Bersama Hujan ep31

451 55 18
                                        

...

Bukk!!

Beberapa pukulan Jun layangkan pada pemuda yang kini berlutut di depannya. Dengan senyuman remeh Jun melayangkan tendangan di dada langit, membuat anak itu tersungkur di lantai gedung yang kotor.

"Bos, kayaknya udah, bisa mati tu bocah"

"Belum, gue belum liat dia nangis" 

Langit terkekeh, "lu gak bakal liat gue nangis Bangs*t!! Air mata gue terlalu berharga buat orang kaya Lo" desis langit.

Bukk, brakkk!!

Jun melayangkan balok kayu ke punggung langit membuat anak itu batuk darah.

Unhuk!! Langit meringis menahan sakit.

"Tapi sayang sekali, nyawa Lo ada di tangan gue," Jun menyeringai begitupun langit.

"Kenapa tertawa? Apa hidup Lo se lucu itu buat gue akhiri?" Jun menjambak rambut langit, membuatnya mendongak, mata mereka bertubrukan.

"Bunuh aja gue Bangsat!!"

Jun menjauh kemudian mengambil sebuah balok yang ada di pojok ruangan, namun, sebelum balok itu melayang dan menghantam ke tubuh langit, suara geberan motor terdengar, sontak mereka yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara, di sana, di ujung lorong, seseorang dengan motornya melaju sangat cepat setelah sebelumnya menabrak sebuah jendela hingga pecah.

Jun dan anak buahnya sontak menghindar, menepikan tubuh mereka.

Rakha, si pengemudi motor itu berhenti tepat di depan langit yang sudah terduduk dengan wajah penuh darah, tangan kanan dan kirinya di cekal oleh dua pria berbadan kekar.

Rakha turun dari motornya kemudian menatap Jun yang kini terdiam.

Mata Rakha memerah penuh dengan kemarahan.

"Siapa Lo??" Jun mengerut kan alisnya menatap tanya pada seorang pemuda yang kini telah turun dari motornya.

Rakha tak menghiraukan pertanyaan Jun, lebih memilih menghampiri langit, dan menghajar dua pria bertubuh kekar yang sebelumnya mencekal kedua lengan langit, ketika dua pria itu tumbang, Rakha menghampiri langit namun tak menyentuh, hanya mengamati.

"Jangan sentuh gue" sinis langit sembari menatap tajam Rakha.

"Gue nggak-" perkataan Rakha terpotong ketika tiba tiba pukulan  dari balok kayu menghantam punggung nya.

"Bangsat!!" Rakha membalikkan tubuhnya sebelum kakinya melayang menghantam wajah Jun.

"Gua lagi ngomong sama adek gua sialan!!" Pukulan demi pukulan mereka layangkan, pertarungan yang imbang, mereka sama sama kuat, untuk ukuran preman semacam Jun, ia cukup kepayahan melawan Rakha.

"Heh Lo berdua! Bantuin gua goblok!!" Teriak Jun pada kedua antek anteknya.

"Baik bos!"

Satu lawan tiga, Rakha kewalahan, namun ketika Rakha sudah di batas kemampuan, suara sirine polisi memekakan telinga membuat Jun dan kedua temannya panik.

"Woy, bos, ada polisi, kita kabur!!" Teriaknya pada Jun, namun Jun tetap menatap Rakha tajam.

"Kita belum selesai" ujar nya sebelum pergi berlari bersama kedua temannya.

Dari arah kiri, suara derap langkah kaki menghampiri Rakha juga langit.

"Kalian nggak papa?" Tanya Agam dengan nafas tersengal karena berlari.

"Hu? Mana Jun?" Herman datang bersama Udin.

"Mereka udah pergi mang, mana polisinya?" Tanya Rakha sambil celingukan mencari polisi yang ia pikir ikut bersama Herman.

Bersama Hujan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang