Happy reading!
Petra POV
Jarum jam di dinding sudah melewati angka dua, tapi pintu apartemen itu masih tertutup rapat. Aku duduk di sofa, menatap lurus ke arah pintu dengan harapan kosong bahwa sebentar lagi gagangnya akan berputar, dan Dimas akan masuk seperti biasa.
Tapi tidak.
Aku sudah menyalakan layar ponsel entah untuk yang keberapa kali. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan terjawab. Aku mengetuk layar lagi, berharap notifikasi muncul, tapi yang kulihat hanya bayangan wajahku sendiri di layar hitam itu—mata sembab, bibir sedikit terbuka, napas memburu karena terlalu lama menangis.
Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, menggigit bibir kuat-kuat, mencoba menahan tangis yang sudah hampir kering.
Ini salahku.
Aku meragukannya. Sulit percaya padanya. Aku terlalu takut, terlalu banyak mempertanyakan hubungan ini. Aku yang selalu mencari celah untuk melindungi diri, tapi justru aku sendiri yang menghancurkan semuanya.
Kutarik napas dalam, lalu kembali mengetik.
Me
Dimas, aku mohon... pulang.
Hanya empat kata. Aku tahu betul kemungkinan dia akan mengabaikannya, tapi aku tetap menekan tombol kirim, berharap sesuatu—apa pun—akan mengubah pikirannya dan membawanya kembali malam ini.
Kepalaku bersandar ke sandaran sofa, mataku terasa berat tapi pikiranku menolak diam. Aku memejamkan mata, tapi bayangan itu langsung muncul—tangan Dimas yang panas menelusuri kulitku, bibirnya yang kasar mencumbu wajahku tanpa ampun, dan tubuhnya yang menekan milikku dengan penuh hasrat. Aku bisa merasakan betul bagaimana ia hampir kehilangan kendali.
Aku menggeleng, bangkit dari sofa dengan langkah gontai. Kaki-kakiku terasa berat saat aku menyeret tubuhku ke kamar. Aku ingin tidur. Aku ingin ini semua hanya mimpi, ingin terbangun dan menemukan Dimas di sampingku—mendekapku dari belakang, mencium leherku seperti biasa, lalu berbisik dengan suara seraknya yang terdengar seksi di telingaku.
Tapi aku tahu, keinginanku terlalu naif.
•••
Satu suara benturan keras membuat mataku terbuka lebar.
Aku terduduk di ranjang, napasku tak beraturan. Dadaku naik turun, telingaku menangkap suara samar langkah kaki dari luar, diikuti bunyi gesekan halus seperti ada sesuatu yang sedang diseret di lantai.
Aku menoleh ke arah jendela. Langit di luar masih pekat. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, menciptakan bias cahaya yang tak cukup menerangi ruangan. Aku meraba nakas, mencari ponsel dengan tangan gemetar, lalu menyalakan layar. Jemariku bergerak refleks, hampir saja menekan tombol panggil ke nomor Dimas yang sejak tadi ingin kudengar suaranya, tapi aku tidak jadi melakukannya.
Aku menggigit bibir, lalu turun dari ranjang. Langkahku pelan, penuh hati-hati saat membuka pintu kamar dan mengintip ke luar. Lorong apartemen masih dalam kegelapan, hanya ada satu lampu sudut yang menyala redup di dekat ruang tengah. Udara malam terasa dingin, menusuk kulitku saat kakiku telanjang menyentuh lantai marmer.
Aku melangkah ke depan, jantungku berdebar tak beraturan.
Ruang tamu tampak kosong. Sofa tempatku menunggu Dimas tadi masih berantakan, selimut kecil yang sempat kupakai tergeletak di lantai. Aku menoleh ke arah meja makan, ke arah sudut-sudut apartemen yang mungkin bisa menyembunyikan sosok yang kucari—tapi yang ada hanya kesunyian.
Lalu aku mendengar sesuatu.
Aku berbalik cepat, menajamkan pandangan ke arah dapur. Diterangi cahaya dari kulkas yang sedikit terbuka. Bayangan seseorang tampak di sana—tinggi, bersandar di kulkas dengan satu tangan menggenggam botol berbahan kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
His touch, Her desire
Roman d'amour21+ Jarak usia yang cukup jauh membuat Dimas tak pernah menganggap Petra sebagai lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Namun, ketika mereka bertemu kembali, waktu telah mengubah segalanya. Petra tumbuh menjadi gadis yang berhasil meruntuhkan perta...
