...
Langit berlari tergesa menghampiri seseorang yang kini tersenyum tipis ke arahnya.
Hatinya bergemuruh, matanya memanas ketika satu kalimat terlontar dari mulut seseorang yang lebih tua di depannya.
Perasaan lega bercampur haru ia rasakan ketika mendengar jika sang kakak tercinta sudah berhasil melewati dinginnya meja operasi.
"Kakak kamu orang yang kuat, dia tidak akan kalah begitu saja hanya karena teman yang sudah sepuluh tahun ini menemaninya" Ujarnya sambil menepuk bahu langit yang kini terlihat turun tanpa semangat.
"Lang" panggil seseorang yang kini terlihat berjalan menghampiri sang putra sebelum dekapan ia dapatkan.
"Pih," suara langit kembali bergetar menandakan rasa takut yang masih menggerogoti hatinya tanpa ampun.
"Nggak papa, semua akan baik baik saja, dia cuma koma, bukan mati" ujar damar enteng membuat Herman naik pitam.
"Lu bapaknya bukan sih?" Sengit Herman dengan mata memicing tajam.
Damar mengangkat satu alisnya menanggapi pertanyaan Herman, lantas mengangkat bahunya tak perduli.
Herman tertawa sumbang, dan membuang pandangannya sembari menghalau air mata yang ingin kembali merangsek keluar, Herman pikir akhir akhir ini ia sangat akrab dengan air mata.
"Brengsek" gumamnya.
"Udah bener mati aja lu hu, percuma hidup juga bapak lu kaya bajingan" lirih Herman sebelum pergi meninggalkan dua anak ayah itu Meninggalkan penyebab munculnya rasa sakit yang kini menyerang hatinya.
Sedangkan di sisi lain, langit mulai menjauh dari sang ayah, tak ada yang bisa ia harapkan, sang ayah masih sama, sosok lelaki dewasa dengan hati se keras batu.
"Mau kemana?" Sebuah suara terdengar menginterupsi ketika langit mulai melangkah menjauh.
"Langit mau liat bang Rakha" jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah sumber suara, masa bodoh dengan sopan santun, langit tak perduli, toh tidak semua orang yang lebih tua pantas di hormati dengan perilakunya.
Dan langit rasa, sang ayah tak begitu pantas ia hormati dengan kelakuannya yang tega membuang anak kandungnya sendiri.
Meski Rakha bukanlah kakak kandungnya, tapi rasa sakit akan perbuatan sang ayah sedikit mampu menyentil hatinya.
"Langit, papih harap kamu bisa melupakan Rakha" celetuk damar membuat langit terhenti dari langkahnya kemudian menoleh dengan alis mengerut.
"Maksud papih?"
Damar membuang nafasnya kasar.
"Farhan akan membawanya pergi" ujarnya.
Mata langit sedikit melebar mendengar pernyataan dari sang ayah.
"Kenapa?" Tatapan langit mulai mengabur karena air mata yang tergenang.
"Karena kami telah memiliki perjanjian, sampai dimana Rakha mau operasi, maka Farhan akan membawanya"
Langit menggeleng sebelum memutar tubuhnya dan berlari dengan cepat menuju ruang rawat sang kakak.
Ini gak boleh terjadi, bang Rakha harus disini sama gue, bagaimanapun caranya.
Sesampainya di ruang rawat Rakha, langit melihat om Farhan bersama Kelvin yang kini tengah duduk di tepian bangsal milik Rakha.
Langit tak mendapati Bagas dan keluarganya, mungkin mang Herman terlampau kecewa terhadap sang ayah membuat mereka pergi bahkan tanpa mengatakan apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
