Happy Reading!
Petra POV
Di sepanjang perjalanan menuju tempat yang akan menjadi rumah sementaraku, keheningan menggantung seperti selimut tebal di antara aku dan Dimas. Hanya suara mesin mobil yang mengisi udara, sesekali diiringi derit halus ban ketika dia memutar kemudi. Udara di dalam mobil terasa sedikit hangat, meskipun AC menyala. Atau mungkin itu hanya efek dari kehadirannya, dari energi yang dia bawa ke dalam ruangan sempit ini.
Aku melirik ke samping, memperhatikan profil wajahnya. Rahangnya yang tegas, bibirnya yang sesekali mengatup dengan keras, serta sorot matanya yang tajam menatap jalan membuatnya terlihat begitu... intens. Ada sesuatu yang mendominasi dalam sikapnya, sesuatu yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. Aku tidak tahu apakah ini karena kelelahan yang menumpuk atau karena dia.
Sesekali Dimas mengetukkan jarinya ke setir, menciptakan ritme kecil yang tak beraturan. Tatapannya tak pernah berpaling dari jalan, tapi aku bisa merasakan kehadirannya, seolah tubuhnya memancarkan panas yang bisa kurasakan bahkan dari jarak ini. Saat aku mencuri pandang lebih lama dari seharusnya, aku sadar ada lekuk senyum kecil di bibirnya—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuatku ingin tahu apa yang dia pikirkan.
Saat mata kami akhirnya bertemu, aku buru-buru memalingkan wajah, tapi sudah terlambat. Senyumnya kini berkembang, lebih jelas, dan aku mendengar suara rendahnya, hampir seperti bisikan, "Kalau kau ingin menatapku, Petra, lakukan saja. Jangan mencuri-curi pandang seperti itu."
Kata-katanya membuat wajahku panas, detak jantungku melonjak tak terkendali. Aku mencoba menyembunyikan rasa malu dengan berpura-pura fokus pada pemandangan di luar jendela. Tapi di balik kaca mobil, hanya ada lampu jalan yang melintas cepat, seperti bayangan buram dari pikiranku yang semakin kacau.
"Kau lelah?" tanyanya tiba-tiba, suaranya dalam, tapi ada kelembutan di sana yang tak kusangka-sangka.
Aku menggeleng kecil, meskipun tubuhku sudah terasa berat, dan mataku mulai sulit untuk tetap terbuka. "Tidak," jawabku pelan, tapi suaraku terdengar serak, hampir seperti bisikan.
Dia mengulurkan tangan, dan sebelum aku bisa menghindar, dia sudah mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi caranya melakukannya—begitu santai namun begitu intim—membuat tubuhku menegang. "Istirahat saja. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang."
Aku menelan ludah, mencoba mengabaikan kehangatan yang menjalar dari tempat tangannya menyentuhku. "Aku... lapar," gumamku pelan, hampir tak terdengar.
Dia menoleh sekilas, matanya yang gelap menatapku penuh perhatian. "Kenapa kau tidak kataka dari tadi?" tanyanya, nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Kau ingin makan apa? Sushi? Steak? Atau ingin mencoba makanan Indonesia? Aku yakin kau akan suka."
"Terserah," jawabku singkat, meskipun jauh di dalam hati, aku ingin dia yang memilihkan sesuatu untukku.
Dia mengangkat satu alis, senyum tipis terulas di bibirnya. "Terserah, ya?" ulangnya, nada suaranya terdengar hampir seperti godaan.
Aku mengangguk, mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap tanganku sendiri, tapi kehadirannya begitu nyata, begitu mendominasi, hingga aku tak bisa benar-benar fokus.
"Oke," katanya akhirnya, sambil menurunkan kecepatan mobil. "Aku akan cari tempat yang nyaman untuk kita makan. Kau butuh energi setelah perjalanan panjang ini."
Aku hanya bisa mengangguk, lega karena dia tak lagi menggodaku. Tapi saat dia melirik kanan dan kiri, matanya fokus mencari restoran terdekat, aku justru sibuk memperhatikannya. Cara tangannya menggenggam setir, garis tegas di rahangnya yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan, bahkan cara matanya menyipit saat membaca tanda restoran di kejauhan—semua detail itu memikatku dengan cara yang sulit kujelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romantik21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
