Happy Reading!
Hai! Mau tanya dong, kalian pembaca baru atau sudah lama ngikutin cerita ini? Kalau baru, selamat datang di cerita Dimas dan Petra!
Kalau sudah lama, tenang aja, ini bukan cuma republish kok! Aku udah revisi beberapa bagian dan perbaikin hal-hal yang terasa aneh pas aku baca ulang sekarang, hehe.
Petra POV
Dimas merengkuhku erat hingga tak ada lagi jarak di antara tubuh kami. Punggungku menyatu dengan dadanya yang kokoh, dan kehangatan tubuhnya menembus pakaian yang kukenakan, menyisakan sensasi aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan napasnya yang berat terasa di ubun-ubunku, mengalir lembut seperti bisikan tak bersuara.
Aroma tubuhnya yang maskulin begitu kentara, sebuah perpaduan antara cedarwood dan musk, menyeruak memenuhi ruang kecil di antara kami, membuat udara terasa lebih berat. Jantungku berdegup kencang, nyaris memekakkan telinga sendiri.
Aku belum pernah sedekat ini dengan seorang pria selain Jevin dan Ayah. Ada sesuatu yang asing di dalam keintiman ini, sesuatu yang membuat tubuhku kaku, seolah takut bergerak.
"Tetap diam," suaranya rendah, menggetarkan seluruh saraf di tubuhku.
Dimas menundukkan wajahnya, dagunya dengan lembut bersandar di puncak kepalaku. "Sekarang kau tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, Petra," katanya, ada nada licik yang membuatku tersadar dari kebisuan.
Aku tidak tahu apakah seringaian itu masih bertahan di bibirnya, tetapi pelukannya justru semakin erat. Dua lengan berototnya membungkus tubuh kecilku dengan posesif, membuatku merasa seperti terperangkap. Bahkan, aku mulai kesulitan bernapas, aku tidak tahu apakah itu karena pelukannya atau perasaan gugup yang menjalar cepat ke seluruh tubuhku.
Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menguasai diri. Namun, diamku justru mengundang komentar. "Kenapa?" tanya Dimas dengan nada mengejek, "Gugup?"
Sebelum sempat memikirkan jawaban, Dimas memutar tubuhku dengan satu gerakan cepat hingga aku berdiri menghadapnya. Wajah kami hanya terpaut beberapa sentimeter, dan untuk pertama kalinya aku menyadari betapa tajam sorot matanya. Mata itu memandangku seolah-olah aku adalah buku terbuka, dan ia membaca setiap halaman tanpa izin.
Aku tidak menjawab, lidahku kelu. Hanya tatapan kami yang saling terkunci, sebuah dialog tanpa kata yang terasa lebih dalam dari apapun. Detik itu, aku menyadari bahwa aku telah memasuki wilayah yang tidak kukenal, sebuah batas tipis antara ketertarikan dan ketidakberdayaan.
"Apa itu gugup?" jawabku dengan suara yang kugunakan untuk menutupi kegelisahan, meskipun aku tahu itu terdengar sumbang.
"You're too confident, Sir." Aku berusaha mengangkat alis dan tersenyum mengejek, walau dalam hati aku sedang bertarung dengan rasa panik yang menjalar seperti api liar.
Dimas memiringkan kepalanya sedikit, sorot matanya tak berubah, tetap intens. "Really?" tanyanya pelan, suara rendahnya hampir seperti desahan.
"Yes!" balasku, mencoba terdengar meyakinkan.
Dia mengangguk kecil, senyumnya semakin lebar. "Okay... What if this confident man wants to kiss you?" katanya, suara rendahnya terasa seperti godaan yang langsung menghantam sistem pertahananku.
Aku tersentak, tangannya bergerak cepat ke tengkukku, menarikku lebih dekat. Aku mencoba berontak, tubuhku meronta untuk keluar dari genggamannya, tetapi gerakanku justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Rengkuhannya terlepas, aku pun terjatuh ke lantai, bokongku mendarat dengan bunyi yang cukup keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Romance21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
