Happy reading!
Author's Note:
Bab ini... panas. Beneran.
Dimas can't hold back anymore. So...
you know where this is going.
Petra POV
"I can't fucking take it anymore, Petra."
Dimas bersuara dalam, berat oleh hasrat yang tak lagi bisa ia jinakkan. Ia kembali membungkam bibirku dengan ciuman yang lebih liar—lebih buas. Tidak ada lagi kendali. Tidak ada lagi batas.
Lidahnya menelusuri setiap lekuk mulutku seakan ingin mengukirkan namanya dalam diriku. Tangannya menyusup masuk ke balik bajuku, meremas payudaraku tanpa ampun, aku meringis dan mengerang bersamaan.
"Kau membuatku gila, Petra." Gumamnya di sela desahan. "Kau tahu. Setiap kali kau memilih diam dan bersikap tidak menginginkannya... your body's screaming louder than your lips ever could. It says it all, sweetheart."
Dimas tiba-tiba mencengkeram pinggulku, tubuhku menyentak ketika kejantanan kerasnya yang masih terbungkus celana kembali menekan lebih dalam di antara pahaku. Kali ini, ia menggeseknya kasar, membuat sensasi terbakar menyebar ke seluruh tubuhku.
"Dimas..." aku nyaris tidak mengenali suaraku sendiri.
Napasnya memburu, mata gelap itu menatapku penuh api yang selama ini tersembunyi.
"Kau ingin aku berhenti, Petra?" tanyanya, tapi tangannya tak berhenti menyusuri kulitku yang mulai basah oleh keringat.
Aku tidak menjawab.
Dimas menunduk. Bibirnya langsung memburu leherku, mencumbuku dengan rasa haus yang menguasainya. Giginya menggigit kulitku, lidahnya menjilat setiap inci kulitku yang terbuka seolah mengklaim— aku memang miliknya.
"Fuck, Petra..." desisnya, menggigit kulitku.
Tangannya meremas pahaku, lalu menarik wajahku agar menatap matanya.
"You want dirty talk, sweetheart?" bisiknya tepat di telingaku. "I'll give you dirty."
Tubuhku gemetar. Entah karena rasa takut, gairah, atau keduanya.
Dimas menekan miliknya lebih keras ke arahku, kejantanan itu kini benar-benar menggila.
Jari-jarinya menyusup ke balik celanaku, menyentuhku langsung—tanpa penghalang. Tubuhku menegang, desahan lolos dari bibirku.
Dimas mengerang rendah. "You're already so wet, Petra." Ia terkekeh pelan, rendah, seperti sedang menikmati pemandangan paling memuaskan di hadapannya. "Dan kau masih bersikap seolah kau tidak menginginkannya?"
Jemarinya yang semula diam kini bergerak, membuatku meringis pelan karena sensasi yang ia buat. Sentuhannya lembut, namun ia tahu persis bagaimana menekan titik-titik yang membuatku kehilangan arah.
Aku menarik napas, berusaha mengatur detak jantungku yang memburu.
Dimas menatapku dari atas, masih dengan matanya yang gelap dan penuh gejolak. Napasnya tak beraturan, tapi bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang entah kenapa membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Let the part of you that wants me win tonight," gumamnya rendah, seperti bisikan setan di telingaku.
Aku hampir terlonjak ketika satu jarinya mendadak memasukiku, namun belum sempat aku berontak, ia segera menahanku.
Jemarinya mulai bergerak perlahan, kemudian semakin dalam, semakin cepat, ia tahu aku tidak akan bisa melawan ini terlalu lama.
"You're trembling," gumamnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romansa21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
