yang muncul, memaksa diriku untuk tetap fokus pada sesuatu yang lebih nyata.
"Jadi, untuk apa kau memintaku datang kemari? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanyaku, berusaha mengalihkan pikiranku sendiri.
Harry melipat tangannya, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. "Satu bulan lagi ada acara makan malam di rumah orang tuaku. Perayaan ulang tahun pernikahan mereka," katanya santai. "Aku sangat malas sebenarnya, tapi mereka tidak memberiku pilihan."
Aku berdecak. "Lalu kenapa kau mengatakannya sekarang? Acara itu masih lama, Harry."
Harry mendesah seperti seseorang yang tengah berhadapan dengan anak kecil yang keras kepala. "Karena aku tahu kau selalu menenggelamkan diri dalam pekerjaanmu. Kalau aku tidak memberitahumu sekarang, bisa-bisa nanti kau menghindar dengan alasan sibuk."
"Aku akan berusaha datang," balasku mengangguk ringan.
"Aku tidak menerima penolakan! Kau harus datang! Dasar workaholic!"
Aku hanya terkekeh, lalu memutuskan untuk berbalik menyerangnya dengan topik yang lebih menarik. "Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Laura?"
Cara Harry memandangku berubah. Ada ketegangan di sana—ketakutan, mungkin.
Laura.
Aku mengikuti arah mata Harry. Laura, gadis itu berdiri di belakang meja kasir, tubuhnya yang mungil bergerak cekatan, tangannya menyusun barang belanjaan dengan cepat namun tetap penuh konsentrasi. Aku melihat bagaimana helaian rambutnya sedikit menempel di pelipisnya yang berkeringat, bagaimana bibirnya sedikit terbuka saat ia menarik napas di antara pekerjaannya yang tak ada habisnya.
Aku mengerti. Aku mengerti kenapa Harry menyukai gadis itu. Laura seperti angin sepoi-sepoi di siang yang terik, sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang bisa membuat seseorang betah berlama-lama menikmati kehadirannya.
Daya tarik Laura begitu halus, hampir tak kentara, tapi ia menarik perhatian dengan caranya sendiri. Ada sesuatu dalam cara Laura bekerja—bukan karena ia mencoba terlihat seperti itu, tetapi justru karena ia tak sadar bahwa gerakan sederhana yang ia lakukan bisa begitu menarik perhatian Harry.
Jika Laura seperti aroma teh hangat yang menenangkan, Petra lebih seperti segelas bourbon yang langsung membuatku kehilangan kembali sepenuhnya.
Setiap orang memiliki cara pandang dan tipe yang berbeda. Beberapa orang jatuh cinta pada ketenangan, sementara yang lain—sepertiku—membiarkan diri mereka terseret oleh badai. Petra adalah badai yang mengacaukan segalanya. Dan aku? Aku lebih suka tenggelam dalam badai daripada sekadar menonton dari jauh.
Harry menelan ludah. Aku bisa melihatnya jelas.
"I don't know," ia akhirnya berkata. "Aku terlalu takut untuk mengatakan itu padanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
